Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai, Integrasi Transportasi Jakarta Mulai Diuji
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian LRT rute Kelapa Gading–Manggarai, Rabu (17/9/2026), menandai beroperasinya fase 1B LRT Jakarta.
- Rute sepanjang 12,2 km ini menghubungkan kawasan padat hunian di utara dengan simpul transit Manggarai, berpotensi mengurai beban lalu lintas dan mendorong pergeseran moda.
- Uji coba terbatas untuk masyarakat berlangsung 17 September–2 Oktober 2026 dengan jam operasional terbatas, sebelum layanan penuh ditetapkan.

Presiden Prabowo Subianto menjejakkan kaki di Stasiun LRT Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang, bukan sekadar untuk meninjau fasilitas, melainkan menandai dimulainya pengoperasian rute baru Kelapa Gading–Manggarai. Kehadiran kepala negara di stasiun yang telah lama ditunggu warga Jakarta Utara itu menjadi sinyal bahwa proyek transportasi massal fase 1B LRT Jakarta resmi memasuki babak operasional.
Kedatangan Prabowo sekitar pukul 13.00 WIB disambut puluhan pelajar SMP yang sudah menunggu. Turut mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Presiden tampak mencoba langsung sistem tiket dengan menempelkan kartu di gerbang masuk, lalu meninjau ruang baca dan berdialog dengan sejumlah siswa sekolah dasar. Ia kemudian menaiki rangkaian LRT bersama Gubernur Pramono dan dua pelajar SMP, duduk di kursi penumpang sepanjang perjalanan.
Rute Kelapa Gading–Manggarai merupakan bagian dari pembangunan LRT Jakarta Fase 1B yang menghubungkan kawasan permukiman padat di Jakarta Utara dengan kawasan transit utama Manggarai. Sebelumnya, pada 10–16 September 2026, telah dilakukan uji coba terbatas rute Manggarai–Velodrome yang hanya diperuntukkan bagi undangan, perwakilan warga, lembaga, komunitas, dan jurnalis. Kini, pintu bagi masyarakat umum mulai dibuka melalui mekanisme registrasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa infrastruktur penunjang yang menghubungkan stasiun LRT dengan Transjakarta dan moda transportasi lain telah disiapkan. Integrasi antarmoda ini menjadi krusial karena rute baru melintasi koridor yang selama ini dikenal padat, terutama di jam sibuk. Dengan tersambungnya Kelapa Gading ke Manggarai, warga di kawasan utara Jakarta memiliki alternatif perjalanan menuju pusat kota tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional yang bergerak di sektor properti, ritel, dan logistik, pengoperasian LRT ini berpotensi mengubah peta permintaan kawasan. Stasiun-stasiun di sepanjang jalur dapat menjadi simpul pertumbuhan baru, mulai dari hunian vertikal hingga pusat kuliner dan perkantoran. Namun, dampak ekonomi itu tidak otomatis terwujud. Keberhasilan integrasi tarif, jadwal yang andal, dan akses pejalan kaki dari kawasan permukiman akan menentukan apakah LRT benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas atau sekadar proyek seremonial.
"Infrastruktur penunjang yang menghubungkan stasiun LRT dengan Transjakarta dan moda transportasi lainnya telah disiapkan," ujar Gubernur Pramono Anung, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Pemerintah menargetkan uji coba publik ini menjadi ajang evaluasi sebelum layanan komersial penuh. Jam operasional yang masih terbatas, pukul 09.00–16.00 WIB, memberi ruang bagi operator untuk membenahi sistem tiket, headway, dan kapasitas angkut. Setelah 2 Oktober 2026, publik akan menantikan apakah frekuensi perjalanan ditingkatkan dan apakah tarif yang diberlakukan mampu bersaing dengan biaya transportasi daring yang selama ini menjadi primadona.
Jika integrasi berjalan mulus, LRT Kelapa Gading–Manggarai dapat menjadi katalis bagi pemerataan pembangunan di Jakarta Utara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi yang menyumbang kemacetan dan polusi. Sebaliknya, tanpa perbaikan akses pejalan kaki dan antarmoda yang mulus, potensi tersebut bisa menguap. Dalam beberapa pekan ke depan, mata publik akan tertuju pada uji coba ini: apakah LRT baru ini mampu meyakinkan warga Jakarta bahwa transportasi massal adalah pilihan utama, bukan sekadar alternatif terakhir.



