Summit Trump-Putin-Xi di Shenzhen: Ancaman Nyata Berakhirnya Tatanan Dunia Barat
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan tiga pemimpin besar di Shenzhen bulan depan berpotensi membelah dunia menjadi tiga zona pengaruh, melemahkan NATO dan sekutu Asia Timur.
- Trump memasuki masa lame duck dengan kongres kemungkinan dikuasai oposisi, sehingga fokus kebijakan luar negeri bergeser ke ambisi legacy yang berisiko.
- Indonesia perlu mengantisipasi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi akibat poros baru yang dapat mengubah aturan perdagangan dan keamanan global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping di Shenzhen bulan depan, sebuah langkah yang oleh banyak pengamat dipandang sebagai upaya membentuk tatanan dunia baru yang terbagi dalam tiga lingkup pengaruh. Pertemuan ini menjadi sinyal paling konkret bahwa era dominasi Barat pasca-Perang Dingin tengah menuju titik akhir.
Undangan tersebut datang langsung dari Putin, yang sejak lama menganggap campur tangan Amerika di Eropa Timur sebagai gangguan terhadap wilayah pengaruhnya. Bagi Trump, yang akan memasuki dua tahun terakhir masa jabatannya dengan kemungkinan kehilangan kendali atas Kongres, panggung internasional menjadi satu-satunya arena tersisa untuk meninggalkan warisan. Berbeda dengan pendahulunya yang memilih langkah diplomatik damai di akhir jabatan, ambisi Trump kali ini justru berpotensi memicu ketegangan baru.
Sejumlah laporan menyebut Washington berencana menghidupkan kembali konfrontasi dengan Iran setelah pemilu sela, sementara dukungan terhadap Ukraina terus melemah. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bahkan menyebut Putin sebagai sosok humaniter dalam pertemuan di Moskow pekan lalu. Sinyal-sinyal ini memperkuat kekhawatiran bahwa Amerika akan meninggalkan sekutu-sekutu tradisionalnya di Eropa dan Asia Timur.
Yang membuat pertemuan ini kian penting adalah arah kebijakan yang sudah tertuang dalam Strategi Keamanan Nasional AS tahun lalu. Dokumen setebal 33 halaman itu mengkritik tajam sekutu tradisional di Eropa dan Asia Timur, tetapi justru menghindari kritik langsung terhadap Rusia dan China. Dalam bagian yang membahas ancaman terhadap Taiwan, China sama sekali tidak disebut. Sebaliknya, China dipuji sebagai negara kaya dan kuat yang menggunakan kekayaannya untuk keuntungan besar. Sementara itu, perang Rusia di Ukraina tidak dijelaskan asal-usulnya, dan dokumen tersebut lebih menyoroti upaya memperbaiki hubungan AS-Eropa-Rusia ketimbang mengalahkan Putin.
Dokumen itu juga menegaskan bahwa Amerika hanya akan peduli pada urusan negara lain jika aktivitas mereka mengancam kepentingan langsung AS. Sikap ini secara efektif membuka jalan bagi pembagian dunia menjadi tiga blok: Amerika yang menguasai belahan bumi barat, Rusia di Eropa Timur dan Asia Tengah, serta China di Asia Timur dan sekitarnya. Bagi Putin, ini adalah kemenangan yang ia rancang selama hampir tiga dekade. Sedangkan bagi Xi, retorika Amerika yang mundur dari Asia Timur memberi ruang bagi China untuk memperluas kendali maritim di Laut China Selatan dan Laut China Timur.
"Tidak ada presiden yang lebih menguntungkan bagi China selain Donald Trump," ujar Chrystia Freeland, mantan Menteri Luar Negeri Kanada, seperti dikutip dalam diskusi pekan ini.
Dampak bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara tidak bisa diabaikan. Jika Amerika benar-benar menarik jaminan keamanannya, negara-negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan Australia akan menghadapi tekanan besar. Indonesia, meski tidak terlibat langsung dalam aliansi militer dengan AS, tetap akan merasakan guncangan ekonomi dan diplomatik. Ketidakpastian aturan perdagangan global, potensi perang dagang teknologi antara AS dan China, serta pergeseran aliansi di kawasan dapat memengaruhi stabilitas investasi dan rantai pasok yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Sejarah menunjukkan bahwa presiden AS di akhir masa jabatan sering gagal mewujudkan terobosan besar di luar negeri. Bill Clinton gagal mencapai kesepakatan damai Timur Tengah, George HW Bush mengalami penghinaan militer di Somalia, dan warisan diplomatik Barack Obama justru dibongkar oleh Trump. Namun, kegagalan Trump bukan berarti Amerika tidak akan kehilangan pengaruh. Dengan citra tiga pemimpin otoriter yang bersatu, dunia akan menyaksikan momen ketika tatanan internasional berbasis aturan benar-benar terkoyak.
Pertanyaannya kini: akankah Indonesia dan negara-negara ASEAN mampu menjaga netralitas dan memanfaatkan peluang di tengah persaingan tiga kekuatan besar, atau justru terseret dalam pusaran ketidakpastian yang tidak berujung?



