Aktor Shepard Angkat Bicara, Petisi Selamatkan Mass Effect Tembus 130 Ribu Tanda Tangan
Baca dalam 60 detik
- Jennifer Hale dan Mark Meer, pengisi suara Komandan Shepard, mendukung gerakan penggemar untuk menyelamatkan Mass Effect setelah BioWare ditutup.
- Petisi daring yang diluncurkan tiga hari lalu telah mengumpulkan lebih dari 130.000 tanda tangan, bahkan pemerintah Kanada mempertimbangkan bantuan.
- Masa depan waralaba Mass Effect kini bergantung pada tekanan publik dan kemungkinan intervensi investor atau pemerintah.

Kabar penutupan BioWare dan pembatalan proyek Mass Effect: Universe memicu reaksi keras dari komunitas penggemar. Dalam tiga hari, sebuah petisi daring yang menyerukan penyelamatan waralaba Mass Effect telah mengumpulkan lebih dari 130.000 tanda tangan, dan gelombang dukungan itu kini mendapat sorotan dari dua aktor pengisi suara ikonik Komandan Shepard, Jennifer Hale dan Mark Meer.
Hale, yang mengisi suara Shepard versi perempuan, melalui akun X-nya mengajak penggemar mewujudkan skenario kolektif: penggalangan dana lewat Kickstarter, diikuti investor dan studio game, hingga terbentuk entitas yang menghidupkan kembali Mass Effect. "Saya suka membayangkan dunia di mana penggemar bersatu, membuat Kickstarter, lalu beberapa investor bergabung, dan studio game keren ikut serta, sehingga terbentuk kolektif untuk menghidupkan kembali Mass Effect," tulisnya, Jumat (24/10/2026). Meer, pengisi suara Shepard versi laki-laki, merespons dengan mengutip cuitan Hale dan mengajak penggemar menandatangani petisi. "Saya baru saja melihat teman saya Jennifer Hale memposting ide, dan menurut saya itu ide bagus: selamatkan Mass Effect. Tahan posisi. Saya harus pergi, dan kamu juga harus pergi menandatangani petisi itu," ujarnya, mengutip dialog khas Shepard.
Kekecewaan penggemar berakar pada keputusan Electronic Arts (EA) yang diakuisisi oleh Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi dan perusahaan private equity. Hanya beberapa bulan setelah transaksi, BioWare—studio di balik trilogi Mass Effect—ditutup, dan proyek Mass Effect 5 yang telah diumumkan sejak enam tahun lalu resmi dibatalkan. Langkah ini memicu kekhawatiran lebih luas terhadap nasib waralaba lain di bawah naungan EA, serta menimbulkan pertanyaan tentang arah industri game global di bawah kepemilikan dana investasi besar.
Meski demikian, besarnya dukungan publik belum tentu mengubah keputusan EA. Seorang analis industri yang enggan disebut namanya menilai bahwa perusahaan sebesar EA biasanya mengambil keputusan berdasarkan perhitungan bisnis jangka panjang, bukan tekanan emosional penggemar. Namun, ia menambahkan bahwa gelombang solidaritas ini menunjukkan nilai merek Mass Effect yang tetap kuat dan berpotensi menarik minat investor independen atau studio lain untuk mengambil alih lisensi.
Di Indonesia, komunitas penggemar Mass Effect juga turut meramaikan jagat media sosial. Sejumlah forum dan grup diskusi game lokal membahas petisi tersebut, meski sebagian besar penggemar Tanah Air menyadari keterbatasan pengaruh langsung mereka terhadap keputusan korporasi global. Fenomena ini mencerminkan bagaimana isu industri game internasional kini semakin cepat menyebar dan melibatkan partisipasi publik lintas negara, termasuk dari pasar game yang sedang tumbuh seperti Indonesia.
"Tahan posisi. Saya harus pergi, dan kamu juga harus pergi menandatangani petisi itu." — Mark Meer, pengisi suara Komandan Shepard
Hingga berita ini diturunkan, EA belum memberikan tanggapan resmi terkait petisi maupun kemungkinan menghidupkan kembali proyek Mass Effect. Pemerintah Kanada, melalui menteri ekonomi setempat, disebut sedang mengevaluasi dampak penutupan BioWare terhadap ekosistem industri kreatif nasional, termasuk potensi insentif atau skema penyelamatan.
Jika tekanan publik terus menguat, bukan tidak mungkin muncul skenario alternatif: lisensi Mass Effect dialihkan ke studio lain, atau bahkan dibentuk konsorsium penggemar-investor seperti yang dibayangkan Hale. Namun, tanpa dukungan pemilik hak cipta, upaya ini akan menghadapi tembok hukum dan finansial yang tinggi. Pertanyaannya, akankah solidaritas 130 ribu tanda tangan itu cukup untuk menggoyang raksasa industri, atau hanya menjadi catatan sejarah panjang perpisahan dengan waralaba legendaris?



