Loris Karius dan Seni Bangkit dari Kegelapan Kyiv
Baca dalam 60 detik
- Loris Karius mencatatkan 22 penyelamatan dalam tiga laga Bundesliga, tertinggi di liga, dengan persentase save 84,6 persen.
- Kiper berusia 33 tahun itu mengakui sempat berpikir pensiun dini setelah dua kesalahan fatal di final Liga Champions 2018.
- Performa impresifnya memicu wacana pemanggilan ke timnas Jerman, meski ia sendiri menolak terburu-buru.

Loris Karius tidak lagi menjadi bayang-bayang malam kelam di Kyiv. Kiper Jerman itu kini menjelma sebagai salah satu penjaga gawang terbaik Bundesliga musim ini, membawa Schalke 04 kembali bersaing di kasta tertinggi setelah bertahun-tahun terpuruk.
Delapan tahun lalu, dua blunder Karius di final Liga Champions 2018 melawan Real Madrid seakan mengukir stigma yang sulit dihapus. Kekalahan 1-3 Liverpool di Kyiv menjadi titik terendah dalam kariernya. Tekanan psikologis yang muncul bukan hanya soal sepak bola; ia mengaku sempat kehilangan kegembiraan bermain dan berpikir untuk gantung sepatu. "Saat itu karier saya hanya menanjak, lalu tiba-tiba saya jatuh keras hingga dasar," ujarnya kepada Funke Media Group.
Jalan pemulihan memang panjang. Setelah dipinjamkan ke Beลiktaล, ia sempat memperkuat Union Berlin dan Newcastle United, namun tak kunjung menemukan tempat tetap. Puncaknya, Karius sempat menganggur tanpa klub. "Saya bahkan berpikir mengakhiri karier, tapi saya baru 25 tahun dan tidak mungkin hanya duduk di rumah," kenangnya. Ia sempat mencari bantuan pelatih kesehatan mental, meski akhirnya ia bangkit dengan kekuatannya sendiri.
Titik balik terjadi Januari 2025 ketika Schalke merekrutnya. Bersama klub berjuluk Royal Blues itu, Karius menjadi pilar utama promosi ke Bundesliga dengan catatan pertahanan terbaik di divisi dua. Debutnya di Bundesliga musim ini dimulai dengan kekalahan 0-3 dari Augsburg, namun responsnya luar biasa. Ia dinobatkan sebagai Man of the Match saat Schalke menahan imbang Bayern Munich 0-0, membuat Die Roten gagal mencetak gol untuk pertama kalinya dalam 59 pertandingan kompetitif. Bahkan Manuel Neuer memberi pujian: "Loris Karius sangat bagus dan pilihan tepat sebagai Man of the Match. Tiga peluang besar yang ia gagalkan jelas menjadi kunci kami tidak menang."
Konsistensi Karius berlanjut saat Schalke mengalahkan Union Berlin 3-1, di mana ia kembali menjadi pemain terbaik. Kini, namanya mulai dikaitkan dengan timnas senior Jerman. Namun, kiper 33 tahun itu tetap membumi. "Belum ada kontak. Saya tidak punya ekspektasi realistis atau tidak realistis. Saat ini saya tidak memikirkannya," ujarnya kepada wartawan. "Jika orang lain membicarakan saya, itu apresiasi atas kerja keras. Saya hanya berusaha membantu tim setiap pekan."
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Karius menjadi cermin betapa tekanan mental bisa menghancurkan karier, tetapi juga bisa dipulihkan dengan ketangguhan. Kiper Timnas Indonesia, misalnya, kerap menjadi bulan-bulanan kritik tajam usai blunder. Pengalaman Karius menunjukkan pentingnya dukungan psikologis dan kesempatan kedua. Klub-klub Liga 1 bisa belajar bahwa investasi pada kesehatan mental pemain sama pentingnya dengan aspek teknis.
Ke depan, pertanyaannya: akankah Karius mampu mempertahankan performa ini dan mewujudkan mimpi membela Die Mannschaft? Atau justru tekanan baru akan menguji ketangguhannya? Yang jelas, perjalanan Karius mengajarkan bahwa dari titik terendah, kebangkitan selalu mungkin.



