Yen Menguat, Harga Minyak Tertekan Konflik Iran-AS: Pasar Asia Terombang-ambing
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar yen menembus level tertinggi sejak Februari, dipicu data upah riil Jepang yang membaik.
- Ancaman serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi memicu kenaikan harga minyak mentah Brent ke level tertinggi enam pekan.
- Pelaku pasar kini menanti sinyal kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September, dengan probabilitas 60% untuk kenaikan 25 basis poin.

Pasar keuangan Asia dibuka dengan volatilitas tinggi pada Selasa (8/9) setelah yen Jepang melonjak ke level terkuatnya sejak Februari, sementara harga minyak mentah kembali terangkat oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Teluk Persia. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi investor yang tengah mencermati arah kebijakan moneter global.
Indeks Nikkei 225 sempat berfluktuasi antara zona hijau dan merah sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,2 persen. Penguatan yen hingga 0,6 persen ke level 153,51 per dolar AS menjadi perhatian utama pelaku pasar, mengingat mata uang Jepang tersebut telah berada dalam tren pelemahan selama berbulan-bulan. Di sisi lain, indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang mencatat kenaikan 0,2 persen, ditopang oleh penguatan indeks KOSPI Korea Selatan sebesar 1,2 persen.
Ancaman serangan balasan Iran terhadap kepentingan minyak dan gas AS di kawasan Teluk menjadi katalis utama kenaikan harga minyak mentah Brent yang kini bertengger di level 97,04 dolar AS per barel. Angka ini merupakan level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Analis Westpac menilai bahwa serangan balasan antara AS dan Iran yang terjadi pada akhir pekan terus memberikan tekanan pada sentimen risiko global, meskipun volume perdagangan relatif tipis akibat libur Hari Buruh di AS.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis ke level 4,788 persen. Sementara itu, indeks dolar AS justru tertekan ke level terendah dalam dua pekan, berada di kisaran 98,82. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya ekspektasi pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan 16 September mendatang, dengan probabilitas 60 persen untuk kenaikan sebesar 25 basis poin.
Dari sisi fundamental ekonomi, data yang dirilis Selasa ini memberikan sinyal beragam. Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal kedua ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal, ditopang oleh belanja bisnis yang kuat. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi analis. Yang lebih menarik, upah riil pekerja Jepang tercatat naik 2,4 persen pada Juli dibandingkan tahun lalu, merupakan kenaikan terbesar sejak Mei 2021. Capital Economics menilai bahwa penguatan upah yang konsisten ini semakin memperkuat argumen bagi Bank of Japan untuk mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang patut dicermati. Penguatan yen dan pelemahan dolar AS dapat memberikan ruang apresiasi bagi rupiah, meskipun harga minyak yang tinggi akan meningkatkan beban impor energi. Di sisi lain, potensi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi momok bagi arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia perlu tetap waspada terhadap tekanan inflasi impor dan stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, bursa saham Australia justru terkoreksi 0,6 persen setelah indeks sentimen konsumen setempat anjlok tajam pada September. Di pasar komoditas, harga emas menguat 0,5 persen ke level 4.428,23 dolar AS per ons, sementara bitcoin naik tipis ke 79.333 dolar AS dan ether menguat ke 2.498,94 dolar AS.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bank of Japan akan mengambil langkah lebih agresif dalam menaikkan suku bunga, mengingat tekanan inflasi yang mulai terlihat dari kenaikan upah. Jika hal ini terjadi, aliran dana global bisa kembali bergejolak, dan negara-negara emerging market seperti Indonesia harus bersiap menghadapi potensi capital outflow. Namun, jika The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga, justru akan ada ruang bagi penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah.



