Wirtz dan Bayang-Bayang Nunez: Liverpool Di Ambang Kesalahan Transfer Rp2,4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Florian Wirtz telah menelan biaya £128 juta bagi Liverpool sejak bergabung dari Bayer Leverkusen, namun performanya belum mencerminkan nilai investasi tersebut.
- Kegagalan Wirtz mengingatkan pada kasus Darwin Nunez, penyerang mahal yang juga gagal konsisten di Anfield.
- Jika tidak segera bangkit, Wirtz berisiko menjadi simbol buruknya strategi transfer Liverpool yang berdampak pada ambisi klub dan kredibilitas di pasar global.

Liverpool kembali dihadapkan pada momok kesalahan transfer mahal. Florian Wirtz, yang didatangkan dari Bayer Leverkusen dengan harga £115 juta, belum mampu membayar kepercayaan itu. Total pengeluaran klub untuk pemain Jerman tersebut—termasuk gaji £200 ribu per pekan—telah mencapai £128 juta, dan angka itu bisa membengkak hingga £180 juta jika kontraknya tuntas. Performa Wirtz yang jauh dari ekspektasi memicu kekhawatiran bahwa The Reds mengulangi kesalahan Darwin Nunez.
Sejak awal musim 2026/27, Liverpool di bawah asuhan Andoni Iraola tampil tidak meyakinkan. Tiga hasil imbang dan satu kemenangan menjadi cerminan ketidakseimbangan skuad. Lini serang tumpul, pertahanan rapuh, dan full-back anyar seperti Jeremie Frimpong serta Milos Kerkez belum solid. Di tengah keterpurukan itu, sorotan tertuju pada Wirtz, yang diharapkan menjadi kreator serangan namun justru sering menghilang.
Kegagalan Wirtz bukan semata soal adaptasi. Harga selangit dan statusnya sebagai bintang Bundesliga menuntut kontribusi instan. Sayangnya, ia terjebak dalam tim yang tengah mencari identitas. Manajemen Liverpool, yang ditinggalkan sporting director Richard Hughes ke Al Hilal, dianggap lambat merespons kebutuhan mendesak: gelandang pekerja keras dan pengganti sepadan untuk Mohamed Salah, yang hengkang ke Trabzonspor. Alih-alih mendatangkan pemain sesuai kebutuhan, mereka malah merekrut dua penyerang sayap kiri.
Kasus Nunez menjadi peringatan. Striker Uruguay itu didatangkan dengan harga yang saat itu memecahkan rekor klub, £84 juta, setelah mencetak 34 gol dalam 41 pertandingan untuk Benfica. Namun, di Anfield, ia lebih sering menyia-nyiakan peluang. Kini, Wirtz dianggap memiliki potensi kegagalan serupa. Meski masih berusia 23 tahun dan punya waktu untuk berbenah, kepercayaan publik mulai menipis. Sebagian penggemar bahkan menyamakan situasinya dengan Nunez: mahal, menjanjikan, tetapi tak kunjung konsisten.
"Ini bukan saatnya mencoret Wirtz. Kami membutuhkannya segera menemukan performa terbaik jika Liverpool ingin bangkit," tulis analis Football FanCast, Angus, dalam laporannya.
Dari kacamata bisnis, investasi sebesar ini tidak bisa hanya diukur dari penjualan jersey atau eksposur merek. Liverpool adalah klub dengan ambisi juara, dan kegagalan Wirtz berdampak langsung pada daya saing tim. Liga Champions musim depan menjadi target minimal. Jika gagal, pendapatan klub bisa tergerus, dan daya tarik di pasar transfer menurun.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena Wirtz menjadi cermin bagaimana klub besar Eropa kerap terjebak dalam pembelian berdasarkan reputasi, bukan kebutuhan taktik. Liverpool memiliki basis penggemar besar di Indonesia, dan kekecewaan terhadap pemain mahal tentu memengaruhi antusiasme serta pasar merchandise. Selain itu, kegagalan transfer semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Liga 1 yang mulai berani mendatangkan pemain asing mahal: penting untuk menilai kesesuaian gaya bermain, bukan sekadar nama besar.
Ke depan, manajemen Liverpool harus segera mengevaluasi peran Wirtz. Apakah ia akan diberikan kebebasan lebih sebagai playmaker, atau justru dikorbankan demi keseimbangan tim? Jika tren negatif berlanjut, bukan tidak mungkin Wirtz menyusul Nunez ke pintu keluar. Namun, masih ada harapan: dengan sisa musim yang panjang, satu momen brilian bisa mengubah segalanya. Akankah Wirtz membalikkan keadaan, atau Liverpool harus menelan kerugian besar kedua kalinya?



