13 Siswi SMP di Ciputat Diduga Dipalak dan Dipaksa Minum Kopi Cuka, Tiga Dirawat di Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Polisi menerima laporan 13 siswi SMP di Ciputat Timur menjadi korban perundungan senior, dengan modus tantangan yang berujung pada konsumsi campuran kopi, cuka, dan bawang putih.
- Tiga korban mengalami keluhan sakit perut dan harus dirawat di rumah sakit, sementara para pelaku juga diduga meminta uang Rp5.000–Rp10.000 kepada junior.
- Kasus ini mencuatkan persoalan pengawasan sekolah dan efektivitas program antiperundungan, dengan polisi baru memetakan satu terduga pelaku utama dari kalangan kakak kelas.

Sebanyak 13 pelajar perempuan sebuah SMP di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, dilaporkan menjadi sasaran perundungan yang dilakukan senior mereka. Aksi itu tidak hanya berupa pemaksaan mengonsumsi minuman campuran kopi, cuka, dan bawang putih, tetapi juga disertai permintaan uang kepada para junior. Tiga korban dikabarkan harus menjalani perawatan rumah sakit karena mengalami gangguan pencernaan.
Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq mengungkapkan bahwa praktik tersebut dibungkus sebagai permainan tantangan. Senior memberikan tantangan kepada adik kelas, dan siapa pun yang kalah atau melakukan kesalahan akan dihukum dengan meminum racikan tersebut. Menurut Bambang, informasi awal yang dihimpun polisi menyebut campuran itu terdiri dari kopi, cuka, dan bawang putih.
"Modusnya challenge. Junior diberi tantangan, kalau kalah atau salah langsung disuruh minum. Informasi awalnya seperti kopi dicampur cuka dan bawang putih," ujar Bambang saat dikonfirmasi, Sabtu (24/10).
Selain kekerasan fisik-ringan itu, para korban juga diduga mengalami pemerasan. Setiap siswi diminta menyerahkan uang dengan nilai bervariasi, berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000. Permintaan itu disebut sebagai bagian dari tekanan yang menyertai tantangan tersebut. Hingga kini, polisi baru mengidentifikasi satu terduga pelaku utama, yang merupakan siswi kelas tiga atau kakak kelas para korban.
Kasus ini mencuatkan persoalan yang lebih luas tentang pengawasan di lingkungan sekolah. Modus tantangan yang dibalut permainan membuat perundungan sulit terdeteksi oleh guru maupun orang tua. Padahal, praktik pemaksaan konsumsi bahan-bahan yang tidak lazim—seperti cuka dan bawang putih dalam jumlah tertentu—berpotensi menimbulkan iritasi lambung hingga dehidrasi. Tiga korban yang dirawat di rumah sakit menjadi indikasi bahwa dampak kesehatan dari "hukuman" semacam ini tidak bisa dianggap remeh.
Dari sisi kebijakan, kejadian ini memperlihatkan bahwa program pencegahan perundungan di sekolah masih menghadapi tantangan implementasi. Sekolah-sekolah di kota satelit seperti Tangerang Selatan kerap memiliki rasio guru terhadap siswa yang tinggi, sehingga pengawasan di luar jam pelajaran menjadi lemah. Aparat kepolisian sendiri baru menerima laporan awal dan belum menetapkan tersangka. Proses penyelidikan akan menentukan apakah kasus ini berhenti pada satu pelaku atau melibatkan jaringan senior lain yang lebih luas.
Yang juga perlu dicermati adalah dimensi pemalakan. Permintaan uang kepada junior, meski nominalnya kecil, merupakan bentuk kekerasan ekonomi yang sering luput dari perhatian. Jika dibiarkan, pola ini dapat membentuk budaya kekerasan berjenjang di sekolah, di mana senior merasa berhak mengeksploitasi junior. Orang tua dan komite sekolah didesak tidak hanya menunggu hasil investigasi polisi, tetapi juga membuka ruang pelaporan yang aman bagi siswa agar kasus serupa tidak terus terulang.
Ke depan, publik akan menanti apakah pihak sekolah akan menjatuhkan sanksi internal dan bagaimana Dinas Pendidikan setempat merespons. Tanpa penanganan yang tuntas, perundungan berkedok tantangan berisiko menjadi preseden buruk bagi sekolah lain di kawasan penyangga Jakarta. Pertanyaannya kini: apakah pengawasan sekolah akan diperketat, atau kasus ini kembali tenggelam setelah tiga korban pulih?



