Operasi Penyelamatan Pilot F-15 di Iran Terbongkar: 150 Pesawat, 90 Pasukan Darat, dan 339 Amunisi
Baca dalam 60 detik
- CENTCOM mengakui operasi darat pertama di Iran dalam 46 tahun untuk mengevakuasi dua pilot F-15E yang ditembak jatuh pada 3 April.
- Rekaman yang baru dibuka mengungkap skala besar: lebih dari 150 pesawat dikerahkan dan 339 amunisi digunakan dalam dua tahap penyelamatan.
- Dua pesawat angkut MC-130J senilai total Rp3,5 triliun dihancurkan sendiri oleh AS agar teknologinya tidak jatuh ke tangan Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk pertama kalinya mengakui mengerahkan pasukan darat ke wilayah Iran dalam operasi penyelamatan dua pilot pesawat tempur F-15E Strike Eagle yang ditembak jatuh pada 3 April lalu. Pengakuan ini terungkap dalam rekaman yang baru dibuka untuk publik, memperlihatkan operasi militer AS dengan skala yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya diketahui.
Laksamana Brad Cooper, Komandan CENTCOM, dalam wawancara dengan CBS menyatakan lebih dari 90 personel militer AS berada langsung di lapangan. Ia menyebut operasi tersebut sebagai kehadiran pasukan darat AS pertama yang diakui secara resmi di Iran dalam 46 tahun. Pernyataan itu menandai babak baru dalam sejarah panjang ketegangan Washington-Teheran, sekaligus mengonfirmasi bahwa operasi penyelamatan ini bukan sekadar misi pencarian dan penyelamatan rutin, melainkan operasi tempur berskala besar di wilayah musuh.
Kedua awak pesawat, yang hanya diidentifikasi dengan call sign "Alpha" dan "Bravo", berhasil melontarkan diri dan mendarat terpisah sekitar 8 kilometer. Alpha dievakuasi beberapa jam kemudian setelah AS mengerahkan 21 pesawat ke wilayah Iran. Namun, sebuah helikopter terkena tembakan senjata ringan dan sebuah pesawat A-10 yang ikut dalam pencarian juga ditembaki hingga pilotnya terpaksa melontarkan diri. Bravo, yang mengalami patah tulang punggung, lengan, dan bahu, bertahan sekitar dua hari di Iran ketika pasukan Iran melakukan pencarian intensif. Rekaman inframerah yang dirilis kemudian memperlihatkan pesawat AS menyerang pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) di sekitar posisi Bravo sebelum dua pesawat angkut khusus mendarat di landasan darurat dan helikopter MH-6 "Little Bird" diterbangkan untuk menjemputnya.
Skala operasi ini menyoroti kemampuan proyeksi kekuatan militer AS di wilayah yang selama ini dianggap sebagai zona pengaruh Iran. Penggunaan 48 tanker udara, misalnya, menunjukkan operasi ini melibatkan jarak tempuh yang sangat jauh dan memerlukan dukungan logistik besar. Sementara kehadiran 26 pesawat intelijen dan peperangan elektronik menandakan AS berusaha menekan kemampuan pertahanan udara Iran selama operasi berlangsung. Menurut analis pertahanan, operasi semacam ini tidak hanya bertujuan menyelamatkan personel, tetapi juga mengirim pesan strategis bahwa AS mampu beroperasi di jantung wilayah musuh.
"Ini adalah operasi yang jauh melampaui misi penyelamatan biasa. Ini adalah demonstrasi kemampuan untuk menembus pertahanan berlapis dan menguasai ruang udara secara sementara," ujar seorang pejabat pertahanan AS yang dikutip CBS, yang tidak disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, operasi ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Ketegangan AS-Iran yang meningkat dapat mempengaruhi harga minyak mentah dunia, mengingat Iran adalah salah satu produsen utama OPEC. Kenaikan harga minyak akan berdampak pada beban subsidi energi dan inflasi domestik, serta mempengaruhi pasar keuangan Indonesia. Selain itu, bagi investor dan pelaku pasar, eskalasi konflik di Timur Tengah sering kali memicu arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi volatilitas ini dengan memperkuat bantalan fiskal dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah operasi ini akan memicu respons lebih keras dari Iran, atau justru menjadi preseden bagi operasi serupa di wilayah lain. Dengan kata lain, apakah ini puncak ketegangan atau justru awal dari babak baru konfrontasi yang lebih terbuka?



