Pratikno Bungkam Usai Dicopot dari Menko PMK, Sinyal Kuat Menuju Wantimpres?
Baca dalam 60 detik
- Pratikno resmi lengser dari kursi Menko PMK setelah reshuffle 1 Oktober, digantikan Sugiono yang sebelumnya menjabat Menlu.
- Ia enggan mengonfirmasi isu penunjukan sebagai anggota Wantimpres, hanya berujar 'nanti ada berita berikutnya'.
- Rotasi ini memicu pertanyaan soal arah kebijakan pembangunan manusia dan pendidikan gratis yang menjadi program prioritas Prabowo.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno memilih bungkam ketika ditanya soal masa depannya di kabinet Prabowo Subianto, sehari setelah ia dicopot dari jabatannya dalam perombakan kabinet pada Kamis (1/10). Ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, ia hanya memberi jawaban menggantung tanpa mengonfirmasi maupun membantah isu yang beredar.
Ketika ditanya ulang mengenai kemungkinan dirinya mengisi kursi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Pratikno tetap menahan diri. "Nanti kan ada berita berikutnya," ujarnya singkat, memberi kesan bahwa pengumuman resmi masih ditunggu dalam waktu dekat. Sikap hati-hati ini berbeda dari gaya komunikasi sejumlah pejabat yang biasanya langsung membantah atau membenarkan isu posisi baru.
Yang menarik, Pratikno menegaskan telah berkomunikasi dengan penggantinya, Sugiono, untuk memastikan transisi berjalan mulus. Sejumlah agenda yang ia titipkan mencakup rekonstruksi pascabencana di berbagai daerah, percepatan program pendidikan gratis yang diperintahkan Presiden Prabowo, hingga pengembangan sekolah unggul seperti Sekolah Unggul Garuda dan sekolah nasional terintegrasi. Menurutnya, koordinasi ini penting agar program-program strategis tidak kehilangan momentum.
Pratikno juga menyampaikan terima kasih kepada Prabowo atas kepercayaan yang diberikan selama dua tahun terakhir. Ia menilai pengalaman memimpin sektor pembangunan manusia merupakan kehormatan sekaligus pembuktian kapasitasnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa ia tidak meninggalkan kabinet dengan rasa kecewa, melainkan menutup babak kepemimpinannya secara elegan.
"Kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden atas kepercayaan dan mandat yang diberikan," kata Pratikno, menegaskan bahwa bidang pembangunan manusia memang menjadi wilayah keahliannya.
Rotasi ini bukan sekadar pergantian orang. Pengangkatan Sugiono dari Menlu ke Menko PMK, lalu penetapan Arrmanatha Nasir sebagai Menlu, menunjukkan pola konsolidasi politik yang lebih luas. Prabowo tampaknya ingin memastikan dua portofolio kunci โ diplomasi dan pembangunan manusia โ diisi figur yang selaras dengan prioritas pemerintah, terutama menjelang tahapan krusial program pendidikan gratis dan pemulihan daerah bencana.
Bagi publik, pertanyaan utamanya bukan hanya siapa yang duduk di kursi mana, tetapi apakah estafet kebijakan akan berjalan tanpa gangguan. Program pendidikan gratis dan sekolah unggul Garuda menyentuh langsung jutaan siswa dan anggaran negara dalam jumlah besar. Jika transisi kepemimpinan di kementerian koordinator tidak mulus, risiko penundaan implementasi menjadi nyata.
Sementara itu, posisi Pratikno masih menjadi teka-teki. Jika benar ia melangkah ke Wantimpres, maka perannya bergeser dari eksekutor kebijakan menjadi pemberi nasihat strategis kepada presiden. Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi dari Istana. Publik menunggu apakah pengumuman dalam waktu dekat akan menjawab spekulasi, atau justru membuka babak baru dinamika politik di lingkaran inti pemerintahan Prabowo.



