Bitcoin Cetak Kuartal Terbaik Sejak 2024, tapi Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Bayangan
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin ditutup naik 42,7% pada kuartal III, kinerja kuartalan terkuat sejak awal 2024, sementara Ether melonjak 70,8%.
- Pasar kripto memulai kuartal IV dengan datar, tertekan oleh yield obligasi AS tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi 24 tahun di 5,362%.
- Laporan Nonfarm Payrolls September menjadi katalis berikutnya; ekspektasi pasar 90.000 lapangan kerja baru dan tingkat pengangguran tetap 4,1%.

Bitcoin mengakhiri kuartal III dengan kenaikan 42,7%, performa kuartalan terbaiknya sejak awal 2024, namun euforia itu langsung diuji oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada perdagangan overnight. Harga Bitcoin bertahan tipis di bawah US$84.000 pada hari pertama kuartal IV, sementara Ether—yang mencatat kenaikan 70,8% pada periode yang sama—berada tidak jauh di atas US$2.700.
Angka tersebut menandai pembalikan besar dari kuartal-kuartal sebelumnya yang lesu. Ether bahkan menorehkan kinerja terbaiknya sejak kuartal I 2021, ketika saat itu melesat 160,7%. Namun, laju penguatan dua aset kripto utama ini kini tertahan oleh dinamika makro yang bergeser cepat: pasar obligasi.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,362%—level tertinggi sejak 2001—sebelum mundur ke 5,282%. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, terutama menjelang rilis data ketenagakerjaan September. Para ekonom memperkirakan perekonomian AS menambah 90.000 lapangan kerja bulan lalu, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,1%.
Bagi investor kripto, tingginya imbal hasil obligasi menawarkan alternatif yang lebih menarik dibanding aset berisiko. Ketika yield melonjak, daya tarik Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi pun tergerus, setidaknya dalam jangka pendek. Pedagang bearish tampak memanfaatkan momen ini untuk mengunci posisi menjelang data payroll, yang bisa menjadi penentu arah suku bunga berikutnya.
"Pasar kripto saat ini berada di persimpangan antara momentum bullish kuartalan dan tekanan makro dari pasar obligasi," ujar seorang analis pasar kripto yang tidak ingin disebutkan namanya.
Di Indonesia, sentimen ini turut memengaruhi minat investor ritel terhadap aset kripto. Meski kenaikan kuartalan terbilang impresif, fluktuasi harga yang tajam dan ketidakpastian global membuat sebagian pelaku pasar cenderung wait and see. Regulator dalam negeri terus mengingatkan pentingnya manajemen risiko, terutama bagi investor pemula yang tergiur return tinggi tanpa memperhitungkan volatilitas.
Ke depan, pergerakan Bitcoin dan Ether akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sikap The Fed. Jika laporan payroll menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan, tekanan jual bisa meningkat. Sebaliknya, data yang lemah berpotensi meredakan kekhawatiran suku bunga dan memberi ruang bagi kripto untuk melanjutkan reli. Pertanyaannya, apakah kuartal IV akan menjadi kelanjutan euforia atau justru koreksi tajam?



