Oasis Gugat Lelang Rekaman Langka, 100 Jam Tape Latihan Disita Hukum
Baca dalam 60 detik
- Oasis mengajukan gugatan untuk menghentikan lelang arsip audio berisi 63 pertunjukan langsung dan lebih dari 100 jam rekaman latihan dari era 1990-an.
- Lelang yang digelar Littleton Auctions resmi ditunda setelah pihak band menempuh jalur hukum, meski barang memorabilia lain tetap dilelang.
- Penundaan ini membuka babak baru sengketa hak milik arsip musik di tengah persiapan tur reuni Oasis Live '27 yang tiketnya ludes dalam hitungan jam.

Oasis mengambil langkah hukum untuk menghentikan pelelangan arsip audio berisi rekaman tak pernah dirilis dari masa kejayaan mereka di dekade 1990-an. Gugatan itu menyasar rumah lelang Littleton Auctions yang berencana melepas ratusan tape berisi pertunjukan langsung, sesi soundcheck, dan latihan intensif bersama Liam dan Noel Gallagher.
Koleksi tersebut dihimpun oleh Huw Richards, seorang sound engineer yang bekerja bersama band dari 1994 hingga 2001. Isinya mencakup 63 pertunjukan live, berbagai sesi soundcheck, serta lebih dari 100 jam rekaman latihan. Totalnya terdapat 209 kaset DAT, 73 kaset analog, dan tiga MiniDisc—sebuah dokumentasi yang oleh kalangan kolektor disebut sebagai “The Desk Tapes”.
Littleton Auctions semula menjadwalkan lelang pada 3 Oktober. Namun, Managing Director Ben Homer memastikan arsip audio itu ditarik dari daftar jual. “Kami sangat kecewa tidak dapat menawarkan arsip signifikan ini sesuai rencana,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa proses hukum yang berjalan membuat pihaknya memilih menghormati jalur litigasi dan menahan diri berkomentar lebih jauh.
Owain Richards, putra Huw, mengajukan koleksi tersebut ke rumah lelang. Ia mengonfirmasi bahwa band tidak menghendaki lelang berjalan. “Benar bahwa Oasis menggugat saya dan ayah saya untuk mencegah lelang kaset yang dibuat ayah saya bertahun-tahun lalu,” katanya kepada BBC. Ia menyatakan pihaknya sepakat menunda lelang agar sengketa hukum dapat diselesaikan secara teratur, baik melalui pengadilan maupun jalur lain.
Meski arsip audio ditarik, Littleton Auctions tetap melanjutkan lelang untuk memorabilia lain. Barang-barang yang dilepas antara lain parka tur Kangol Oasis dari koleksi pribadi Richards, setlist asli, dan itinerary tur internal. Lelang tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober.
Sengketa ini muncul bersamaan dengan kebangkitan Oasis di panggung live. Band yang kembali bersatu itu mengonfirmasi tur Oasis Live ’27 yang akan menelusuri Skotlandia, Inggris, Jerman, Spanyol, Belanda, Prancis, Italia, Amerika Serikat, dan Irlandia. Sebanyak 42 pertunjukan disiapkan, termasuk enam malam di Knebworth House, satu tanggal di Stadion Olimpiade Roma pada 26 Juli, dan Allianz Arena Munich pada 6 Juli.
Antusiasme penggemar luar biasa. Laporan menyebut lebih dari 11 juta orang mendaftar untuk sekitar 2 juta tiket yang tersedia. Seorang sumber menyatakan Oasis sebenarnya bisa menggelar 12 malam di Etihad Stadium Manchester dan tetap saja permintaan tidak terpenuhi. “Noel dan Liam terkesan dengan sambutan penggemar dan berharap bisa menambah jadwal, tetapi 42 pertunjukan adalah batasnya,” ujar sumber tersebut.
Setelah tiket habis, Liam Gallagher menulis di media sosial, “That’s all folks.” Namun ia memberi sinyal bahwa konser tambahan mungkin terjadi jika band menghasilkan materi baru. “Jika semuanya berjalan baik, langkah berikutnya adalah berbicara tentang musik baru. Saya tidak bisa membayangkan kami tur lagi tanpa lagu baru,” ujarnya.
Bagi industri musik global, kasus Oasis versus keluarga Richards menyoroti celah kepemilikan arsip audio dari personel teknis yang bekerja di balik layar. Sound engineer sering menyimpan salinan rekaman sebagai dokumentasi kerja, tetapi status hukumnya kerap abu-abu ketika band ingin mengendalikan narasi warisan mereka. Penundaan lelang ini bisa menjadi preseden tentang siapa yang berhak memperdagangkan rekaman latihan dan pertunjukan yang tidak pernah dirilis resmi.
Di Indonesia, fenomena lelang memorabilia musik juga mulai tumbuh, terutama untuk band-band legendaris era 1990-an. Namun, tanpa regulasi jelas soal kepemilikan master rekaman dan hak cipta, sengketa serupa berpotensi muncul. Penggemar dan kolektor perlu memahami bahwa nilai historis sebuah kaset tidak otomatis berarti hak jual ada di tangan pemegang fisiknya.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah The Desk Tapes akan kembali dilelang, melainkan bagaimana Oasis mengelola warisan audio mereka di tengah gelombang reuni. Jika band benar-benar merilis musik baru, arsip lama bisa jadi bagian dari narasi yang lebih besar—atau justru dikubur permanen demi melindungi kontrol artistik. Sampai putusan hukum keluar, 100 jam rekaman itu tetap berada di ruang abu-abu antara sejarah dan aset komersial.



