Survei CNBC: Pemilih AS Cemas Ekstremisme Lawan Politik, Bukan Sekadar Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Survei CNBC mengungkap 44% pemilih khawatir Trump melampaui batas konstitusi jika Partai Republik tetap berkuasa, sementara 28% takut kebijakan sosialis demokrat jika Demokrat menang.
- Kekhawatiran ini muncul kurang dari dua pekan sebelum pemilu sela 3 November, dengan Demokrat difavoritkan merebut DPR dan bersaing ketat di Senat.
- Ekonomi tetap isu utama, tetapi ketakutan terhadap agenda lawan politik menjadi pendorong polarisasi yang dapat menentukan hasil akhir.

Hanya berselang sebelas hari menuju pemungutan suara 3 November, lanskap politik Amerika Serikat diwarnai oleh ketakutan mendalam antar kubu. Survei CNBC All-America Economic Survey yang melibatkan 1.000 pemilih terdaftar pada 14–18 Oktober menemukan bahwa kecemasan terbesar bukan semata soal harga atau lapangan kerja, melainkan tentang apa yang mungkin dilakukan lawan politik jika memegang kendali Kongres.
Jika Partai Demokrat merebut mayoritas, 44% responden khawatir Presiden Donald Trump akan bertindak melebihi kewenangan konstitusionalnya—sebuah kekhawatiran yang dianut 74% pemilih Demokrat dan 45% independen. Sebaliknya, bila Partai Republik mempertahankan DPR dan Senat, 28% pemilih cemas terhadap penerapan kebijakan Democratic Socialists of America (DSA), termasuk 54% pemilih Republik dan 22% independen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pertarungan ideologis telah bergeser dari perdebatan kebijakan menjadi pertarungan eksistensial.
Kekhawatiran ini tidak muncul di ruang hampa. Iklan-iklan politik menjelang pemilu sela gencar menyerang lawan dengan label ekstrem. Ron Bonjean, strategis Republik dan pendiri ROKK Solutions, menilai hasil survei sebagai cermin polarisasi yang akut. "Apa yang ditakutkan Partai Republik adalah Demokrat akan mengembalikan keadaan seperti era Biden," ujarnya. Sementara itu, Lucas Holtz dari Third Way, sebuah lembaga pemikir tengah-kiri, memperingatkan bahwa Demokrat jangan salah membaca mandat jika ingin mempertahankan terobosan dengan pemilih Latino dan kelas pekerja.
Menariknya, isu ekonomi tetap menjadi prioritas utama ketika responden ditanya secara terpisah tentang masalah terpenting yang dihadapi negara. Keterjangkauan harga menempati peringkat teratas di semua spektrum politik, diikuti korupsi pemerintah bagi Demokrat dan independen, serta imigrasi dan keamanan perbatasan bagi Republik. Namun, ketika diminta memilih kekhawatiran terbesar jika lawan berkuasa, isu-isu ideologis justru mendominasi. Ini mengindikasikan bahwa pemilih tidak sekadar menilai rekam jejak, tetapi juga memproyeksikan ancaman terhadap identitas dan nilai-nilai mereka.
Bagi Indonesia, hasil survei ini menawarkan pelajaran tentang bagaimana ketakutan terhadap lawan politik dapat mengalahkan isu-isu substantif seperti ekonomi. Di tengah tahun politik domestik, retorika yang menebar ketakutan seringkali lebih efektif menarik perhatian daripada diskursus kebijakan yang rasional. Fenomena ini juga mengingatkan bahwa stabilitas politik dan iklim investasi sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan publik terhadap institusi. Ketika polarisasi meruncing, kebijakan ekonomi pun rentan terhambat oleh manuver politik jangka pendek.
"Pemilih benar-benar menginginkan perubahan dari keadaan saat ini, tetapi mereka juga tidak ingin kembali ke cara-cara ketika Demokrat menguasai Washington. Branding di kubu Demokrat sangat buruk, dan tidak juga bagus di kubu Republik," kata Bonjean.
Dengan selisih suara yang tipis, kedua partai menghadapi dilema: terlalu jauh ke kiri atau terlalu jauh ke kanan berisiko kehilangan pemilih moderat. Ke depan, pertanyaannya adalah apakah politik ketakutan akan terus mendominasi, atau akankah muncul kekuatan baru yang mampu menjembatani perpecahan? Yang jelas, pemilu sela 2026 akan menjadi barometer sejauh mana demokrasi Amerika mampu mengelola polarisasi tanpa kehilangan arah.



