Sharon Stone Ungkap Kehamilan Remaja Akibat Minimnya Pendidikan Seks
Baca dalam 60 detik
- Sharon Stone mengaitkan kehamilannya di usia 17 tahun dengan absennya edukasi kesehatan reproduksi yang memadai.
- Ia mengkritik standar ganda dalam riset medis dan akses layanan aborsi yang timpang di Amerika Serikat.
- Kisah Stone membuka diskusi soal perlunya reformasi pendidikan seks dan perlindungan hak reproduksi perempuan.

Aktris senior Hollywood Sharon Stone mengungkap bahwa kehamilannya pada usia 17 tahun merupakan konsekuensi langsung dari tidak adanya pendidikan seks yang memadai di lingkungan tempat ia tumbuh. Dalam wawancara di podcast IMO yang dipandu Michelle Obama dan Craig Robinson, Stone mengenang betapa minimnya informasi yang ia terima dari keluarga, terutama ibunya, mengenai kesehatan reproduksi.
Stone menuturkan bahwa satu-satunya nasihat yang ia dapatkan dari ibunya adalah peringatan agar menjauhi laki-laki yang mengganggu. “Itu seluruh isi percakapan tentang seks,” ujarnya, menggambarkan betapa tabunya topik tersebut di keluarganya. Ia juga menyoroti bahwa sang kekasih saat itu, seorang teknisi listrik kereta api berusia 23 tahun dengan penghasilan mapan, sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kontrasepsi. “Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa saya butuh alat kontrasepsi, dan saya pun tidak tahu apa-apa,” kata Stone.
Pernyataan Stone menyoroti kesenjangan sistemik dalam pendidikan kesehatan reproduksi yang masih terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 21 juta remaja perempuan di negara berkembang mengalami kehamilan setiap tahun, dan sebagian besar terjadi karena kurangnya akses informasi dan layanan kontrasepsi. Di Indonesia, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatat bahwa 7% perempuan usia 15-19 tahun pernah melahirkan atau sedang hamil, dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang masih rendah.
Lebih jauh, Stone mengkritik ketimpangan dalam riset medis yang menurutnya lebih banyak menguji hormon perempuan pada laki-laki karena dianggap lebih konsisten. Ia juga mempertanyakan mengapa perempuan yang mengalami keguguran justru berpotensi dipidanakan di beberapa negara bagian Amerika Serikat. “Kami tidak ingin memberikan perawatan, tetapi ingin menuntut perempuan yang keguguran? Ini tidak masuk akal,” tegasnya.
“Jika laki-laki bisa hamil, aborsi bisa didapat dari mesin penjual otomatis.” — Sharon Stone
Gubernur Michelle Obama menimpali dengan nada bercanda bahwa jika laki-laki yang hamil, akan ada “Olimpiade kelahiran” dan cuti melahirkan akan dianggap sebagai bonus. Meski disampaikan secara jenaka, percakapan ini menyoroti realitas ketidaksetaraan gender dalam beban reproduksi dan pengambilan keputusan atas tubuh perempuan.
Kisah Stone bukan sekadar pengakuan pribadi. Ia menjadi cermin bagaimana stigma dan keterbatasan akses informasi dapat mengubah lintasan hidup seorang remaja. Di Indonesia, isu pendidikan seks masih menghadapi tantangan budaya dan agama, meskipun beberapa organisasi masyarakat sipil telah mengadvokasi kurikulum kesehatan reproduksi yang komprehensif. Pada 2022, Kementerian Pendidikan sempat menuai kritik karena tidak memasukkan pendidikan seksual dalam kurikulum merdeka, meski akhirnya beberapa materi dimasukkan sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana negara dan institusi pendidikan bersedia mengakui bahwa pendidikan seks bukanlah dorongan untuk berperilaku bebas, melainkan alat perlindungan bagi generasi muda. Tanpa itu, kisah seperti yang dialami Stone akan terus berulang, dengan konsekuensi yang tidak hanya dialami individu tetapi juga masyarakat luas.



