Anne Hathaway dan Indra Penciuman 'Ekstrem' di Kehamilan Ketiga: Bisa 'Mencium Waktu'
Baca dalam 60 detik
- Anne Hathaway mengungkapkan gejala kehamilan ketiganya yang tidak biasa: indra penciuman yang sangat tajam hingga ia merasa bisa mencium aroma dari masa lalu.
- Perubahan hormon selama kehamilan memang dapat memengaruhi sensitivitas penciuman, tetapi pengalaman Hathaway menyoroti bagaimana gejala ini bisa berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk saat promosi film.
- Meski menghadapi tantangan fisik, Hathaway memandang kehamilan sebagai perjalanan yang memperkaya, dan ia merasakan adanya pergeseran budaya dalam keterbukaan membicarakan pengalaman kehamilan.

Anne Hathaway, aktris peraih Oscar yang kini berusia 43 tahun, sedang menantikan anak ketiganya bersama suami, Adam Shulman. Dalam wawancara di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, ia mengungkapkan bahwa kehamilan kali ini membawa gejala yang tidak biasa: indra penciumannya menjadi luar biasa tajam. Hathaway bahkan bercanda bahwa ia bisa "mencium waktu", merujuk pada kemampuannya menangkap aroma yang membangkitkan memori dari dekade lampau.
Berbeda dengan kehamilan pertama yang didominasi rasa lelah, dan kehamilan kedua yang ditandai masalah jerawat, kali ini hidungnya menjadi pusat perhatian. "Saya bisa mencium tidak hanya musim panas ini, tetapi juga musim panas beberapa tahun lalu. Saya seperti kembali ke era 80-an," ujarnya. Ia menggambarkan pengalaman tersebut seperti adegan dalam film Goodfellas, ketika ia harus melewati berbagai tempat—dari lorong hotel, dapur, hingga lift—dan mencium setiap aroma yang ada, termasuk pesanan layanan kamar.
Meski terdengar lucu, gejala ini juga menimbulkan ketidaknyamanan. Hathaway mengaku sulit menahan rasa mual saat mencium parfum atau cologne yang menyengat, terutama ketika orang-orang terdekat mendekatinya untuk menyapa. "Parfumnya sangat kuat. Orang yang saya cintai datang, dan saya langsung ingin muntah," kenangnya. Ia pun berseloroh bahwa targetnya di trimester pertama adalah tidak muntah di tempat umum, sedangkan di trimester ketiga adalah tidak berjalan dengan gaya bebek.
Di balik kelucuan cerita tersebut, perubahan indra penciuman memang lazim dialami ibu hamil. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron dapat memengaruhi sistem olfaktori, membuat bau tertentu terasa lebih kuat atau mengganggu. Namun, intensitas yang dialami Hathaway—hingga bisa "mencium waktu"—jarang terjadi. Hal ini menyoroti bagaimana kehamilan dapat mengubah persepsi sensorik secara dramatis, memengaruhi rutinitas, bahkan pekerjaan.
Hathaway juga merenungkan perjalanan kariernya di tahun 2026 yang padat. Meski sedang hamil, ia tetap menyelesaikan berbagai proyek film bergengsi. "Anda bisa melakukan banyak hal meski sangat lelah. Ini perjalanan luar biasa untuk menemukan kekuatan diri," tuturnya kepada Extra. Ia merasa bahwa kehamilan justru memperkaya hidupnya, memperluas kesabaran dan kasih sayang, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Ketika ditanya perbedaan kehamilan ketiga dengan dua sebelumnya, Hathaway menyoroti adanya pergeseran budaya. "Ada lebih banyak kesadaran. Hal-hal yang dulu terjadi di balik pintu tertutup kini lebih terbuka untuk dibicarakan sebagai pengalaman manusia," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana masyarakat modern semakin menerima dan mendiskusikan realitas kehamilan secara terbuka, mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan.
Bagi publik Indonesia, kisah Hathaway bisa menjadi cermin bahwa kehamilan adalah fase unik dengan tantangan tersendiri. Meski gejala seperti sensitivitas penciuman mungkin dianggap sepele, dampaknya pada kualitas hidup bisa signifikan. Dukungan dari pasangan, keluarga, dan lingkungan kerja menjadi kunci. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental dan fisik ibu hamil juga terus meningkat, seiring dengan kampanye edukasi dan layanan konseling yang lebih mudah diakses.
Ke depan, akankah lebih banyak figur publik yang berani membagikan pengalaman kehamilan mereka secara jujur, seperti Hathaway? Keterbukaan semacam ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan memberdayakan perempuan untuk tidak merasa sendirian menghadapi perubahan tubuh yang ekstrem. Dengan demikian, cerita Hathaway bukan sekadar hiburan, melainkan juga kontribusi pada dialog kesehatan reproduksi yang lebih inklusif.



