Krisis Gelandang Juventus: Owusu Naik Kelas, Brozovic Dilewati
Baca dalam 60 detik
- Juventus kehilangan dua gelandang utama hingga awal 2027, memaksa rotasi lini tengah.
- Klub memilih mempromosikan produk akademi daripada merekrut pemain bebas transfer.
- Langkah ini menjadi ujian bagi kedalaman skuat dan filosofi pengembangan pemain muda.

Turin โ Juventus harus menghadapi paruh musim dengan lini tengah yang terkuras. Dua gelandang andalan, Khephren Thuram dan Manuel Locatelli, dipastikan absen hingga tiga bulan ke depan. Alih-alih berburu pemain bebas transfer, klub justru memberi sinyal kuat untuk mempromosikan produk akademi, Augusto Sedorf Owusu, ke tim utama.
Keputusan ini muncul di tengah badai cedera yang melanda skuat asuhan Thiago Motta. Thuram menjalani operasi lutut pekan lalu dan baru bisa kembali sekitar Januari 2027. Ia bahkan sempat dicoret dari daftar pemain Serie A. Sementara itu, Locatelli dijadwalkan menjalani operasi meniskus dan akan menepi dalam periode yang hampir bersamaan.
Dengan dua nama tersebut absen, Juventus praktis hanya memiliki tiga gelandang tengah murni yang siap tampil. Situasi ini sempat memunculkan spekulasi bahwa klub akan memanfaatkan jendela transfer khusus untuk pemain bebas, seperti Marcelo Brozovic, mantan bintang Inter Milan. Namun, laporan dari TMW menyebutkan bahwa Bianconeri lebih memilih memberi kepercayaan kepada Owusu, pemain berusia 21 tahun yang selama ini memperkuat tim U23.
Owusu sebenarnya sudah masuk dalam daftar susunan pemain saat Juventus ditahan imbang 1-1 oleh Milan akhir pekan lalu, meski tidak diturunkan. Tuttosport mengonfirmasi bahwa peluang untuk tampil di laga-laga berikutnya akan semakin terbuka lebar. Langkah ini menunjukkan keberanian klub dalam memanfaatkan talenta muda di tengah keterbatasan.
Selain Owusu, Juventus juga baru saja mendatangkan Pape Matar Sarr dari Tottenham Hotspur di hari terakhir bursa transfer. Namun, pemain asal Senegal itu masih dalam masa pemulihan cedera, sehingga belum bisa langsung menjadi solusi. Dengan demikian, Owusu menjadi kandidat kuat untuk mengisi slot gelandang tengah dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan ini bukan sekadar soal kebutuhan mendesak. Ini juga menjadi sinyal bahwa Juventus mulai serius mengadopsi pendekatan jangka panjang, mirip dengan klub-klub Eropa lain yang gencar mempromosikan pemain muda. Namun, risiko tetap ada: tekanan kompetisi Serie A dan Liga Champions tidak memberi ruang untuk eksperimen berlebihan.
Di sisi lain, langkah ini bisa menjadi pelajaran menarik bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia. Ketika tim besar Eropa mulai mempercayai pemain akademi di tengah krisis, hal itu menegaskan pentingnya investasi pada pembinaan usia muda. Klub-klub Indonesia yang kerap mengandalkan pembelian pemain asing bisa meniru pola ini untuk memperkuat skuat tanpa menguras anggaran besar.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Owusu mampu memanfaatkan kesempatan langka ini untuk membuktikan kualitasnya? Atau justru Juventus akan menyesal tidak merekrut pemain berpengalaman seperti Brozovic? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa laga ke depan, saat Owusu kemungkinan besar mendapat menit bermain yang sesungguhnya.



