Tiga Tersangka Ditangkap atas Pembunuhan Mahasiswi Nepal di Fukuoka: Luka di Kepala Diduga akibat Bacokan dan Pukulan
Baca dalam 60 detik
- Polisi Jepang menahan tiga orang, termasuk rekan senegara korban, dalam kasus tewasnya Laxmi Rajbanshi yang jasadnya mengambang di Sungai Naka, Fukuoka, Agustus lalu.
- Temuan awal menunjukkan korban mengalami luka bacok dan pukulan di kepala hingga tulang terlihat, serta jejak perjuangan di kamar kosnya; ponsel korban hilang.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan pelajar asing di Jepang dan memicu diskusi tentang perlindungan serta pengawasan visa pelajar di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa internasional.

Polisi Jepang akhirnya menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus kematian seorang mahasiswi asal Nepal yang jasadnya ditemukan mengambang di Sungai Naka, kawasan Tenjin, Fukuoka, pada 19 Agustus lalu. Penangkapan ini dilakukan setelah penyelidikan intensif yang mengarah pada dugaan kuat bahwa korban, Laxmi Rajbanshi (25), menjadi korban kekerasan fatal yang melibatkan orang-orang terdekatnya.
Menurut sumber investigasi yang dikutip Kyodo, Selasa (8/9), ketiga tersangka termasuk seorang pria Nepal yang merupakan kenalan korban. Rajbanshi diketahui tiba di Jepang sekitar Mei 2023 dengan visa pelajar dan tengah menempuh pendidikan di sebuah sekolah kejuruan. Kondisi jasadnya memilukan: terdapat luka di kepala dan wajah yang diduga akibat hantaman benda tumpul dan bacokan benda tajam, beberapa di antaranya cukup dalam hingga memperlihatkan tulang. Luka serupa juga ditemukan di bagian tubuh dan tangan korban, mengindikasikan adanya perlawanan sengit sebelum ajal menjemputnya.
Temuan di tempat tinggal korban kian menguatkan dugaan kekerasan. Polisi menemukan bekas darah dan tanda-tanda perjuangan di kamar tidurnya. Sementara itu, ponsel cerdas milik Rajbanshi dilaporkan hilang, memunculkan spekulasi bahwa pelaku berusaha menghilangkan barang bukti atau motif perampokan turut bermain. Jasad korban pertama kali dilihat oleh seorang pejalan kaki sekitar pukul 05.45 waktu setempat, dan setelah dievakuasi dari sungai, Rajbanshi dinyatakan tewas di lokasi kejadian.
Konteks Indonesia: Kasus ini menjadi pengingat bagi ribuan pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Jepang. Berdasarkan data Kedutaan Besar RI di Tokyo, jumlah pelajar Indonesia di Jepang terus meningkat, mencapai lebih dari 7.000 orang pada 2024. Meski Jepang dikenal aman, insiden kekerasan seperti ini menegaskan pentingnya kewaspadaan dan jejaring sosial yang solid di kalangan pelajar asing. KBRI Tokyo pun kerap mengimbau warganya untuk melaporkan situasi yang mencurigakan dan menjaga komunikasi dengan keluarga di tanah air.
Dari perspektif hukum, kasus ini juga menguji efektivitas sistem visa pelajar Jepang yang selama ini menjadi incaran berbagai negara. Para ahli menilai bahwa peningkatan jumlah pelajar asing tidak selalu dibarengi dengan pengawasan yang memadai terhadap aktivitas mereka di luar kampus. โIni menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program kesejahteraan pelajar asing, termasuk akses mereka ke layanan konseling dan perlindungan hukum,โ ujar seorang akademisi hukum pidana di Universitas Kyushu yang enggan disebut namanya.
Polisi Fukuoka sendiri belum merilis detail lebih lanjut mengenai motif pembunuhan, termasuk apakah ada keterlibatan unsur perampokan atau perselisihan pribadi. Penyitaan ponsel korban yang hilang menjadi kunci pengungkapan kasus, karena diduga menyimpan jejak komunikasi dengan para tersangka. Sementara itu, komunitas Nepal di Jepang berduka dan mendesak proses hukum yang transparan.
Ke depan, kasus ini berpotensi memengaruhi kebijakan imigrasi Jepang yang tengah gencar menarik tenaga kerja asing. Pertanyaannya, akankah insiden seperti ini mendorong pemerintah setempat memperketat seleksi pelajar atau justru memperkuat program integrasi sosial? Bagi pelajar Indonesia yang tengah atau akan berangkat ke Jepang, kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan tetap harus dijaga, di mana pun berada.



