Metformin dan Harapan Panjang Umur: Uji Klinis TAME Jadi Taruhan Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis TAME akan melibatkan 3.000 partisipan non-diabetes usia 65โ79 tahun untuk menguji apakah metformin memperlambat penuaan biologis.
- Metformin bekerja melalui jalur AMPK dan mTOR, tetapi bukti pada manusia masih terbatas pada pengamatan dan model hewan.
- Para ahli menolak konsumsi metformin untuk tujuan longevity di luar uji klinis karena risiko defisiensi B12, asidosis laktat, dan efek samping gastrointestinal.

Metformin, obat generik yang telah puluhan tahun menjadi terapi lini pertama diabetes tipe 2, kini diuji sebagai kandidat utama memperlambat proses penuaan biologis manusia. Uji klinis bernama TAME (Targeting Aging with Metformin) yang dipimpin American Federation for Aging Research (AFAR) akan melibatkan 3.000 partisipan berusia 65โ79 tahun tanpa diabetes, tersebar di 14 institusi riset di Amerika Serikat. Jika pendanaan terpenuhi, studi double-blind, acak, dan terkontrol plasebo ini akan berlangsung enam tahun dengan target utama menunda kemunculan berbagai penyakit terkait usia.
Metformin bukan obat baru. Sejak lama ia digunakan untuk meningkatkan sensitivitas insulin, menekan produksi glukosa di hati, dan mengaktifkan jalur seluler AMPK yang mengatur keseimbangan energi serta metabolisme lemak dan gula. Harga terjangkau dan profil keamanannya membuatnya menarik untuk diteliti lebih jauh. Namun, penggunaan metformin untuk memperpanjang umur bersifat off-label dan belum mendapat persetujuan FDA untuk indikasi anti-penuaan.
David Cutler, dokter keluarga bersertifikat di Providence Saint Johnโs Health Center, California, menilai bukti yang ada baru sebatas observasional dan eksperimen hewan seperti cacing dan tikus. Ia menegaskan bahwa mengubah jalur biologis penuaan tidak otomatis membuktikan obat tersebut memperlambat penuaan pada manusia. Senada dengan itu, Diogo Barardo, ilmuwan longevity dan direktur R&D di NOVOS, menjelaskan metformin memengaruhi sistem pensinyalan nutrisi, perbaikan seluler, dan inflamasi. "Metformin dapat mengaktifkan AMPK dan menurunkan sinyal mTOR, yang berpotensi mendorong autophagyโdaur ulang komponen sel," ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan perubahan bakteri usus dan metabolitnya pada uji manusia belum menetapkan manfaat panjang umur.
Di kalangan pasien diabetes, metformin terbukti menurunkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan kematian. Namun, apakah manfaat itu berasal dari kontrol gula darah atau efek anti-penuaan, masih menjadi perdebatan. Cutler menekankan perlunya studi prospektif, acak, terkontrol plasebo, dan tersamar ganda untuk memastikan klaim tersebut. Ia juga melarang konsumsi metformin oleh individu sehat hanya demi longevity di luar uji klinis. "Saya tidak akan merekomendasikan orang sehat memulai metformin hanya untuk memperpanjang umur. Itu berbeda dengan penggunaannya untuk diabetes atau pencegahan pada kelompok berisiko tinggi," tegas Barardo.
Risiko metformin tidak bisa diabaikan. Efek samping umum meliputi mual dan diare. Lebih serius, defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan anemia, neuropati, bahkan penurunan kognitif. Asidosis laktat, meski jarang, bisa mengancam nyawa, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Alih-alih mengandalkan obat, Cutler dan Barardo merekomendasikan langkah yang sudah terbukti: aktivitas aerobik dan latihan kekuatan rutin, tidak merokok, pola makan bergizi, tidur cukup, serta pengelolaan tekanan darah, kolesterol, dan glukosa darah. WHO menyarankan 150โ300 menit aktivitas intensitas sedang atau 75โ150 menit intensitas tinggi per minggu, ditambah latihan penguatan otot minimal dua hari.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi diabetes tipe 2 yang terus meningkat dan beban penyakit degeneratif pada lansia. Jika TAME berhasil, metformin generik yang murah dapat menjadi intervensi kesehatan publik yang terjangkau. Namun, hingga bukti kuat tersedia, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi metformin tanpa indikasi medis. Regulator seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan perlu mengawasi klaim suplemen anti-penuaan yang marak. Pertanyaannya, apakah kita akan menunggu hasil uji klinis selama enam tahun, atau justru memperkuat gaya hidup sehat sebagai strategi utama memperlambat penuaan?



