Kimi Antonelli Menang di Austin, Gelar Juara Dunia F1 Tinggal Selangkah Lagi
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli merebut kemenangan dominan di Grand Prix Amerika Serikat, mengalahkan Charles Leclerc dan Max Verstappen.
- Strategi satu pit stop yang dijalankan Mercedes terbukti tepat, sementara Verstappen tertahan masalah teknis.
- Antonelli hanya butuh dua poin di Meksiko untuk menjadi juara dunia F1 termuda sepanjang sejarah pada usia 20 tahun.

Kimi Antonelli memenangi Grand Prix Amerika Serikat di Sirkuit of the Americas, Austin, Minggu (19/10/2025), dengan performa yang nyaris tanpa cela. Pembalap Mercedes itu finis di depan Charles Leclerc (Ferrari) dan Max Verstappen (Red Bull), memastikan dirinya tinggal selangkah lagi meraih gelar juara dunia Formula 1 2025. Kemenangan ini menjadi yang kesembilan bagi Antonelli musim ini, namun belum cukup untuk mengunci titel. Ia baru akan resmi menjadi juara dunia termuda dalam sejarah F1 jika meraih minimal dua poin pada seri berikutnya di Meksiko, akhir pekan depan.
Start dari posisi terdepan, Antonelli langsung mengamankan posisinya. Verstappen yang menempati posisi kedua justru mengalami start buruk dan langsung mendapat tekanan dari Leclerc. Pembalap Ferrari itu menyalip Verstappen di tikungan Esses dengan manuver berani, setelah sebelumnya melewati Isack Hadjar. Sementara itu, Lewis Hamilton yang memulai balapan dengan ban soft bekas juga berhasil melewati Hadjar. George Russell mendapat penalti lima detik karena keluar lintasan saat bertahan di lap pertama.
Di depan, Antonelli mengendalikan keunggulan sekitar tiga detik atas Verstappen. Red Bull lantas mengambil risiko dengan memanggil Verstappen masuk pit pada lap 14 untuk mengganti ban soft baru, membuatnya menjalani strategi dua pit stop. Mercedes tidak terpancing dan tetap mempertahankan Antonelli di lintasan dengan rencana satu pit stop. Hamilton yang kesulitan mendapatkan cengkeraman masuk pit untuk ban medium, disusul Leclerc dan kedua pembalap McLaren.
Antonelli akhirnya masuk pit pada lap 25, beralih dari ban medium ke hard tanpa menyentuh ban soft sama sekali. Sementara itu, Verstappen yang sempat memimpin mengalami masalah engine braking dan menyebut mobilnya "tidak bisa dikendarai". Ia terpaksa masuk pit lagi pada lap 32 untuk ban medium, merosot ke posisi kelima, tertinggal 18 detik dari Antonelli.
Dengan ban hard yang lebih lambat, Antonelli mendapat tekanan dari Leclerc. Namun Verstappen tetap menjadi penantang utama. Kedua pembalap Ferrari baru beralih ke ban hard pada sepertiga akhir balapan, yang membuat mereka tertinggal di belakang Verstappen. Untuk bisa mengejar Antonelli, Verstappen harus melewati Lando Norris yang juga menjalani strategi satu pit stop. Pertarungan Verstappen-Norris dimanfaatkan Leclerc yang ban barunya lebih cepat, mendekatkan tiga mobil dengan 10 lap tersisa.
Memasuki lap 47, Verstappen melancarkan serangan terlambat ke sisi dalam tikungan hairpin pertama COTA yang curam, merebut posisi kedua dari Norris. Leclerc juga berhasil melewati Norris. Dengan ban jauh lebih segar, Leclerc kemudian menyalip Verstappen di lintasan lurus belakang pada lap 49 untuk mengambil alih posisi kedua. Kemenangan Antonelli tidak pernah benar-benar terancam. Ia finis 13 detik di depan Leclerc, dengan Verstappen terpaut empat detik lebih jauh di posisi ketiga.
Norris juga harus mengakui kecepatan Hamilton yang merebut posisi keempat pada lap 51. Hasil ini membuat Hamilton tetap memiliki peluang matematis untuk meraih gelar hingga seri berikutnya. Hadjar finis keenam di depan Piastri yang menahan Russell untuk posisi ketujuh. Russell yang harus menghindari finis di posisi sembilan atau lebih rendah demi menjaga peluang juara matematisnya, hanya mampu finis kedelapan. Liam Lawson melanjutkan tren positif Racing Bulls dengan finis kesembilan, sementara poin terakhir diraih Pierre Gasly dari Alpine.
Balapan diwarnai tiga pembalap yang gagal finis. Oliver Bearman (Haas) mendapat penalti 10 detik akibat kontak dengan Gasly di lap pertama yang memicu periode virtual safety car singkat. Franco Colapinto (Alpine) juga tersingkir, sedangkan Valtteri Bottas (Cadillac) mengalami masalah mesin di akhir balapan yang menyebabkan VSC kedua.
Dengan hasil ini, Antonelli nyaris pasti mengunci gelar di Meksiko. Jika berhasil, ia akan mencatatkan sejarah sebagai juara dunia F1 termuda, memecahkan rekor Sebastian Vettel. Pertanyaannya, akankah tekanan di Meksiko mengubah pendekatan Antonelli, atau justru ia semakin termotivasi untuk menutup musim dengan dominasi?



