Arsenal Kejar Striker Elit, tapi Bayang-bayang Kane yang Dilepas Jadi Momok
Baca dalam 60 detik
- Arsenal gagal mendatangkan penyerang kelas dunia pada bursa transfer musim panas, membuat Kai Havertz kembali menjadi ujung tombak utama.
- Keputusan melepas Harry Kane dari akademi saat berusia sembilan tahun menjadi penyesalan terbesar The Gunners, terlebih Kane kini bersinar bersama Bayern Munich.
- Dengan ketajaman Havertz yang terbatas, Arsenal berisiko kehilangan gelar jika tidak segera menemukan solusi di lini depan.

Ambisi Arsenal untuk mendatangkan penyerang kelas dunia kembali menemui jalan buntu pada bursa transfer musim panas lalu. Kegagalan ini memaksa manajer Mikel Arteta untuk kembali mengandalkan Kai Havertz sebagai ujung tombak, meskipun performa pemain Jerman itu belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi sebagai penyerang utama.
Sepanjang jendela transfer, The Gunners dilaporkan gencar memburu Julian Alvarez. Namun, penyerang asal Argentina itu lebih memilih bertahan di Atletico Madrid setelah mimpi bergabung dengan Barcelona tak terwujud. Alhasil, Arsenal harus puas dengan skuad yang ada, dan peran Havertz pun kembali sentral.
Setahun sebelumnya, Arsenal tampak berusaha keras agar tidak lagi bergantung pada Havertz di posisi nomor sembilan. Mereka mendatangkan Viktor Gyokeres dari Sporting CP dengan harapan sang striker dapat menjadi mesin gol baru. Meski Gyokeres mencetak 21 gol di musim perdananya dan turut mengantar Arsenal meraih gelar liga pertama dalam 22 tahun, kontribusinya dinilai belum cukup untuk disebut sebagai pembelian yang sukses. Kini, Havertz kembali dipercaya mengisi lini depan, menandakan Arsenal seperti kembali ke titik awal.
Meski bukan penyerang paling tajam, Havertz menunjukkan etos kerja yang luar biasa. Arteta memuji kemampuannya dalam menghubungkan permainan dan kehadirannya di momen-momen penting. Musim ini, ia telah mencetak tiga gol dalam enam pertandingan dan menjadi salah satu pemain paling pekerja keras di Premier League. Data menunjukkan ia menempuh jarak terjauh per 90 menit (11,5 km) di antara para striker, serta mencatat sprint tertinggi kedua (17,6 per 90 menit) setelah Daizen Maeda dan Wilson Isidor.
Di balik kebutuhan Arsenal akan striker elit, muncul kisah lama yang terus menghantui: keputusan melepas Harry Kane dari akademi saat ia berusia sembilan tahun. Kane, yang kini menjadi salah satu penyerang terbaik dunia, mengungkapkan bahwa ia dilepas karena dianggap terlalu kecil. "Sulit menebak masa depan pemain di usia itu. Saya memang kecil, perkembangannya lambat. Setelah itu saya bergabung dengan Spurs di usia 11 tahun," kenang Kane dalam wawancara yang dikutip.
Kane kemudian menjelma menjadi legenda Tottenham dengan 280 gol, dan memiliki rekor impresif melawan Arsenal: 15 gol dalam 22 pertemuan. Namun, puncak kariernya justru terjadi di Bayern Munich. Sejak pindah ke Jerman, ia telah mencetak 150 gol dalam 153 pertandingan, sebuah catatan yang luar biasa. Nilainya kini diperkirakan ยฃ72 juta, turun dari ยฃ86 juta yang dibayar Bayern, tetapi performanya tetap mengerikan. Musim lalu ia mencetak 61 gol, dan di musim 2026/27 sudah mengoleksi empat gol dalam enam laga. Julukan "pemain terbaik di dunia" dari jurnalis Daniel Storey bukanlah hiperbola belaka.
"Sulit menebak masa depan pemain di usia itu. Saya memang kecil, perkembangannya lambat. Setelah itu saya bergabung dengan Spurs di usia 11 tahun." โ Harry Kane
Bagi Arsenal, penyesalan ini semakin dalam mengingat mereka sangat membutuhkan sosok seperti Kane. Meski Havertz telah menunjukkan dedikasi, ketajamannya di depan gawang masih jauh dari kata mematikan. Dalam beberapa pertandingan besar, Arteta lebih memilih Havertz ketimbang Gyokeres, termasuk di final Piala Liga dan Liga Champions. Namun, keputusan ini lebih karena kebutuhan taktis daripada solusi jangka panjang.
Kisah Kane bukan satu-satunya. Arsenal juga pernah melepas Eberechi Eze dan Michael Olise dari akademi, meski Eze akhirnya kembali pada 2025. Sementara itu, Chelsea menjadi contoh klub yang sering kehilangan bakat muda seperti Declan Rice, yang justru bersinar bersama Arsenal. Namun, kasus Kane tetaplah yang paling menyakitkan karena ia kini menjadi salah satu striker paling produktif di dunia.
Ke depan, Arsenal dihadapkan pada dilema: terus mengandalkan Havertz yang pekerja keras namun tidak klinis, atau kembali berburu striker elit di bursa transfer berikutnya. Jika gagal, mimpi meraih gelar Liga Champions dan mempertahankan dominasi di Premier League bisa sirna. Akankah Arsenal kembali menyesali peluang yang terlewat, ataukah mereka mampu menemukan sosok yang tepat untuk mengakhiri penantian panjang akan penyerang kelas dunia?



