Stallone Restui 'I Play Rocky', Film Biopik yang Diyakini Incar Oscar 2027
Baca dalam 60 detik
- Sylvester Stallone menyetujui film I Play Rocky yang mengisahkan perjuangannya membawa naskah Rocky ke layar lebar.
- Premiere di TIFF mendapat sambutan meriah, dengan Anthony Ippolito sebagai Stallone muda dan Stephan James sebagai Carl Weathers.
- Film ini diprediksi masuk bursa Oscar 2027, mengulang jejak Rocky yang meraih 10 nominasi dan 3 Piala Oscar.

Setelah bertahun-tahun menjadi ikon di balik karakter Rocky Balboa, Sylvester Stallone akhirnya memberikan restu langsung untuk I Play Rocky, film yang mengangkat kisah nyata perjuangannya mewujudkan Rocky (1976) ke layar lebar. Restu itu terungkap dalam sesi tanya jawab usai penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF), akhir pekan lalu.
“Sly menyukainya,” ujar sutradara Peter Farrelly di hadapan penonton, seperti dikutip dari sumber. Pernyataan itu menjadi penanda penting bahwa proyek biopik ini tidak sekadar mengandalkan nama besar, tetapi mendapat legitimasi dari sosok yang kisahnya diangkat.
Film ini menyorot era 1970-an ketika Stallone, yang saat itu belum dikenal, berjuang keras agar naskah Rocky diproduksi tanpa mengorbankan haknya sebagai aktor utama. Anthony Ippolito didapuk memerankan Stallone muda, sementara Stephan James dipercaya sebagai Carl Weathers, aktor yang memerankan Apollo Creed dan meninggal pada 2024.
Dalam sesi tersebut, Ippolito mengaku bersyukur diberi kesempatan besar oleh Farrelly dan tim produksi. “Saya berterima kasih karena mereka mau mengambil risiko pada aktor yang belum dikenal. Film ini menunjukkan bahwa menjadi aktor tidak selalu mudah, dan semua ini terasa sureal,” tuturnya.
Stephan James pun menyampaikan rasa hormatnya kepada Carl Weathers. “Saya merasa terhormat bisa melanjutkan warisan seseorang seperti Carl. Dia bukan hanya figur penting dalam waralaba Rocky, tetapi juga pelopor aktor laga kulit hitam terkemuka,” ujarnya. “Semua itu sangat berarti bagi saya, dan semoga saya bisa memberikan keadilan kecil untuknya.”
“Saya sempat berbicara dengan Stallone sebelum pembuatan film. Itu sangat membebani karena saya sudah lebih dari setahun mempelajarinya. Saya hanya berusaha mendengarkan sebanyak mungkin dan memahami perspektifnya. Rocky memang kisah underdog, tetapi Stallone dalam banyak hal juga underdog di kehidupan nyatanya.” — Anthony Ippolito
Kisah di balik layar I Play Rocky mencerminkan narasi underdog yang selama ini melekat pada Rocky. Stallone muda disebut-sebut harus menolak tawaran besar dari studio yang ingin membeli naskahnya asalkan ia tidak ikut membintangi. Keputusan itu kemudian terbukti mengubah arah kariernya dan melahirkan salah satu waralaba paling berpengaruh di Hollywood.
Bagi industri film global, keberhasilan I Play Rocky berpotensi membuka jalan bagi lebih banyak biopik tentang proses kreatif di balik karya ikonik. Jika film ini benar-benar masuk bursa Oscar 2027, ia akan mengikuti jejak Rocky yang meraih 10 nominasi dan memenangkan tiga Piala Oscar, termasuk Best Picture pada 1977.
Di Indonesia, antusiasme terhadap film biopik dan kisah olahraga terus tumbuh. Film seperti I Play Rocky dapat menjadi cermin bagi sineas lokal bahwa cerita di balik layar—perjuangan, penolakan, dan ketekunan—memiliki daya tarik pasar yang kuat. Apalagi, Rocky telah lama menjadi referensi budaya populer bagi banyak pegiat olahraga dan film di Tanah Air.
Dengan jadwal tayang November 2026, I Play Rocky akan menjadi salah satu rilisan paling dinanti menjelang musim penghargaan. Pertanyaannya, apakah film ini mampu mengulang kejayaan Rocky di panggung Oscar, atau justru menjadi bayang-bayang dari warisan yang sudah ada?



