Tottenham Krisis Finishing, Marmoush Jadi Solusi yang Terlupakan?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur masih tertahan di papan bawah dan menghadapi Coventry City dalam laga krusial, tetapi masalah utama tim bukanlah pertahanan melainkan ketajaman lini depan.
- Omar Marmoush, yang didatangkan dari Manchester City, belum mencetak gol atau assist, namun rekam jejaknya sebagai predator kotak penalti bisa menjadi kunci untuk membongkar pertahanan lawan.
- Pelatih De Zerbi perlu mempertimbangkan duet Solanke-Marmoush untuk meningkatkan produktivitas gol, mengingat Spurs memiliki catatan expected goals (xG) yang buruk musim ini.

Tottenham Hotspur kembali menuai sorotan menjelang laga melawan Coventry City. Bukan karena performa apik, melainkan karena masalah klasik yang tak kunjung usai: mandul di depan gawang. Meski mampu menciptakan peluang, The Lilywhites kesulitan mengonversinya menjadi gol, dan itu menjadi momok sepanjang musim ini.
Dalam pertandingan terakhir melawan Manchester United, Spurs sebenarnya tampil dominan. Mereka mencatatkan 2,03 expected goals (xG)—tertinggi sepanjang musim ini. Namun, keunggulan jumlah peluang itu tidak berbanding lurus dengan hasil akhir. Rodrigo Bentancur diusir keluar lapangan, dan kemenangan yang seharusnya diraih justru berubah menjadi hasil imbang 1-1. Dominic Solanke, yang dipercaya sebagai kapten, memang mencetak gol penyama kedudukan di menit akhir, tetapi penyelesaiannya di sepanjang laga dinilai jauh dari kata memuaskan.
Data menunjukkan bahwa Spurs berada di peringkat ke-14 untuk peluang besar yang diciptakan dan ke-19 untuk xG di Premier League. Hanya Coventry—lawan mereka pada Senin malam—yang memiliki catatan lebih buruk. Ini menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah kemampuan membangun serangan, melainkan efisiensi di kotak penalti. Pelatih De Zerbi, yang dikenal pragmatis, telah memperbaiki organisasi pertahanan, tetapi ia belum menemukan formula tepat untuk mempertajam lini depan.
Di tengah keterbatasan opsi, nama Omar Marmoush kembali mencuat. Pemain asal Mesir itu didatangkan dari Manchester City pada musim panas, tetapi belum menunjukkan performa terbaiknya. Ia belum mencetak gol atau assist, dan sering kali ditempatkan di sayap kiri—posisi yang tidak ideal untuk seorang finisher murni. Padahal, rekam jejaknya bersama Eintracht Frankfurt dan Manchester City membuktikan bahwa ia adalah predator kotak penalti yang haus gol.
“Marmoush memiliki potensi menjadi finisher terbaik Tottenham sejak Harry Kane. Ia telah membuktikan kemampuan mencetak gol secara konsisten, dan mungkin sudah saatnya De Zerbi mencoba opsi baru di lini depan,” ujar seorang pengamat taktis.
Pada musim 2023/24, Marmoush mencetak 17 gol untuk Frankfurt, lalu meledak dengan 28 gol dan 14 assist pada 2024/25—sebagian besar bersama City. Di Bundesliga, ia mencetak 15 gol dalam 17 pertandingan, hanya terpaut sedikit dari Kane dalam hal gol per 90 menit. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Marmoush bukan sekadar pelengkap, melainkan aset berharga yang belum dimaksimalkan.
Dengan Savio yang absen selama beberapa pekan karena cedera, peluang untuk merombak lini depan terbuka lebar. De Zerbi bisa mencoba menduetkan Marmoush dengan Solanke dalam formasi dua penyerang. Solanke telah menunjukkan pergerakan yang lebih baik dalam mencari ruang, sementara Marmoush bisa berperan sebagai penyerang kedua yang menusuk dari belakang. Kombinasi ini berpotensi meningkatkan ketajaman Spurs, terutama melawan Coventry yang juga memiliki masalah defensif.
Keputusan De Zerbi untuk tetap menggunakan formasi satu penyerang mungkin didasari oleh keseimbangan tim. Namun, jika Spurs terus kesulitan mencetak gol, perubahan taktis menjadi keniscayaan. Laga melawan Coventry bisa menjadi momen yang tepat untuk bereksperimen, sebelum jadwal berat menanti. Pertanyaannya, apakah De Zerbi berani mengambil risiko dengan memainkan dua striker sekaligus, ataukah ia akan tetap bertahan dengan pendekatan konservatif yang belum membuahkan hasil?



