Jetpack Cat dan Bastion: Kombinasi Hero Overwatch yang Bikin Pengembang Deg-degan
Baca dalam 60 detik
- Kombinasi Jetpack Cat dan Bastion sempat mendominasi OWCS hingga memicu kekhawatiran pengembang.
- Tim 4 sengaja membiarkan meta ini berkembang sebelum melakukan penyesuaian agar pemain merasakan pengalaman ekstrem.
- Keputusan tersebut menuai pro-kontra di komunitas, dengan sebagian pemain menganggapnya mengganggu keseimbangan permainan.

Kemunculan hero baru di Overwatch 2 selalu dinanti, tetapi Jetpack Cat—kucing oranye menggemaskan dalam mech terbang—justru menciptakan kekacauan di medan tempur. Kombinasinya dengan Bastion, hero robot yang dapat berubah menjadi turret, melahirkan strategi “helikopter” yang membawa Bastion ke udara untuk menembaki tim lawan dari ketinggian. Meta ini begitu kuat hingga mendominasi Overwatch Champions Series (OWCS) sejak awal, memicu kekhawatiran di kalangan pengembang dan pemain.
Associate Game Director Alec Dawson mengakui bahwa timnya sudah mencium potensi masalah ini sejak fase pengujian internal. “Kami sempat berpikir, ‘oh, ini agak menakutkan’,” ujarnya. Ia bahkan menyebut kombinasi tiga hero—Jetpack Cat, Bastion, dan Mercy—sebagai “helikopter yang lebih mengerikan” karena Mercy dapat memberikan damage boost dan resurrect, memperpanjang dominasi di udara.
Meski demikian, Team 4 memilih untuk tidak langsung melakukan nerf. Dawson menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil agar pemain dapat merasakan pengalaman ekstrem terlebih dahulu. “Kami ingin memastikan momen-momen seperti itu tersaji di hadapan pemain. Biarkan mereka merasakan sedikit kegilaan itu sebelum kami menyelaraskannya,” katanya. Menurutnya, ada garis tipis antara tidak menghilangkan keseruan dan tetap menjaga keseimbangan permainan.
Keputusan untuk membiarkan meta ini berkembang menuai reaksi beragam. Sebagian pemain mengapresiasi pendekatan pengembang yang memberi ruang eksplorasi, namun tidak sedikit yang mengeluh karena kombinasi ini sulit diatasi, terutama di tingkat kompetitif. Sejak saat itu, Jetpack Cat telah mengalami sejumlah penyesuaian, termasuk pengurangan kecepatan saat mengangkut hero lain. Meski demikian, ia masih dianggap sebagai hero yang menjengkelkan dan menantang untuk dihadapi.
“Kami ingin memastikan momen-momen seperti itu tersaji di hadapan pemain. Biarkan mereka merasakan sedikit kegilaan itu sebelum kami menyelaraskannya.” — Alec Dawson, Associate Game Director Overwatch 2
Dalam konteks industri game Tanah Air, dinamika meta seperti ini menjadi pelajaran berharga bagi pengembang lokal yang tengah menggarap game kompetitif. Keseimbangan antara memberi kebebasan bereksperimen dan menjaga fairness merupakan tantangan tersendiri, terutama jika game tersebut memiliki ambisi masuk ke skena esports. Overwatch 2 sendiri masih memiliki basis pemain yang solid di Indonesia, meski tidak sebesar Dota 2 atau Mobile Legends. Komunitasnya aktif mengikuti perkembangan patch dan turnamen internasional, menjadikan kasus Jetpack Cat sebagai bahan diskusi menarik tentang bagaimana pengembang menangani eksploitasi strategi.
Ke depan, Team 4 tampaknya akan terus memantau dampak setiap hero baru terhadap ekosistem permainan. Pendekatan “biarkan pemain merasakan dulu” mungkin akan diterapkan lagi pada hero-hero mendatang, tetapi dengan pengawasan ketat agar tidak merusak pengalaman kompetitif. Pertanyaannya, akankah pengembang lebih cepat turun tangan jika meta serupa muncul lagi, atau justru membiarkannya menjadi bagian dari sejarah permainan?



