Presiden Prabowo Gaungkan Bandung Spirit di KTT BRICS, BPIP Usul KAA II
Baca dalam 60 detik
- Dewan Pakar BPIP Darmansjah Djumala menilai pidato Prabowo di KTT BRICS New Delhi menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika 1955.
- Djumala mendorong Indonesia menggagas Konferensi Asia Afrika kedua sebagai langkah konkret merevitalisasi Bandung Spirit di abad ke-21.
- Langkah ini berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia di antara negara-negara Global South dan memperluas ruang kerja sama strategis.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di New Delhi, India, 12โ13 September 2026, dinilai sebagai upaya menghidupkan kembali semangat Bandung atau Bandung Spirit. Penilaian itu disampaikan Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut Djumala, warisan diplomasi Indonesia yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 itu masih relevan di tengah dunia yang kian terbelah. Ia menilai pernyataan Prabowo bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan sinyal bahwa Indonesia ingin memainkan peran lebih besar dalam percaturan global. "Warisan diplomasi Indonesia itu perlu digaungkan kembali di tengah situasi dunia yang semakin terbelah," ujarnya.
Djumala menjelaskan, Bandung Spirit lahir dari kesadaran negara-negara yang saat itu masih terjajah bahwa suara mereka lemah jika disampaikan sendiri-sendiri. Persatuan dan solidaritas membuat aspirasi negara berkembang lebih didengar. Nilai-nilai itu mencakup kesetaraan, kemandirian, penghormatan kedaulatan, serta penolakan terhadap dominasi dan ketidakadilan dalam hubungan internasional.
Djumala menilai KAA 1955 memiliki motivasi yang sejalan dengan perjuangan negara-negara Global South saat ini, termasuk melalui BRICS. Meski konteks geopolitiknya berbeda, ada benang merah yang sama: keinginan negara berkembang memperkuat posisi tawar, memperluas ruang kerja sama strategis, dan memastikan tata kelola global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan besar.
Ia mengingatkan, KAA 1955 membuktikan bahwa ketika negara berkembang bersatu, suara mereka dapat didengar di forum internasional seperti PBB. Suara Indonesia di belahan bumi selatan hari ini, termasuk melalui BRICS dan berbagai forum Global South, disebutnya sebagai kelanjutan dari suara yang pertama kali digaungkan melalui Bandung Spirit.
"Pernyataan Presiden Prabowo tentang Bandung Spirit di BRICS patut ditindaklanjuti sebagai gagasan strategis, bukan berhenti sebagai nostalgia sejarah. Salah satu langkah konkret yang dapat dipertimbangkan Indonesia adalah menggagas Konferensi Asia Afrika ke-2 untuk merevitalisasi Bandung Spirit sesuai tantangan abad ke-21," tutur Djumala.
Bagi Indonesia, usulan itu bukan tanpa dasar. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota BRICS, Indonesia memiliki modal untuk menjembatani kepentingan Global South dengan kekuatan ekonomi utama. Namun, tantangannya tidak ringan: dinamika geopolitik kawasan, persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, serta fragmentasi kepentingan negara berkembang menjadi ujian tersendiri.
Dari sisi ekonomi, penguatan posisi di forum Global South dapat membuka peluang kerja sama perdagangan, investasi, dan transfer teknologi. Namun, tanpa langkah konkret, gaung Bandung Spirit hanya akan menjadi retorika. Djumala menekankan perlunya tindak lanjut agar gagasan itu tidak berhenti sebagai nostalgia.
Ke depan, pertanyaannya: apakah Indonesia akan benar-benar menggagas KAA II, atau cukup puas menggaungkan warisan 1955 tanpa aksi nyata? Dunia menunggu, dan waktu tidak menunggu siapa pun.



