Influencer Inggris Tewas Usai Operasi Pembesaran Alat Vital di Thailand: Bahaya Prosedur Kosmetik Tanpa Regulasi
Baca dalam 60 detik
- Igho 'Tiny' Ubiribo, 43 tahun, meninggal setelah komplikasi emboli paru pasca prosedur pembesaran penis di Thailand.
- Prosedur yang melibatkan suntikan asam hialuronat dan lidokain ini menyoroti risiko medis yang mengintai di balik tren operasi kosmetik genital.
- Kematian ini memicu kekhawatiran tentang kurangnya regulasi dan pengawasan prosedur kosmetik di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Igho 'Tiny' Ubiribo, seorang influencer dan pengusaha asal Inggris, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 43 tahun setelah menjalani prosedur pembesaran alat vital di Thailand. Peristiwa tragis ini terungkap dari hasil penyelidikan di Inggris, yang menyebutkan bahwa Ubiribo mengalami emboli paruโsuatu kondisi di mana pembuluh darah arteri paru-paru tersumbatโyang diduga kuat sebagai komplikasi fatal dari tindakan kosmetik yang dijalaninya pada Maret lalu.
Menurut laporan yang diperoleh TMZ, Ubiribo terbang ke Thailand bersama istrinya, Allen, dan menjalani prosedur di sebuah klinik yang tidak disebutkan namanya. Selama tindakan tersebut, sekitar 40 mililiter asam hialuronat dan lidokain disuntikkan ke area vitalnya. Namun, tak lama setelah prosedur, kondisinya memburuk drastis. Ia mengeluhkan nyeri dada hebat hingga akhirnya pingsan. Allen segera membawanya ke rumah sakit setempat, tetapi upaya penyelamatan nyawa sang suami tidak membuahkan hasil.
Kematian Ubiribo menjadi sorotan publik, terutama karena ia dikenal luas di media sosial dengan lebih dari 185 ribu pengikut di Instagram. Pria yang juga akrab disapa Denisi dan Ego ini kerap memamerkan gaya hidup mewahnya bersama Allen. Keduanya bahkan sempat merayakan ulang tahun pernikahan ketiga pada 2025, di mana Ubiribo menuliskan ungkapan cinta yang menyentuh untuk sang istri. Namun, di balik kemewahan itu, kini tersimpan duka mendalam yang menyisakan pertanyaan besar tentang keamanan prosedur kosmetik yang kian populer di kalangan selebritas dan influencer.
Kasus ini bukanlah yang pertama. Tren prosedur pembesaran alat vital dengan menggunakan filler asam hialuronat memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Korea Selatan, dan bahkan Indonesia. Prosedur yang tampak sederhana dan minim sayatan ini seringkali dipasarkan sebagai tindakan 'tanpa operasi' dengan waktu pemulihan singkat. Padahal, risiko komplikasi seperti infeksi, emboli, dan kerusakan jaringan sangat nyata, terutama jika dilakukan oleh praktisi yang tidak kompeten atau di klinik tanpa standar medis yang jelas.
Menurut Dr. Andri Wanananda, seorang ahli urologi di Jakarta, prosedur semacam ini memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. "Suntikan filler di area genital memerlukan pengetahuan anatomi yang mendalam. Jika salah, bisa terjadi penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada kematian jaringan atau bahkan emboli paru seperti yang dialami korban," jelasnya. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi di banyak negara, yang memungkinkan klinik-klinik abal-abal beroperasi tanpa pengawasan ketat.
Di Indonesia sendiri, prosedur pembesaran alat vital memang legal, tetapi harus dilakukan oleh dokter spesialis di fasilitas kesehatan yang terakreditasi. Namun, praktik ilegal di salon kecantikan atau klinik bawah tanah masih marak, menawarkan harga miring dan jaminan hasil instan. Hal ini tentu menjadi bom waktu bagi kesehatan masyarakat. Otoritas kesehatan seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan sebenarnya telah mengeluarkan peringatan, tetapi penegakan hukum di lapangan masih lemah.
Kematian Ubiribo menjadi pengingat pahit bahwa kecantikan dan kepercayaan diri tidak seharusnya dibayar dengan nyawa. Bagi para influencer dan masyarakat umum yang tergoda oleh tren ini, penting untuk melakukan riset mendalam, memastikan kredibilitas klinik dan dokter, serta tidak mudah percaya pada iming-iming harga murah. Regulasi yang lebih ketat dan edukasi publik yang masif juga menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Pihak keluarga, khususnya Allen, hingga kini belum memberikan pernyataan resmi. Namun, publik tentu berharap ada investigasi menyeluruh atas kematian ini, tidak hanya untuk keadilan bagi Ubiribo, tetapi juga untuk membuka mata banyak orang akan bahaya laten yang mengintai di balik prosedur kosmetik yang tampak sepele. Apakah kasus ini akan mendorong perubahan regulasi di Thailand dan negara lain, termasuk Indonesia? Hanya waktu yang bisa menjawab.



