Hampir Sejuta Anak Muda Inggris Nganggur, PM Burnham Sebut Kegagalan Moral
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Andy Burnham menyoroti angka NEET yang mendekati satu juta jiwa sebagai bom waktu ekonomi dan krisis moral.
- Pemerintah akan mengumumkan program magang besar-besaran pekan ini, sementara oposisi menuduh strategi ketenagakerjaan justru kontraproduktif.
- Laporan independen Alan Milburn merekomendasikan realokasi dana kesejahteraan ke dukungan kerja, dengan anggaran pertama Chancellor John Healey pada 28 Oktober mendatang.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan negaranya tengah menghadapi “bencana ekonomi dan kegagalan moral” karena hampir satu juta warga usia 16–24 tahun tidak menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan (NEET). Dalam kolom opini yang dimuat The Times edisi Senin, ia menegaskan bahwa investasi pada generasi muda tidak boleh kalah oleh pembiayaan sistem tunjangan yang justru memupuk ketergantungan.
Data terbaru Kantor Statistik Nasional (ONS) menunjukkan jumlah NEET mendekati angka satu juta jiwa. Bagi Burnham, ini bukan sekadar statistik ketenagakerjaan, melainkan cermin generasi yang kehilangan pijakan untuk maju. Ia menyalahkan kombinasi dua tahun penguncian pandemi, media sosial yang menggerus rasa percaya diri dan kebersamaan, sistem pendidikan yang terlalu berorientasi jalur universitas, pasar kerja dengan lowongan minim, serta kegagalan pemerintahan sebelumnya.
Kritik keras diarahkan pada mekanisme kesejahteraan yang dinilainya berhenti pada asesmen dan pembayaran tunjangan tanpa tindak lanjut. “Hari ini sistem memberikan penilaian, uang, lalu selesai. Terlalu sering tidak ada dukungan, tidak ada tawaran keterampilan, dan tidak ada peluang kerja,” tulisnya. Ia menjanjikan pergeseran pendekatan: bukan lagi mendata hak tunjangan, tetapi memulai dari ambisi anak muda dan bantuan konkret untuk mencapainya.
Pekan ini, pemerintah dijadwalkan merilis rencana penciptaan puluhan ribu magang dan penempatan kerja bagi anak muda di sektor konstruksi serta firma akuntansi, konsultasi, dan hukum. Langkah ini dipandang sebagai upaya membalik logika kebijakan: dari sekadar jaring pengaman menjadi tangga menuju kemandirian. Namun, Partai Konservatif melalui Juru Bicara Bisnis dan Perdagangan Julia Lopez menilai strategi ketenagakerjaan pemerintah justru “bencana”. Ia menuding kenaikan pajak dan regulasi berbelit telah mempersulit dunia usaha merekrut, berinvestasi, dan berkembang, sehingga peluang kerja bagi anak muda semakin menyusut.
Pemerintah juga menantikan hasil tinjauan menyeluruh tentang anak muda dan dunia kerja yang akan dipublikasikan bulan depan. Penulisnya, mantan Menteri Kesehatan Alan Milburn, dalam wawancara dengan The Guardian menegaskan perlunya “merelokasi dana dari sistem kesejahteraan ke dukungan ketenagakerjaan yang lebih besar”. Ia membantah stereotip bahwa generasi muda malas. “Ini bukan generasi yang enggan bekerja. Jika kita menyediakan lebih banyak peluang dan dukungan, mayoritas besar dari mereka akan mengambilnya, karena itulah yang mereka inginkan. Sistemnya yang tidak memberikan apa yang mereka butuhkan: pekerjaan,” ujarnya. Milburn menghitung pemerintah membelanjakan dana tunjangan anak muda 25 kali lipat lebih besar daripada biaya mengarahkan mereka ke dunia kerja, dan menyebut tingkat NEET saat ini “memalukan”.
Menteri Keuangan John Healey, yang akan menyampaikan anggaran pertamanya pada 28 Oktober, sebelumnya menyatakan pemerintah memiliki “kewajiban moral” untuk menangani belanja kesejahteraan. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa reformasi sistem tunjangan akan menjadi salah satu poros fiskal pemerintahan Labour, meski rinciannya masih dinanti.
Yang menjadi pertanyaan besar: akankah paket magang dan tinjauan Milburn benar-benar mengubah nasib hampir sejuta anak muda, atau hanya menjadi retorika politik menjelang anggaran? Publik akan menguji apakah janji “investasi pada kesuksesan” terwujud dalam angka nyata, bukan sekadar pernyataan di atas kertas.



