Pichai: Google Masih Jauh dari AI yang Mampu Perbaiki Diri Sendiri
Baca dalam 60 detik
- CEO Google Sundar Pichai menegaskan perusahaan baru berada di tahap awal pengembangan AI yang bisa meningkatkan kemampuannya sendiri secara rekursif.
- Meski AI sudah membantu peneliti membangun model, Pichai menyebut otomatisasi penuh masih jauh dan baru akan terasa progresnya tahun depan.
- Ambisi RSI memicu perdebatan tentang percepatan inovasi versus risiko keamanan, dengan laporan Gladstone AI memperkirakan RSI bisa dimulai dalam 3โ12 bulan ke depan.

Google belum sampai pada titik di mana kecerdasan buatan dapat sepenuhnya meningkatkan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia. Hal itu ditegaskan CEO Alphabet Sundar Pichai dalam wawancara dengan Big Technology Podcast pekan ini, seraya menepis anggapan bahwa perusahaan telah menguasai teknologi recursive self-improvement (RSI).
Menurut Pichai, para peneliti Google memang telah memanfaatkan agen AI untuk membantu proses pengembangan model, tetapi pemanfaatan itu masih dalam tahap awal. "Kami masih cukup jauh dari kondisi akhir RSI," ujarnya, seperti dikutip dari podcast tersebut. Ia menjelaskan bahwa yang terjadi saat ini adalah kombinasi antara peneliti manusia dan agen AI yang bekerja bersama dalam siklus pengembangan model, bukan AI yang sepenuhnya mandiri.
Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah salah satu pendiri Google, Sergey Brin, mengungkapkan bahwa perusahaan "mulai menapaki treadmill RSI". Brin menilai seri model Flash dan Gemini 4 telah menunjukkan bagaimana AI turut berperan dalam pembuatan versi berikutnya. Kendati demikian, Pichai menegaskan bahwa otomatisasi penuh belum tercapai dan ia memperkirakan kemajuan berkelanjutan akan terlihat sepanjang tahun depan.
Meski demikian, Pichai enggan terjebak pada angka. Ia menilai persentase kode yang dihasilkan AI sudah tidak lagi relevan karena hampir seluruh aspek pengkodean di Google kini dipengaruhi AI. "Angka itu bagi kami tidak lagi bermakna," katanya. Ia justru menyoroti peningkatan produktivitas dan kualitas kode yang dihasilkan berkat alat AI, termasuk penurunan signifikan dalam kasus rollback kode.
Dorongan untuk mempercepat RSI di Google tidak lepas dari peran Brin. Seperti dilaporkan Business Insider, Brin semakin aktif dalam proyek Gemini dan menggunakan posisinya sebagai pendiri untuk mengalihkan sumber daya ke inisiatif yang ia nilai paling efektif, termasuk fokus pada RSI. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang arah strategis Google di tengah persaingan ketat dengan perusahaan AI lain seperti OpenAI dan Anthropic.
"Kami melihat agen AI membantu para peneliti dalam berbagai aspek pengembangan model, tetapi ini masih awal. Kami masih jauh dari kondisi akhir RSI." โ Sundar Pichai, CEO Google
RSI sendiri menjadi topik yang semakin panas di kalangan peneliti AI. Laporan Gladstone AI yang dirilis awal bulan ini mengungkapkan bahwa sebagian besar peneliti dari perusahaan seperti Anthropic dan DeepMind meyakini RSI akan dimulai dalam waktu 3 hingga 12 bulan ke depan, dan bisa lebih cepat lagi jika tidak ada regulasi pemerintah. Perkiraan ini memicu diskusi tentang kesiapan industri dan regulator dalam mengantisipasi percepatan kemampuan AI yang berpotensi melampaui kendali manusia.
Bagi Indonesia, perkembangan RSI di Google dan perusahaan AI global lainnya memiliki implikasi langsung. Teknologi ini dapat mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan layanan publik, tetapi juga menuntut kesiapan sumber daya manusia dan kerangka regulasi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menyusun aturan etika AI, namun percepatan RSI bisa membuat regulasi konvensional cepat usang. Perusahaan teknologi dalam negeri pun perlu mengantisipasi gelombang otomatisasi yang lebih canggih.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah RSI akan terwujud, melainkan seberapa cepat dan siapa yang akan mengendalikannya. Google dengan sumber daya besar dan ambisi Brin tampaknya ingin menjadi pemain utama, tetapi Pichai mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang. Jika prediksi Gladstone AI benar, dalam hitungan bulan kita mungkin akan menyaksikan lompatan kemampuan AI yang selama ini hanya ada di skenario fiksi ilmiah. Akankah dunia, termasuk Indonesia, siap menghadapi percepatan itu?



