Mukjizat di Nepal: Dua Pekerja Bertahan 9 Hari dalam Terowongan Banjir, Bagaimana Mereka Selamat?
Baca dalam 60 detik
- Dua pekerja proyek PLTA di Nepal ditemukan hidup setelah terperangkap sembilan hari di bawah reruntuhan longsor, memberikan harapan bagi pencarian korban lainnya.
- Keberhasilan penyelamatan ini berkat kantong udara yang terbentuk di dalam terowongan miring, serta kegigihan tim penyelamat yang menembus lumpur dan reruntuhan.
- Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, relevan bagi Indonesia yang juga memiliki banyak proyek serupa di daerah pegunungan.

Dua pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal yang sempat dinyatakan hilang setelah bencana banjir bandang akibat longsoran gletser pada 26 Agustus lalu, ditemukan hidup setelah terperangkap sembilan hari di dalam terowongan bawah tanah. Kabir Maharjan dan Sanjay Sah, yang bekerja di proyek Upper Trishuli 3A, dievakuasi dalam kondisi lemah namun selamat, sebuah keajaiban yang mengguncang para penyelamat dan keluarga korban.
Bencana yang dipicu runtuhnya gletser di puncak Langtang Lirung itu memicu dinding lumpur dan air yang menghancurkan belasan proyek PLTA di Lembah Trishuli. Lebih dari 1.300 orang tewas dan ribuan lainnya hilang, menjadikannya bencana banjir terburuk di Nepal dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah kehancuran itu, kisah keselamatan Maharjan dan Sah menjadi secercah harapan di tengah duka yang mendalam.
Proses pencarian yang rumit dan penuh tantangan itu diungkapkan oleh para pejabat dan insinyur yang terlibat langsung. Mereka harus berhadapan dengan lumpur setebal puluhan meter, reruntuhan yang tidak stabil, serta hujan deras yang terus menggagalkan upaya penyelamatan. Tim penyelamat bahkan harus membangun platform khusus agar alat berat bisa beroperasi, dan baru bisa memulai penggalian serius tiga hari setelah bencana.
Keberhasilan menemukan kedua korban tidak lepas dari analisis cermat terhadap desain terowongan. Shri Ram Neupane, anggota parlemen sekaligus insinyur tunnel berpengalaman, memutuskan untuk fokus pada terowongan kabel yang lebih pendek dan miring ke atas, yang dinilai lebih mungkin memiliki kantong udara. Ternyata, di sanalah Maharjan dan Sah berlindung, hanya 160 meter dari pintu keluar yang terkubur.
Selama sembilan hari dalam kegelapan, keduanya bertahan dengan cara yang berbeda. Sah mengaku terus melantunkan doa Hindu untuk menjaga keberaniannya, sementara Maharjan bertahan dengan meneguk air lumpur yang sama tempatnya tergeletak. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan saat ditemukan; Maharjan bahkan tidak mengenali istrinya saat terbangun di rumah sakit.
Kisah ini menyoroti pentingnya desain infrastruktur yang mempertimbangkan risiko bencana geologis. Di Indonesia, yang juga memiliki banyak proyek PLTA di daerah pegunungan rawan longsor, insiden ini menjadi pelajaran berharga. โKami harus memastikan bahwa setiap proyek memiliki jalur evakuasi yang jelas dan prosedur keselamatan yang ketat,โ ujar seorang analis energi yang enggan disebutkan namanya. โKejadian di Nepal menunjukkan bahwa nyawa pekerja adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.โ
Meski operasi pencarian masih berlanjut untuk menemukan puluhan pekerja lain yang diduga masih terperangkap, keberhasilan penyelamatan Maharjan dan Sah telah membangkitkan semangat tim SAR. Mereka kini percaya bahwa masih ada harapan bagi korban lainnya, meskipun waktu terus berjalan. Pertanyaannya, apakah infrastruktur energi di kawasan rawan bencana di Asia, termasuk Indonesia, sudah cukup siap menghadapi skenario terburuk seperti ini?



