Anak Krakatau Erupsi Dua Kali dalam 26 Menit, Status Waspada di Radius 3 Km
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali meningkat dengan dua letusan beruntun yang terekam seismograf pada Selasa pagi.
- Meski amplitudo letusan relatif rendah, frekuensi gempa vulkanik dangkal menunjukkan suplai magma yang masih aktif.
- PVMBG memperketat larangan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah, menyusul potensi bahaya lontaran material pijar.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memperlihatkan kegiatannya dengan dua kali erupsi yang terjadi hanya berselang 26 menit pada Selasa (8/9/2026) pagi. Rentetan letusan ini menjadi sinyal bahwa gunung api yang kerap berstatus waspada itu belum benar-benar beristirahat setelah periode meredanya aktivitas sebelumnya.
Berdasarkan catatan Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, letusan pertama terekam pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi sekitar 15 detik. Sekitar setengah jam kemudian, pukul 05.34 WIB, seismograf kembali merekam letusan dengan kekuatan sedikit lebih rendah, yakni amplitudo 44 milimeter dan durasi 10 detik. Kepala pos pantau, Suwarno, menjelaskan bahwa visual letusan tidak dapat diamati karena puncak gunung diselimuti kabut tebal.
Yang menarik perhatian para pengamat vulkanologi bukan hanya letusannya, melainkan juga rentetan gempa vulkanik yang menyertainya. Dalam rentang pengamatan enam jam sejak tengah malam, tercatat 15 kali gempa low frequency dengan amplitudo 19 hingga 44 milimeter, serta 11 kali gempa hybrid atau fase banyak yang mengindikasikan pergerakan fluida dan retakan batuan di kedalaman. Satu kali tremor menerus dengan amplitudo dominan 5 milimeter juga ikut mewarnai kegaduhan seismik tersebut.
Kombinasi antara letusan dangkal dan getaran frekuensi rendah ini kerap ditafsirkan sebagai proses pergerakan magma yang masih berlangsung di bawah kawah. Meskipun amplitudonya belum tergolong besar, akumulasi energi yang terus berlanjut berpotensi memicu letusan yang lebih signifikan bila suplai magma dari kedalaman tidak terputus. Para ahli menilai pola aktivitas seperti ini merupakan karakteristik khas Anak Krakatau yang lahir dari sisa letusan dahsyat 1883 dan tumbuh di atas patahan vulkanik yang masih aktif.
Bagi masyarakat pesisir Lampung dan Banten, kabar ini tentu mengingatkan pada tragedi tsunami Selat Sunda akhir 2018 yang dipicu longsoran bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski saat ini tidak ada tanda-tanda deformasi yang mengarah pada potensi longsor besar, pihak berwenang tetap mengimbau warga, wisatawan, dan nelayan untuk tidak mendekati area dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Suwarno menegaskan bahwa kondisi cuaca yang berawan hingga mendung dengan angin lemah mengarah ke utara dan barat laut membuat sebaran abu vulkanik sulit diprediksi secara visual.
Dari sisi kelembagaan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan gunung yang berada di Kabupaten Lampung Selatan ini. Data suhu udara di sekitar gunung tercatat antara 25,9 hingga 26,3 derajat Celsius dengan kelembapan 81-84 persen, kondisi yang relatif normal untuk kawasan tropis. Namun, status waspada yang berlaku menuntut kesiapsiagaan semua pihak, termasuk pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas jalur evakuasi dan sistem peringatan dini.
Bagi Indonesia, aktivitas Anak Krakatau bukan sekadar fenomena geologi, melainkan pengingat akan kerentanan wilayah yang dilalui jalur gempa dan gunung api teraktif di dunia. Dengan populasi yang padat di sekitar Selat Sunda, setiap peningkatan aktivitas gunung ini selalu menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan, mulai dari BNPB hingga dinas pariwisata setempat yang harus menyeimbangkan keselamatan publik dengan kepentingan ekonomi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah rentetan letusan pagi ini akan mereda seperti sebelumnya atau justru menjadi awal dari fase erupsi yang lebih intensif. Para vulkanolog akan mencermati pola kegempaan dalam beberapa hari ke depan sebagai penentu arah aktivitas gunung yang lahir dari kedalaman samudra ini. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta hanya mempercayai informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah daerah.



