Brasil di Simpang Jalan: Lula vs Flavio Bolsonaro, Taruhan Ekonomi dan Pengaruh AS
Baca dalam 60 detik
- Pemilu putaran kedua Brasil mempertemukan Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva melawan Senator Flavio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro yang terpidana.
- Hasil pemungutan suara akan menentukan arah kebijakan ekonomi terbesar di Amerika Latin, termasuk hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan China.
- Kemenangan Bolsonaro berpotensi memperkuat gelombang konservatif di kawasan, sementara Lula berupaya mempertahankan mandat keempatnya di tengah tekanan biaya hidup.

Warga Brasil menuju tempat pemungutan suara pada Minggu (25/10) dalam putaran kedua pemilihan presiden yang mempertemukan Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva dari Partai Buruh (PT) melawan Senator Flavio Bolsonaro dari Partai Liberal (PL). Pertarungan ini bukan sekadar kontestasi lokal: hasilnya akan menentukan arah ekonomi terbesar di Amerika Latin dan seberapa jauh pengaruh Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Flavio, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro yang kini menjalani hukuman atas kasus percobaan kudeta 2022, berhasil mengejutkan banyak pihak dengan memenangi putaran pertama pada awal Oktober. Ia meraih 47% suara, unggul tipis atas Lula yang memperoleh 45%. Keunggulan itu memicu euforia di pasar keuangan Brasil, dengan indeks saham dan nilai tukar real melonjak karena ekspektasi reformasi pro-bisnis. Namun, selisih suara yang tipis membuat hasil putaran kedua masih terbuka lebar.
Yang membuat pemilu kali ini berbeda adalah bayang-bayang intervensi Amerika Serikat. Reuters pekan lalu mengungkap adanya upaya di lingkungan Kementerian Luar Negeri AS untuk membantu keluarga Bolsonaro kembali berkuasa. Presiden Donald Trump sendiri menolak mengonfirmasi dukungan, dengan alasan tidak ingin ikut campur. Meski demikian, pemerintahan Trump sebelumnya menerapkan tarif 50% terhadap Brasil pada 2025 yang secara eksplisit dikaitkan dengan proses hukum Jair Bolsonaro. Tarif itu kemudian dilonggarkan, tetapi bea masuk baru tetap dikenakan tahun ini dengan alasan praktik dagang tidak adil. Lula menuding Washington berupaya memengaruhi pemilu dan menyebut sanksi dagang sebagai bentuk perundungan.
Di tingkat domestik, isu ekonomi menjadi medan pertempuran utama. Meskipun ketimpangan dan pengangguran menurun di bawah pemerintahan Lula, biaya hidup yang tinggi dan beban utang rumah tangga tetap menjadi keluhan utama pemilih. Kekerasan geng yang endemik juga menambah kekhawatiran. Flavio memanfaatkan sentimen ini dengan janji pendekatan keras terhadap kejahatan, termasuk penjara keamanan maksimum dan hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual berat. Sementara itu, Lula mengandalkan basis pendukungnya yang loyal, terutama di kalangan pekerja dan kelas menengah yang merasakan manfaat program sosial.
"Kami tidak bisa menyerahkan Brasil begitu saja," kata Elenildes dos Reis, seorang pengacara berusia 60 tahun di Sao Paulo yang memilih Lula. Ia berharap kemenangan Lula menjadi cara melawan tekanan Trump dan gelombang fasisme yang ia nilai meningkat. "Ini bukan hanya kemenangan kami, tapi kemenangan dunia."
Di kubu seberang, Jose Carlos Jarra, pensiunan 61 tahun, memilih Flavio karena menginginkan perubahan. Ia menilai upah minimum Brasil "memalukan" dan berharap senator itu menangani keamanan publik serta meningkatkan kesejahteraan pensiunan. Sementara Alba Marques, 75 tahun, mengaku memilih Flavio bukan karena sosoknya, melainkan karena tidak tahan dengan janji-janji Partai Buruh yang sama selama 40 tahun.
Bagi Indonesia, hasil pemilu Brasil memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Brasil adalah mitra dagang utama untuk komoditas seperti kedelai, bijih besi, dan minyak sawit. Ketegangan dagang antara Brasil dan AS dapat mengubah pola perdagangan global yang pada akhirnya memengaruhi harga komoditas dan arus investasi ke negara berkembang. Jika Flavio menang dan mendekatkan Brasil ke Washington, ia mungkin mengambil sikap lebih keras terhadap China—mitra dagang terbesar Brasil—yang dapat mengguncang rantai pasok global. Sebaliknya, Lula diperkirakan melanjutkan kebijakan luar negeri yang lebih seimbang, termasuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan yang juga menjadi kepentingan Indonesia.
Pemilu ini juga menjadi ujian bagi ketahanan demokrasi Brasil setelah badai politik beberapa tahun terakhir. Tuduhan campur tangan asing, polarisasi ekstrem, dan bayang-bayang hukum terhadap mantan presiden menciptakan lanskap politik yang rapuh. Pertanyaannya, akankah Brasil mampu melewati putaran kedua dengan damai dan menerima hasilnya, atau justru terjerumus ke dalam krisis legitimasi yang lebih dalam? Dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan dengan saksama.



