GalaxEye Raih Paten AS untuk Teknologi Pencitraan Satelit, Sinyal Kebangkitan Industri Antariksa India
Baca dalam 60 detik
- Startup antariksa India, GalaxEye, mengantongi paten AS untuk sistem sinkronisasi sensor optik dan radar, memperkuat posisinya di pasar data observasi bumi yang bernilai miliaran dolar.
- Paten ini memungkinkan pencitraan andal dalam kondisi awan dan gelap, menjawab kebutuhan sektor keamanan, pertanian, asuransi, dan penanggulangan bencana yang terus meningkat.
- Langkah ini menegaskan ambisi India membangun industri antariksa komersial senilai US$44 miliar, sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Startup teknologi antariksa asal India, GalaxEye, baru saja mengumumkan perolehan paten dari Amerika Serikat untuk sistem yang menyinkronkan sensor optik dan radar pada satelit. Capaian ini tidak hanya memperkuat daya saing perusahaan di pasar data pencitraan bumi yang tumbuh pesat, tetapi juga menjadi penanda semakin matangnya ekosistem antariksa komersial di India.
Paten tersebut diberikan di tengah melonjaknya permintaan intelijen berbasis satelit untuk berbagai keperluan, mulai dari keamanan, pertanian, asuransi, hingga respons bencana. Menurut riset SkyQuest Technology, pasar pencitraan satelit komersial global yang bernilai US$6,55 miliar pada 2024 diproyeksikan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi US$20,15 miliar pada 2033. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar, sekaligus menjelaskan mengapa banyak pemain baru berlomba-lomba masuk ke sektor ini.
Teknologi yang dipatenkan GalaxEye memungkinkan pengambilan gambar dari lokasi yang sama secara simultan dengan presisi tinggi, meskipun tertutup awan atau dalam kondisi gelap. Ini adalah terobosan penting karena selama ini keterbatasan cuaca sering menjadi kendala utama dalam observasi bumi. Dengan kemampuan yang tidak tergantung cuaca ini, data yang dihasilkan menjadi lebih andal dan dapat digunakan untuk berbagai aplikasi kritis, seperti pemantauan bencana atau analisis lahan pertanian.
CEO GalaxEye, Suyash Singh, menegaskan bahwa teknologi ini menjadi kunci untuk melayani pasar global. โTeknologi yang dipatenkan ini memungkinkan kami melayani pasar global dan menyediakan kemampuan pencitraan yang tidak tergantung cuaca di berbagai sektor,โ ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan ambisi perusahaan untuk tidak hanya bermain di pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain kunci di kancah internasional.
Didirikan oleh para insinyur lulusan IIT Madras, GalaxEye telah mengumpulkan dana sekitar US$21 juta. Perusahaan berencana membangun konstelasi 30 satelit dalam lima tahun ke depan, didukung oleh pipa komersial yang terus bertambah dari pelanggan dalam dan luar negeri. Pada Agustus lalu, GalaxEye juga mengakuisisi StarOps, perusahaan teknik wahana antariksa yang berbasis di Bengaluru, untuk memperkuat kemampuan manufaktur dan sistem satelitnya secara internal.
Langkah GalaxEye ini tidak bisa dilepaskan dari dorongan besar pemerintah India untuk mengembangkan industri antariksa komersial. India menargetkan nilai industri antariksa komersialnya mencapai US$44 miliar dalam satu dekade, dan secara aktif mendorong perusahaan swasta untuk berinvestasi di sektor ini. Kebijakan ini telah membuka pintu bagi banyak startup untuk berinovasi, dan GalaxEye adalah salah satu contoh suksesnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran dan peluang. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kebutuhan besar akan data observasi bumi untuk pemantauan laut, pertanian, dan mitigasi bencana, sangat membutuhkan teknologi pencitraan satelit yang andal. Kerja sama dengan perusahaan seperti GalaxEye bisa menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada penyedia asing dan meningkatkan kemandirian data. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan regulasi dan infrastruktur di dalam negeri agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah GalaxEye mampu mewujudkan konstelasi 30 satelitnya, tetapi juga bagaimana negara-negara berkembang seperti Indonesia akan merespons gelombang inovasi ini. Apakah akan menjadi pasar pasif, atau justru mengambil peran aktif dalam ekosistem antariksa global yang semakin kompetitif? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi data satelit dunia.



