Appi Tinggalkan Golkar, Incar Kursi Ketua Demokrat Sulsel Lewat Musda 23 Oktober
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin resmi mundur dari Golkar dan mencalonkan diri sebagai Ketua DPW Demokrat Sulawesi Selatan.
- Pencalonannya diklaim didukung 24 DPC Demokrat se-Sulsel dan berpotensi menjadi calon tunggal pada Musda 23 Oktober.
- Jika terpilih, Appi akan memimpin mesin politik Demokrat di Sulsel, mengubah peta kekuatan partai menjelang kontestasi elektoral berikutnya.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, resmi mengakhiri karier politiknya di Partai Golkar dan mencalonkan diri sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Demokrat Sulawesi Selatan. Langkah ini menandai perpindahan kendaraan politik yang signifikan bagi salah satu figur eksekutif paling berpengaruh di Indonesia timur, sekaligus membuka babak baru dalam konstelasi perpolitikan lokal menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulsel pada 23 Oktober mendatang.
Keputusan Appi untuk hengkang dari Golkar bukan tanpa alasan. Pada 5 Oktober lalu, ia menyerahkan langsung surat pengunduran diri kepada Ketua DPD I Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin di Makassar. Saat itu, Appi menjabat sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar. Menurut Wakil Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPD I Golkar Sulsel, Kadir Halid, surat tersebut telah diterima dan prosesnya dinyatakan resmi. "Sudah resmi mundur, mulai hari ini. Tadi pagi diantar langsung suratnya ke rumah Pak IAS," ujar Kadir seperti dikutip dari detikSulsel, Senin (5/10).
Perpindahan Appi ke Demokrat disebut-sebut terjadi setelah ia mendapat tawaran bergabung dari partai berlambang mercy tersebut. Ketertarikan Demokrat terhadap Appi tampaknya berbanding lurus dengan dukungan yang ia terima. Sekretaris DPD Demokrat Sulsel, Haidar Majid, mengungkapkan bahwa 24 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Demokrat dari kabupaten/kota se-Sulsel telah menyatakan dukungan kepada Appi. Bahkan, ia disebut sebagai calon tunggal dalam Musda nanti. "Alhamdulillah, Ketua DPC 24 kabupaten/kota hadir pada kesempatan ini," kata Haidar usai Appi mengembalikan formulir pendaftaran di Makassar, Minggu (18/10).
Dukungan yang mengalir deras tidak hanya berasal dari struktur DPC, tetapi juga dari organisasi sayap Partai Demokrat. Haidar menambahkan bahwa berkas persyaratan yang diserahkan Appi telah diperiksa dan dinyatakan lengkap oleh panitia. "Setelah dilakukan pengecekan berkas bapak Munafri Arifuddin, berkas dinyatakan lengkap," ujarnya. Dengan demikian, Appi tinggal selangkah lagi menuju kursi ketua DPW, kecuali ada dinamika politik yang muncul menjelang Musda.
Bagi Partai Demokrat, kehadiran Appi di kursi pimpinan wilayah Sulsel berpotensi memperkuat basis partai di salah satu provinsi dengan jumlah pemilih terbesar di luar Jawa. Appi adalah figur yang memiliki rekam jejak sebagai wali kota petahana dan memiliki jaringan politik yang luas. Namun, kepindahannya dari Golkar juga menimbulkan tanda tanya tentang loyalitas dan dampaknya terhadap koalisi partai di tingkat lokal. Golkar, sebagai partai besar, tentu tidak akan tinggal diam menghadapi kehilangan salah satu kader potensialnya.
"Pak Appi mendapat dukungan sayap Partai Demokrat pada kesempatan kali ini," ujar Haidar Majid, Sekretaris DPD Demokrat Sulsel.
Musda Demokrat Sulsel yang akan digelar pada 23 Oktober mendatang menjadi momen penentuan. Jika Appi benar-benar melenggang tanpa lawan, ia akan memimpin mesin politik Demokrat di Sulsel selama lima tahun ke depan. Ini juga menjadi sinyal bahwa Demokrat serius membangun kekuatan di wilayah timur Indonesia, terutama menjelang Pemilu 2029. Sebaliknya, jika muncul kandidat lain, dinamika internal bisa menjadi ujian bagi soliditas partai.
Yang lebih menarik, langkah Appi mencerminkan tren politisi lokal yang semakin cair dalam memilih kendaraan politik. Fenomena pindah partai menjelang kontestasi bukan hal baru, tetapi perpindahan seorang wali kota petahana dari partai pemenang pemilu ke partai lain menunjukkan bahwa elektabilitas personal kini lebih menentukan daripada ikatan partai. Hal ini tentu menjadi catatan bagi partai-partai tradisional untuk mereformasi kaderisasi dan mempertahankan tokoh-tokoh populis di daerah.
Ke depan, publik Sulsel akan menyoroti apakah Appi mampu mengonversi dukungan elite menjadi dukungan akar rumput, dan bagaimana ia menyeimbangkan perannya sebagai wali kota dengan tugas ketua partai. Jika berhasil, ia bisa menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di panggung politik nasional. Namun, jika gagal, langkahnya bisa menjadi pelajaran tentang risiko berpindah kendaraan di tengah jalan.



