Wasit VAR MU vs Man City Diparkir, Integritas Premier League Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Pro Ref menonaktifkan Matt Donohue dan Blake Antrobus dari tugas akhir pekan setelah kontroversi gol Haaland.
- Keputusan ini memicu diskusi tentang konsistensi penerapan aturan offside dan peran VAR di Premier League.
- Bagi penggemar dan investor, insiden ini mengancam kredibilitas liga yang selama ini jadi tolok ukur sepak bola global.

Badan wasit Premier League, Pro Ref, resmi menyingkirkan dua petugas VAR dari penugasan akhir pekan ini sebagai buntut dari kekacauan pengambilan keputusan dalam laga Manchester United vs Manchester City. Matt Donohue dan asistennya, Blake Antrobus, tidak akan bertugas setelah Pro Ref mengakui adanya kelalaian dalam mengesahkan gol kemenangan Erling Haaland.
Insiden bermula ketika gol Haaland dianulir oleh wasit lapangan Michael Oliver karena offside. Namun, VAR melakukan intervensi dan membatalkan keputusan tersebut, menyatakan Haaland berada dalam posisi onside. Kontroversi muncul karena VAR dinilai mengabaikan posisi Enzo Fernandez, gelandang Man City, yang jelas-jelas offside dan berusaha menyundul bola. Menurut Laws of the Game yang dikeluarkan IFAB, pemain yang tidak menyentuh bola tetap bisa dianggap offside jika ia dianggap mengganggu permainan.
Keputusan Pro Ref untuk memarkir Donohue dan Antrobus menunjukkan bahwa tekanan publik dan media cukup efektif mendorong akuntabilitas. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar: apakah sistem VAR di Premier League sudah berjalan dengan standar yang memadai? Sejumlah pengamat menilai bahwa masalahnya bukan sekadar kesalahan individu, melainkan budaya pengambilan keputusan yang terlalu fokus pada satu aspek dan mengabaikan detail krusial.
Mantan pemain Liverpool, Jamie Carragher, dalam analisisnya di Sky Sports menyoroti kelemahan ini. "Mereka terlalu terobsesi dengan posisi Haaland yang onside, tetapi luput mempertimbangkan dampak Fernandez di tengah," ujarnya. Kritik semacam ini bukan hal baru, tetapi frekuensinya yang meningkat mengindikasikan ada masalah sistemik dalam penerapan teknologi di lapangan.
Bagi publik Indonesia, khususnya para penggemar sepak bola dan pelaku industri olahraga, insiden ini menjadi cermin bahwa adopsi teknologi dalam kompetisi domestik juga perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Liga 1 Indonesia tengah menggodok penggunaan VAR secara penuh, dan pelajaran dari Premier League menunjukkan bahwa investasi pada perangkat saja tidak cukup tanpa pelatihan dan standar operasional yang ketat.
Di sisi lain, keputusan Pro Ref untuk tetap menugaskan Michael Oliver dan ofisial lapangan lainnya pada akhir pekan ini menimbulkan tanda tanya. Apakah ini bentuk perlindungan terhadap wasit senior, atau justru sinyal bahwa kesalahan utama terletak pada tim VAR? Publik berhak mendapatkan transparansi lebih besar, terutama karena integritas liga taruhannya adalah kepercayaan global.
Ke depan, Premier League menghadapi ujian untuk mereformasi tata kelola wasit, termasuk kemungkinan memperkenalkan teknologi semi-otomatis offside yang lebih presisi. Tanpa langkah perbaikan yang konkret, kontroversi serupa akan terus menggerus kredibilitas kompetisi yang selama ini menjadi kiblat sepak bola dunia.



