DNA Sintetis Siap Gantikan Data Center? Satu Kapsul Bisa Tampung 50 Petabyte
Baca dalam 60 detik
- AtlasBase mengembangkan chip DNA sintetis dengan 5,6 miliar titik reaksi, mampu menyimpan hingga 50 petabyte per kapsul.
- Penyimpanan berbasis DNA diklaim bertahan lebih dari 1.000 tahun tanpa listrik atau pendingin, menawarkan alternatif arsip jangka panjang.
- Teknologi ini masih dalam tahap awal dan belum terbukti secara komersial, sehingga adopsi di Indonesia kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, AtlasBase, tengah mengembangkan perangkat penyimpanan data yang menggunakan DNA sintetis sebagai medium. Dalam pengumuman terbarunya, mereka mengklaim satu kapsul DNA bernama Thalia dapat menampung hingga 50 petabyte (PB) data digital—setara dengan kapasitas puluhan ribu hard disk konsumen. Jika terealisasi, terobosan ini berpotensi mengubah lanskap infrastruktur penyimpanan data global yang saat ini didominasi pusat data berbasis magnetik dan flash.
Teknologi ini bukan sekadar konsep. AtlasBase telah membangun chip silikon yang menggabungkan lapisan CMOS 16nm dengan bagian biologis terpisah. Chip tersebut memiliki 5,6 miliar titik reaksi, meningkat 700 kali lipat dibandingkan teknologi sintesis DNA sebelumnya. Setiap titik berfungsi sebagai reaktor mini yang, dengan bantuan pulsa listrik, menentukan basa DNA mana yang ditambahkan pada setiap siklus sintesis. Hasilnya adalah untaian DNA sintetis yang dapat dikeringkan dan disegel dalam kapsul logam, lalu dimasukkan ke dalam kartrid yang menampung 100 kapsul. Satu kartrid berpotensi menyimpan antara 100 terabyte hingga 5 exabyte data.
Daya tahan menjadi nilai jual utama. Menurut AtlasBase, DNA sintetis mereka dapat tetap stabil selama lebih dari satu milenium tanpa perlu pasokan listrik atau pendinginan. Ini berbeda jauh dengan media penyimpanan konvensional yang memerlukan siklus penyegaran data dan konsumsi energi besar. Pendekatan ini menempatkan DNA bukan sebagai pengganti sistem penyimpanan berkecepatan tinggi, melainkan sebagai solusi arsip jangka panjang—misalnya untuk data pemerintahan, riset ilmiah, atau warisan digital yang harus bertahan lintas generasi.
"Selama 2 miliar tahun, DNA telah berkembang sebagai platform data alam, struktur yang sangat mampu memproses informasi yang mendefinisikan setiap makhluk hidup," ujar Jeff Treuhaft, CEO AtlasBase. "Kami sekarang memanfaatkan arsitektur yang sama untuk komputasi pada skala yang belum pernah mungkin sebelumnya."
Selain penyimpanan, AtlasBase juga mengembangkan komputasi molekuler. Alih-alih memindahkan data bolak-balik antara penyimpanan dan prosesor, perhitungan tertentu dapat dilakukan langsung menggunakan reaksi kimia DNA. Pendekatan ini menjanjikan untuk masalah optimasi dengan kombinasi sangat besar, seperti penjadwalan penerbangan yang harus memenuhi banyak batasan simultan. Sistem mereka diklaim dapat mengevaluasi ribuan hingga jutaan kandidat kombinasi secara paralel. Namun, untuk mengakses data yang tersimpan, masih diperlukan tahap persiapan dan sekuensing yang memakan waktu beberapa menit—jauh lebih lambat dibandingkan prosesor silikon konvensional.
AtlasBase telah membuka program akses awal bagi organisasi terpilih untuk mencoba penyimpanan dan komputasi molekuler ini. Mereka menyebut potensi aplikasi di bidang arsip, preservasi rekaman, perencanaan transportasi, operasi industri, keuangan, riset ilmiah, dan analisis sumber daya. Meski demikian, teknologi ini masih minim rekam jejak operasional dan bukti deployment komersial. Belum ada data independen yang membandingkan keandalan, biaya per gigabyte, atau kecepatan akses dengan sistem penyimpanan arsip yang sudah mapan seperti pita magnetik (LTO) atau disk optik.
Bagi Indonesia, implikasi teknologi ini bisa signifikan dalam jangka panjang. Negara ini memiliki kebutuhan arsip data yang terus tumbuh, mulai dari administrasi kependudukan, rekam medis, hingga data geospasial. Selama ini, solusi penyimpanan jangka panjang masih bergantung pada pusat data fisik yang boros energi dan rentan terhadap gangguan pasokan listrik. Jika DNA storage terbukti komersial, ia dapat menjadi alternatif untuk menyimpan data bersejarah atau cadangan nasional di lokasi dengan infrastruktur terbatas. Namun, tantangan adopsi tidak kecil: diperlukan investasi besar untuk riset, pengembangan sumber daya manusia, dan ekosistem bioteknologi yang saat ini belum menjadi prioritas utama di Indonesia.
Pertanyaannya, apakah dalam satu dekade ke depan DNA storage akan menjadi standar arsip global, atau tetap menjadi niche untuk institusi dengan kebutuhan ekstrem? AtlasBase dan pesaingnya masih harus membuktikan bahwa teknologi ini tidak hanya inovatif di laboratorium, tetapi juga ekonomis dan dapat diandalkan di dunia nyata. Tanpa bukti komersial yang kuat, DNA storage berisiko berhenti sebagai eksperimen menarik—bukan revolusi penyimpanan data.



