Terapi Hormon Menopause Dini Turunkan Risiko Jantung hingga 49%, Studi Baru Mengungkap
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru dalam JAMA Internal Medicine menemukan bahwa memulai terapi hormon saat perimenopause atau awal pascamenopause dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 22%.
- Efek perlindungan paling kuat terlihat pada wanita yang memulai terapi dalam 10 tahun setelah menopause, dengan penurunan risiko 27%, dan pada wanita kulit hitam mencapai 49%.
- Temuan ini menegaskan pentingnya waktu inisiasi terapi hormon dan memberikan implikasi bagi kebijakan kesehatan wanita di Indonesia, meskipun masih diperlukan uji klinis lebih lanjut.

Memulai terapi hormon pada masa perimenopause atau awal pascamenopause dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 22% dibandingkan mereka yang tidak menjalani terapi, menurut sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine. Temuan ini menyoroti pentingnya waktu inisiasi terapi hormon dalam melindungi kesehatan jantung wanita.
Penelitian yang menganalisis data 20 tahun dari lebih dari 2.700 partisipan dalam proyek SWAN (Study of Womenโs Health Across the Nation) ini menunjukkan bahwa wanita yang memulai terapi hormon dalam 10 tahun setelah menopause mengalami penurunan risiko penyakit jantung sebesar 27%. Yang mengejutkan, manfaat terbesar ditemukan pada wanita kulit hitam, dengan penurunan risiko mencapai 49%. Perbedaan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang mempertimbangkan faktor ras dan etnis dalam rekomendasi medis.
Samar R. El Khoudary, peneliti utama dari Virginia Commonwealth University, menjelaskan bahwa gejala vasomotor seperti hot flashes dan keringat malam umum terjadi selama transisi menopause dan terkait dengan risiko kardiovaskular di masa depan. "Penelitian sebelumnya tentang terapi hormon dan penyakit kardiovaskular sebagian besar berfokus pada wanita pascamenopause, sehingga kurang bukti tentang wanita perimenopause dan awal pascamenopause," ujarnya. El Khoudary menambahkan bahwa studi ini memanfaatkan data jangka panjang SWAN untuk mengeksplorasi apakah waktu inisiasi terapi hormon berperan penting.
"Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara terapi hormon menopause dan penyakit kardiovaskular dapat berbeda tergantung kapan terapi dimulai dan pada kelompok ras serta etnis yang berbeda. Efek yang lebih kuat pada wanita yang memulai terapi dalam 10 tahun setelah menopause konsisten dengan kemungkinan adanya jendela waktu selama transisi menopause dan awal pascamenopause ketika efek kardiovaskular terapi hormon berbeda," kata El Khoudary.
Meskipun hasilnya menjanjikan, El Khoudary mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga faktor perancu residual atau perbedaan antar kelompok dapat memengaruhi temuan. "Hasil ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati dan dikonfirmasi dalam uji klinis di masa depan," tegasnya.
Dr. Jennifer Wong, ahli kardiologi dari MemorialCare Heart and Vascular Institute, yang tidak terlibat dalam penelitian, menyambut baik temuan ini. Menurutnya, memulai terapi hormon lebih awal dalam transisi menopause mungkin memiliki manfaat kardiovaskular bagi wanita tertentu, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan siapa yang paling diuntungkan. "Perubahan hormonal pada perimenopause dan menopause dapat bersamaan dengan perubahan faktor risiko kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol abnormal, dan glukosa darah puasa yang meningkat," jelasnya. Wong menekankan bahwa menopause bukanlah penyakit, tetapi merupakan waktu penting untuk memperhatikan kesehatan jantung.
Dr. Prudence Hall, seorang ahli kebidanan dan ginekologi, juga menyoroti manfaat terapi hormon. Ia menjelaskan bahwa estradiol, sejenis estrogen, membantu menurunkan gula darah dan stres, serta bersifat anti-inflamasi dan menurunkan kolesterol LDL. "Penyebab dasar penyakit kronis seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke semuanya menurun, begitu pula penyakit Alzheimer, diabetes, banyak kanker, dan kematian akibat segala penyebab," ujarnya. Hall menambahkan bahwa penanganan menopause yang tepat akan menentukan kualitas hidup 40-50 tahun ke depan.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi signifikan. Dengan populasi wanita yang besar dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan menopause, informasi ini dapat mendorong diskusi lebih lanjut tentang terapi hormon yang aman dan efektif. Namun, akses terhadap terapi hormon dan pemahaman tentang risiko serta manfaatnya masih menjadi tantangan. Diperlukan edukasi yang lebih baik bagi tenaga kesehatan dan masyarakat umum untuk memastikan pengambilan keputusan yang tepat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah temuan ini akan mengubah pedoman klinis dan bagaimana penerapannya di negara dengan beragam profil genetik dan gaya hidup seperti Indonesia. Uji klinis lebih lanjut yang melibatkan populasi Asia, termasuk Indonesia, sangat diperlukan untuk mengonfirmasi manfaat dan keamanan terapi hormon pada kelompok ini.



