Alcaraz Hadapi Tembok Amerika demi Final US Open, Shelton Siap Balas Dendam
Baca dalam 60 detik
- Carlos Alcaraz berpotensi melawan tiga petenis tuan rumah beruntun mulai dari Ben Shelton di perempat final US Open.
- Aryna Sabalenka mengincar gelar ketiga beruntun di New York, kali ini menghadapi Linda Noskova yang baru merebut Wimbledon.
- Dua duel internal Amerika di sektor putra dan putri menambah panas persaingan menuju semifinal Flushing Meadows.

Flushing Meadows memasuki fase paling krusial. Carlos Alcaraz, juara bertahan dua kali, harus melewati rintangan berat berupa tiga petenis Amerika Serikat secara beruntun jika ingin mempertahankan mahkota di US Open. Langkah pertama dimulai Selasa (8/9) dini hari WIB saat ia berhadapan dengan Ben Shelton di perempat final, laga yang diprediksi berjalan sengit karena dukungan penuh penonton tuan rumah.
Alcaraz, yang baru saja menghancurkan Tommy Paul di babak 16 besar tanpa kehilangan satu set pun, sadar betul atmosfer yang akan dihadapinya. Ia mengakui Shelton adalah pemain bertenaga besar yang pandai memanfaatkan dukungan publik. "Dia pemain yang sangat kuat. Dia menggunakan kerumunan, orang-orang di belakangnya, terutama saat bermain di kandang sendiri," ujar petenis asal Spanyol itu dalam konferensi pers.
Jika berhasil melewati Shelton, Alcaraz berpotensi bertemu Frances Tiafoe atau Alex Michelsen di semifinal. Keduanya juga petenis Amerika yang akan saling berhadapan di perempat final. Ini adalah skenario mimpi buruk bagi Alcaraz yang biasanya menjadi idola di New York, namun kali ini bisa berubah menjadi penjahat di mata penonton.
Menariknya, Alcaraz tampil meyakinkan meski baru pulih dari cedera pergelangan tangan yang membuatnya absen hampir lima bulan. Bahkan Shelton, yang berlatih bersamanya sebelum turnamen, mengaku terkesan. "Dia bermain di level yang sangat tinggi. Menurut saya, dia terlihat sangat normal—maksud saya normalnya dia—yang mengesankan setelah tidak bermain selama lima bulan," kata Shelton, yang memiliki rekor 0-3 melawan Alcaraz, termasuk kekalahan di Roland Garros 2025.
Shelton, yang tahun ini merasa servis dan pengembaliannya jauh lebih baik, menantikan duel ini. "Saya pikir saya bermain bagus di Paris, tapi sekarang saya lebih baik dalam hal toleransi pukulan dari baseline, kualitas keseluruhan, dan pergerakan. Saya belum pernah bermain melawannya di New York, dan ini posisi yang saya inginkan," tegasnya.
Di sektor putri, Aryna Sabalenka juga punya misi sejarah. Petenis Belarusia yang menjadi unggulan teratas ini belum pernah kehilangan set di New York dan ingin meraih gelar mayor ketiga beruntun di Flushing Meadows—sebuah pencapaian langka yang gagal ia raih di Australia Open tahun lalu. Lawannya di perempat final adalah Linda Noskova, unggulan keenam asal Ceko yang baru saja mengejutkan dunia dengan merebut gelar Wimbledon pertamanya.
Sabalenka mewaspadai permainan agresif Noskova. "Linda pemain hebat lainnya. Baru memenangi Wimbledon, gaya bermainnya sangat agresif. Servisnya bagus, bermain sangat cepat. Anda harus tetap rendah untuk bisa menghadapi kekuatan dan energinya," katanya. Meski unggul 2-0 dalam rekor pertemuan, termasuk kemenangan semifinal di Indian Wells tahun ini, Sabalenka enggan meremehkan lawannya.
Noskova, yang pernah menganggap keras sebagai permukaan favoritnya, justru menantikan tantangan ini. "Kami memang pernah bermain dua kali. Dua-duanya sangat berbeda. Yang terakhir di Indian Wells sangat ketat, tapi dia menang. Dia memenangkan seluruh turnamen, seperti yang dia lakukan di sini dua tahun terakhir," ujarnya. "Saya belum benar-benar menontonnya, tapi saya sangat mengenal permainannya."
Bagi penggemar tenis Indonesia, laga-laga ini menawarkan tontonan kelas dunia yang bisa disaksikan melalui platform streaming. Lebih dari itu, performa Alcaraz yang bangkit dari cedera menjadi bukti bahwa mental juara sejati tak lekang oleh waktu. Sementara Sabalenka, dengan dominasinya di lapangan keras, mengingatkan kita pada era Serena Williams yang mendominasi turnamen sejenis.
Pertanyaannya, akankah Alcaraz mampu menaklukkan tiga pemain Amerika beruntun di hadapan publik sendiri? Atau justru Shelton, Tiafoe, atau Michelsen yang akan menciptakan kejutan dan mengubur mimpi Spanyol itu? Flushing Meadows akan menjadi saksi.



