Kerangka Manusia Ditemukan di Pantai Selayar, Diduga Nelayan Hilang Sejak September
Baca dalam 60 detik
- Dua warga menemukan kerangka manusia di atas batu Pantai Bonesialla, Selayar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu sore.
- Polisi menduga kerangka itu adalah Sakinang (65), nelayan yang dilaporkan hilang saat memancing pada 29 September lalu.
- Identitas dan penyebab kematian belum dipastikan; jasad telah dimakamkan dan warga diminta tidak berspekulasi.

Kerangka manusia ditemukan di atas batu di tepi Pantai Bonesialla, Desa Bontobulaeng, Kecamatan Pasimasunggu Timur, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/10) sekitar pukul 17.00 WITA. Penemuan itu diduga terkait dengan hilangnya seorang nelayan setempat, Sakinang (65), yang tidak kembali setelah memancing pada 29 September.
Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didid Imawan menyatakan laporan awal diterima dari dua warga, Muh. Kasing (39) dan Kamaruddin (42), yang sedang mencari ikan di sekitar pantai. Keduanya kemudian melaporkan temuan tersebut kepada kepala dusun dan pihak kepolisian. Petugas lantas mengevakuasi kerangka ke puskesmas setempat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut keterangan keluarga, ciri-ciri kerangka mengarah pada Sakinang, warga Dusun Pandang Timur, Desa Bontobulaeng, yang sebelumnya dilaporkan hilang. Namun, polisi menegaskan bahwa identitas pasti dan penyebab kematian belum dapat disimpulkan tanpa pemeriksaan lanjutan. โKami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan identitas dan penyebab kematian,โ ujar Didid, seraya menambahkan bahwa kerangka telah dimakamkan di kampung halaman korban.
โKami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak berspekulasi mengenai peristiwa tersebut,โ kata Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didid Imawan.
Penemuan ini memperlihatkan risiko yang dihadapi nelayan tradisional di perairan Selayar, terutama saat melaut seorang diri tanpa peralatan keselamatan memadai. Wilayah Kepulauan Selayar dikenal memiliki gelombang dan arus yang berubah cepat, sehingga insiden hilangnya nelayan kerap terjadi. Proses evakuasi yang memakan waktu lebih dari tiga pekan sejak laporan hilang juga menyoroti keterbatasan sarana pencarian dan pertolongan di daerah kepulauan.
Dari sisi penegakan hukum, polisi belum dapat memastikan apakah ada unsur kelalaian atau tindak pidana dalam peristiwa ini. Pemeriksaan forensik terhadap kerangka menjadi kunci untuk menentukan penyebab kematian. Jika terbukti murni kecelakaan laut, kasus ini akan ditutup sebagai musibah. Namun, jika ditemukan tanda-tanda lain, penyelidikan lebih lanjut dapat dilakukan.
Ke depan, pemerintah daerah dan aparat setempat dihadapkan pada pertanyaan tentang penguatan sistem peringatan dini dan respons cepat terhadap laporan nelayan hilang. Tanpa peningkatan kapasitas pencarian dan penyadaran keselamatan di kalangan nelayan, kejadian serupa berpotensi terulang di perairan Kepulauan Selayar.



