Dewan Yahudi Inggris Cap Partai Hijau Rasis, Ultimatum Koalisi Mengerucut
Baca dalam 60 detik
- Board of Deputies of British Jews resmi menyatakan Partai Hijau Inggris dan Wales sebagai organisasi rasis setelah mosi 'Zionisme adalah rasisme' lolos di kongres partai.
- Keputusan itu mendorong seruan agar partai lain tidak berkoalisi dengan Partai Hijau, dan Partai Buruh sudah memberi ultimatum kepada kelompok lokal yang bekerja sama.
- Pemimpin Partai Hijau Zack Polanski menolak membatalkan mosi, sehingga kebijakan ini berpotensi bertahan hingga 2028 dan memicu perdebatan sengit soal kebebasan berpendapat versus anti-Semitisme.

Board of Deputies of British Jews, organisasi payung komunitas Yahudi terbesar di Inggris, secara resmi menetapkan Partai Hijau Inggris dan Wales sebagai partai rasis. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap mosi kontroversial bertajuk “Zionisme adalah rasisme” yang disahkan dalam kongres partai tersebut awal bulan ini. Keputusan Dewan—yang diambil melalui pemungutan suara 118 berbanding 1—menandai eskalasi ketegangan antara komunitas Yahudi dan Partai Hijau yang selama ini dikenal progresif.
Presiden Board of Deputies, Phil Rosenberg, menegaskan bahwa dengan mengadopsi platform anti-Semit, Partai Hijau telah melampaui batas. “Tidak ada partai politik yang berhak memberi tahu orang Yahudi bahwa bagian inti dari identitas kami—yang berakar pada sejarah, iman, dan kebangsaan ribuan tahun—adalah rasis,” ujarnya. Menurut Rosenberg, mosi tersebut memberi “lisensi politik” bagi prasangka terhadap Yahudi dan mewajibkan kepemimpinan Partai Hijau untuk bertanggung jawab membalikkan kebijakan itu.
Mosi yang disahkan anggota Partai Hijau dalam kongres partai mendefinisikan Zionisme sebagai ideologi yang mendukung “negara Yahudi etnonasionalis di Palestina historis dengan mengecualikan dan/atau mendominasi populasi non-Yahudi.” Definisi ini memicu kecaman luas, tidak hanya dari kelompok Yahudi tetapi juga dari empat anggota parlemen Partai Hijau, dua mantan pemimpin, dan partai-partai oposisi. Sebagai buntut, Board of Deputies mengeluarkan seruan agar partai lain tidak menjalin kerja sama koalisi dengan Partai Hijau di tingkat lokal maupun nasional, kecuali jika kepemimpinan lokal partai tersebut menolak mosi dan berkomitmen membatalkannya.
Partai Buruh, yang saat ini menjalin koalisi dengan sejumlah kelompok Partai Hijau di tingkat lokal, langsung mengeluarkan ultimatum: menolak mosi tersebut atau kehilangan dukungan partai. Sikap ini memperlihatkan bahwa dampak keputusan Board of Deputies tidak berhenti pada tataran simbolik, melainkan merembet ke peta politik praktis di Inggris. Partai Hijau sendiri membantah keras label rasis. Juru bicaranya menegaskan bahwa partai tidak mendiskriminasi pemegang pandangan Zionis dan menolak “karakterisasi mosi dan partai kami” versi Board of Deputies. Mereka juga bersumpah bahwa keputusan ini “tidak akan menghentikan kami bersuara menentang genosida di Gaza dan mendorong sanksi lebih keras terhadap pemerintah Israel.” Israel sendiri berulang kali membantah tuduhan genosida atas operasinya di Gaza.
“Dengan mengadopsi platform anti-Semit, Partai Hijau Inggris dan Wales telah menjadi partai rasis. Kami akan memperlakukannya sebagai demikian.” — Phil Rosenberg, Presiden Board of Deputies of British Jews
Di internal Partai Hijau, kepemimpinan Zack Polanski—yang merupakan keturunan Yahudi—menghadapi dilema. Ia tidak ambil bagian dalam pemungutan suara karena meninggalkan kongres lebih awal untuk berkampanye di pemilihan sela Holborn and St Pancras. Dalam wawancara dengan BBC, Polanski menyatakan keinginannya mengamendemen mosi, namun menegaskan tidak akan membatalkannya. Sikap ini mengunci posisi partai hingga 2028 dan berpotensi mempertajam perpecahan di kubu kiri Inggris.
Bagi Indonesia, polemik ini menjadi cermin bagaimana isu identitas dan kebijakan luar negeri dapat membelah partai politik. Partai Hijau yang selama ini identik dengan agenda lingkungan dan keadilan sosial kini harus berhadapan dengan tuduhan anti-Semitisme yang serius. Sementara itu, komunitas Yahudi di Inggris merasa terpinggirkan oleh narasi yang mereka anggap mendelegitimasi keberadaan negara Israel. Dampak jangka panjangnya bisa terasa pada koalisi lokal dan citra partai di mata pemilih moderat.
Ke depan, tekanan terhadap Partai Hijau akan terus meningkat, terutama jika partai-partai lain mengikuti jejak Buruh untuk menjauh. Pertanyaannya, akankah Partai Hijau mempertahankan mosi kontroversial ini sampai kongres berikutnya, atau justru melakukan koreksi diri demi menjaga koalisi dan elektabilitas? Publik Inggris menanti langkah konkret dari kepemimpinan Polanski.



