Solanke dan Bayang-Bayang Kane: Kegagalan Rekrutmen Terbesar Spurs Sejak Ndombele?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur kembali dihadapkan pada kritik tajam terkait kebijakan transfer mereka, kali ini menyoroti performa Dominic Solanke yang dinilai jauh dari ekspektasi.
- Kegagalan Solanke mengisi kekosongan Harry Kane mengingatkan pada kasus Tanguy Ndombele yang gagal menggantikan Mousa Dembele, menandakan pola rekrutmen bermasalah.
- Dengan Spurs belum mencetak gol di Liga Premier musim ini, tekanan semakin besar pada manajemen dan pelatih untuk segera menemukan solusi di lini serang.

Tottenham Hotspur kembali menjadi sorotan setelah performa Dominic Solanke dinilai belum mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Harry Kane, memicu perdebatan tentang efektivitas strategi rekrutmen klub. Striker yang dibeli seharga £65 juta dari Bournemouth itu dianggap sebagai downgrade terbesar sejak kasus Tanguy Ndombele yang gagal menggantikan Mousa Dembele.
Kane, yang hengkang pada 2024, meninggalkan warisan 280 gol untuk Spurs—terbanyak dalam sejarah klub dan unggul 14 gol dari legenda Jimmy Greaves. Menggantikan sosok sekaliber Kane memang bukan tugas mudah, tetapi ekspektasi tinggi terhadap Solanke justru berbanding terbalik dengan kontribusinya sejauh ini. Musim lalu, ia hanya mencetak enam gol dalam 20 penampilan akibat cedera, dan musim ini belum sekalipun mencetak gol di Liga Premier.
Perbandingan dengan Ndombele pun mencuat. Pada 2019, Spurs merekrut Ndombele seharga £55 juta—rekor klub saat itu—untuk mengisi pos yang ditinggalkan Dembele. Namun, seperti diungkapkan Jose Mourinho, Ndombele "tidak memiliki disiplin, kekuatan, atau stamina untuk menjadi gelandang". Ia dipinjamkan tiga kali sebelum akhirnya pergi gratis pada 2024. Pola yang sama terlihat pada Solanke: harga mahal, ekspektasi tinggi, tetapi performa jauh dari memadai.
Dalam laga melawan Everton akhir pekan lalu, Solanke hanya bermain 63 menit dengan 20 sentuhan dan 12 umpan sukses, tanpa satu pun tembakan atau umpan kunci. Statistik ini memperkuat argumen bahwa ia kesulitan beradaptasi dengan gaya bermain Spurs yang mengandalkan striker sebagai target man sekaligus penghubung permainan. Manajemen Spurs berharap rekrutan musim panas, Omar Marmoush, dapat memberikan solusi jangka panjang, tetapi untuk saat ini, masalah di lini depan belum terselesaikan.
"Kami harus memainkannya sebagai nomor 10. Dia tidak punya disiplin, kekuatan, atau stamina untuk menjadi gelandang," ujar Jose Mourinho tentang Ndombele, dikutip dari pernyataannya beberapa waktu lalu.
Bagi penggemar Spurs di Indonesia, situasi ini menjadi cerminan betapa pentingnya perencanaan transfer yang matang. Klub-klub Liga Premier seperti Tottenham kerap menjadi acuan dalam hal manajemen olahraga modern, namun kesalahan rekrutmen dapat berdampak besar pada performa tim. Hal ini juga relevan bagi klub-klub Indonesia yang tengah membangun skuat, bahwa membeli pemain mahal tidak menjamin kesuksesan tanpa sistem yang tepat.
Ke depan, Spurs dituntut segera menemukan formula yang tepat untuk mengoptimalkan Solanke atau beralih ke opsi lain. Jika tidak, bayang-bayang kegagalan Ndombele akan terus menghantui, dan ambisi klub untuk kembali bersaing di papan atas bisa semakin jauh dari kenyataan. Mampukah Tottenham bangkit, atau akankah sejarah terulang kembali?



