Stranger Than Heaven Tinggalkan Komedi Absurd Yakuza, Ryu Ga Gotoku Pilih Drama Sejarah Serius
Baca dalam 60 detik
- Ryu Ga Gotoku Studio memastikan Stranger Than Heaven tidak akan mengandalkan humor surealis seperti seri Yakuza, melainkan menyajikan narasi drama periode yang lebih serius.
- Sutradara Mikinobu Abe menyatakan bahwa keunikan norma sosial dan nilai historis dari era yang diangkat menjadi sumber kejutan alami, bukan lelucon yang dipaksakan.
- Game ini akan mengikuti kehidupan Makoto Daito di lima kota Jepang selama lima dekade dan dijadwalkan rilis pada 15 Januari 2027 untuk PS5, PC, dan Xbox Series X.

Ryu Ga Gotoku Studio (RGG) secara resmi menegaskan bahwa Stranger Than Heaven tidak akan meneruskan formula komedi surealis yang melekat pada seri Yakuza dan Like a Dragon. Dalam wawancara dengan Polygon, sutradara Mikinobu Abe menyatakan bahwa proyek ambisius ini lebih diarahkan sebagai drama sejarah yang serius, meski tetap menyisakan momen-momen ringan yang bisa memancing senyum pemain.
Keputusan ini menandai pergeseran besar bagi studio yang dikenal lewat karakter Kiryu dan Ichiban. Selama bertahun-tahun, RGG membangun reputasi lewat perpaduan nada yang ekstrem: adegan emosional yang intens berdampingan dengan subcerita absurd, seperti merekrut ayam bernama Nugget atau menolong pria sakit perut di toilet umum. Kini, pendekatan tersebut ditinggalkan demi menghadirkan pengalaman naratif yang lebih membumi dan historis.
Menurut Abe, riset mendalam terhadap era yang diangkat justru menghasilkan kejutan alami. Perbedaan nilai dan norma sosial dari beberapa dekade atau bahkan satu abad lalu dinilai sudah cukup menarik tanpa perlu menambahkan situasi komedi yang dibuat-buat. "Kami menemukan bahwa dunia dari era tersebut sudah terasa mencolok dan tidak biasa. Perbedaan nilai dan akal sehat dari masa itu, dengan sendirinya, mengejutkan dan memikat," ujarnya, seperti dikutip Polygon.
Dalam preview setengah hari yang dilakukan Polygon, Stranger Than Heaven memang tidak menyertakan subcerita atau misi sampingan. Namun, tim pengembang memastikan bahwa unsur kejutan tetap ada melalui interaksi dengan norma sosial era tersebut. Alih-alih menciptakan lelucon yang dipaksakan, RGG ingin pemain merasakan langsung keanehan dan kekhasan dunia yang digambarkan. Pendekatan ini sejalan dengan visi game sebagai karya yang menonjolkan realitas dan kesegeraan sejarah.
"Kami mendekati judul ini terutama sebagai karya serius, yang menggambarkan realitas dan kesegeraan era tersebut. Tentu saja, bukan berarti tidak ada momen yang bisa membuat Anda tersenyum," kata Abe.
Meski demikian, penggemar setia RGG mungkin perlu menyesuaikan ekspektasi. Stranger Than Heaven tidak akan lagi menghadirkan tokoh-tokoh pinggiran yang absurd atau situasi konyol yang menjadi ciri khas seri sebelumnya. Dunia Makoto Daito digambarkan lebih keras dan dekat dengan realitas dibandingkan dunia Kiryu atau Ichiban. Meskipun masih ada adegan baku hantam, nuansa keseluruhan lebih condong ke drama periode daripada film aksi pulp.
Bagi industri game Jepang, langkah RGG ini bisa dibaca sebagai upaya mendiversifikasi portofolio setelah bertahun-tahun bergantung pada formula yang sama. Studio yang berbasis di Yokohama itu tampaknya ingin membuktikan bahwa mereka mampu menangani narasi yang lebih dewasa dan historis, tanpa kehilangan identitas sebagai pengembang game aksi petualangan. Namun, apakah pendekatan ini akan diterima pasar global yang selama ini mencintai keunikan humor Yakuza, masih menjadi tanda tanya.
Di sisi lain, penggemar di Indonesia yang terbiasa dengan nuansa komedi dalam game Jepang mungkin akan merasakan perbedaan besar. Namun, tema sejarah dan nilai-nilai sosial yang berubah sepanjang dekade bisa menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pemain yang menyukai cerita mendalam. Dengan tanggal rilis yang masih dua tahun lagi, RGG memiliki waktu untuk menyempurnakan visi mereka dan memastikan bahwa Stranger Than Heaven tidak kehilangan sentuhan khas yang membuat seri sebelumnya dicintai.
Pertanyaannya kini: akankah RGG mampu memikat penggemar lama yang merindukan keabsurdan, atau justru menemukan basis penggemar baru yang lebih menyukai drama sejarah serius? Jawabannya akan terlihat saat game ini meluncur pada 2027.



