NASA Buka Rencana Artemis III: Uji Coba Pendarat Bulan dengan Tiga Roket Raksasa
Baca dalam 60 detik
- NASA merilis konsep operasi Artemis III, misi uji docking pendarat bulan di orbit Bumi rendah yang melibatkan tiga roket berat.
- Misi ini menjadi batu uji bagi Blue Origin dan SpaceX sebelum pendaratan berawak ke Bulan pada 2028.
- Jadwal peluncuran musim panas tahun depan terancam mundur karena keterlambatan rantai pasok pendarat.

NASA akhirnya membeberkan skenario operasi misi Artemis III, sebuah uji terbang pendarat bulan yang akan menentukan arah ambisi Amerika Serikat kembali ke permukaan Bulan. Dalam konferensi pers di Kennedy Space Center, badan antariksa itu menegaskan bahwa misi tersebut bukan sekadar latihan, melainkan fondasi bagi pendaratan berawak pertama sejak 1972.
Artemis III dirancang sebagai demonstrasi docking di orbit Bumi rendah (LEO) yang melibatkan tiga kendaraan peluncuran paling powerful saat ini: Space Launch System (SLS) milik NASA, Starship dari SpaceX, dan New Glenn dari Blue Origin. Ketiganya akan lepas landas dari Space Coast, Florida, dengan urutan yang telah ditetapkan. New Glenn lebih dulu mengangkut pendarat Blue Moon ke LEO, disusul SLS yang membawa empat astronot—Randy Bresnik, Andre Douglas, Frank Rubio, dan Luca Parmitano dari ESA—di dalam kapsul Orion.
Yang membuat misi ini rumit adalah manuver orbital yang harus presisi. Orion akan ditempatkan pada orbit elips ekstrem, dengan jarak terdekat 29 kilometer dan terjauh 1.806 kilometer dari Bumi, sebelum bermanuver ke ketinggian sekitar 555 kilometer. Menurut Jeremy Parsons, manajer program Artemis, langkah itu diperlukan untuk menjaga stabilitas termal kapsul yang dirancang untuk ruang angkasa dalam, bukan orbit Bumi rendah yang suhunya lebih fluktuatif.
Pada hari penerbangan ketiga, kru akan bertemu Blue Moon di ketinggian 439 kilometer. Selama dua hari, mereka akan membuka palka, memasuki pendarat, dan mengevaluasi sistem kendali lingkungan serta pendukung kehidupan. Uji coba juga mencakup skenario darurat dan kendali ganda kendaraan—sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam penerbangan antariksa berawak sebelumnya. Setelah itu, Starship akan diluncurkan dengan adaptor docking khusus di hidungnya untuk bertemu Orion pada hari kedelapan, meski kru tidak akan memasuki wahana tersebut. Interaksi hanya berlangsung sekitar dua jam, tetapi data yang dihasilkan dianggap krusial untuk memahami gaya dan mekanisme docking di masa depan.
"Kami meluncurkan tiga roket paling powerful di dunia dan menjalankan kampanye peluncuran yang mungkin paling rumit yang pernah ada," ujar Jeremy Parsons, seperti dikutip dalam konferensi pers.
Setelah berpisah dari Starship, Orion akan melanjutkan misi selama enam hingga sembilan hari lagi untuk mengevaluasi pakaian penyelamat astronot—yang tidak sempat diuji pada Artemis II—serta menjalankan serangkaian eksperimen ilmiah dan demonstrasi teknologi. Semua ini bertujuan mengurangi risiko bagi Artemis IV, yang dijadwalkan mendaratkan manusia di dekat kutub selatan Bulan pada 2028.
Hingga kini, NASA belum memutuskan pendarat mana yang akan dipakai pada Artemis IV. Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan pihaknya sengaja menjaga opsi tetap terbuka agar kedua mitra swasta memiliki kesempatan maksimal untuk siap. "Kami tidak berniat melepaskan jalur yang layak ke permukaan sebelum data dan jadwal memaksa kami," ujarnya. Parsons menambahkan, terlepas dari siapa yang lebih dulu, Blue Origin dan SpaceX sama-sama merencanakan misi pendaratan Bulan pada 2028 dengan profil yang berbeda: Blue Moon akan bertemu Orion di orbit Bulan, sedangkan Starship kemungkinan akan mendorong kapsul NASA dari orbit Bumi menuju Bulan.
Meski rencana sudah dipaparkan, tanggal pasti peluncuran Artemis III masih abu-abu. NASA menargetkan musim panas tahun depan, tetapi dalam memo internal bulan lalu, Isaacman mengakui misi ini tertinggal sekitar 90 hari. Kendala utama menurut Parsons adalah rantai pasok komponen untuk pendarat bulan. Baik Parsons maupun Isaacman menegaskan bahwa NASA yakin mampu mengatasi hambatan tersebut. "Kami bergerak dengan kecepatan dan tujuan yang nyata saat ini," kata Isaacman.
Bagi Indonesia, perkembangan Artemis III dan persaingan pendarat swasta ini bisa menjadi cermin bagaimana negara kepulauan dengan ambisi teknologi tinggi mengelola rantai pasok dan kemitraan strategis. Meski belum terlibat langsung, Indonesia memiliki peluang untuk belajar dari model kolaborasi NASA dengan Blue Origin dan SpaceX, terutama dalam hal regulasi peluncuran, pengembangan infrastruktur antariksa, dan transfer pengetahuan. Ke depan, pertanyaannya: akankah target 2028 kembali bergeser, atau justru menjadi momentum bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempercepat program antariksa mereka?



