Banjir Bandang Nepal: Pencarian Korban Terus Berlanjut, Infrastruktur PLTA Terdampak Parah
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang dan tanah longsor di Nepal menewaskan puluhan orang serta merusak proyek PLTA Trishuli-3A.
- Ratusan warga mengungsi ke sekolah yang dialihfungsikan, sementara tim penyelamat masih mencari korban hilang.
- Bencana ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi Asia Selatan terhadap cuaca ekstrem, relevan bagi Indonesia.

Banjir bandang yang dipicu hujan deras di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, Nepal, telah menelan korban jiwa serta melumpuhkan aktivitas warga dan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli-3A. Tim pencarian dan penyelamatan masih bekerja keras menjangkau korban yang terjebak di terowongan proyek, sementara ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan menanti kabar anggota keluarga yang belum ditemukan.
Bencana yang melanda distrik Rasuwa dan Nuwakot ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan rumah-rumah warga, jembatan penghubung, dan fasilitas umum. Di beberapa titik, warga terpaksa menyeberangi sungai dengan kabel zip line darurat yang dioperasikan secara manual, sebuah pemandangan yang menggambarkan betapa terisolasinya komunitas terdampak. Sekolah-sekolah setempat dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara, dengan relawan membagikan biskuit kepada anak-anak yang mengungsi.
Kerusakan pada Upper Trishuli-3A menjadi sorotan utama. Proyek strategis yang memasok listrik bagi jaringan nasional Nepal ini mengalami kerusakan parah di bagian pintu masuk terowongan. Tentara Nepal dikerahkan untuk mengamankan area dan membantu proses evakuasi. Para analis memperkirakan gangguan operasional PLTA ini akan berdampak pada pasokan listrik di Kathmandu dan sekitarnya, memperlambat pemulihan ekonomi di kawasan yang masih bergulat dengan dampak pandemi.
Di tengah upaya penyelamatan, para ahli lingkungan menggarisbawahi bahwa bencana ini merupakan konsekuensi dari perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Himalaya. Pola hujan yang semakin tidak menentu membuat daerah aliran sungai yang curam seperti Bhotekoshi sangat rentan terhadap banjir bandang dan tanah longsor. Kondisi ini diperparah oleh pembangunan infrastruktur yang masif di daerah rawan bencana tanpa langkah mitigasi yang memadai.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin atas tantangan serupa. Sebagai negara kepulauan dengan banyak sungai berarus deras dan topografi pegunungan, Indonesia juga menghadapi risiko banjir bandang dan longsor yang dipicu curah hujan ekstrem. Pembangunan PLTA di daerah terpencil, seperti di Sumatra dan Kalimantan, perlu mempertimbangkan aspek ketahanan iklim dan kesiapsiagaan darurat. Pengalaman Nepal menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur vital tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu layanan dasar dan membutuhkan biaya pemulihan yang besar.
โKami kehilangan segalanya dalam semalam. Rumah, harta benda, dan kini kami hanya bisa menunggu kabar tentang saudara kami yang hilang,โ ujar seorang warga di lokasi pengungsian, seperti dikutip dari laporan lapangan.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan personel militer dan tim forensik untuk membantu proses identifikasi korban. Di kamp-kamp pengungsian, petugas medis dan psikolog mulai memberikan layanan dukungan bagi para penyintas, terutama anak-anak yang mengalami trauma. Sementara itu, warga yang rumahnya rusak mulai mengumpulkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan dari puing-puing.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana Nepal dan negara-negara lain di kawasan ini dapat membangun kembali infrastruktur yang lebih tangguh. Apakah proyek Upper Trishuli-3A akan direkonstruksi dengan standar yang lebih tinggi, atau justru menimbulkan perdebatan tentang kelayakan pembangunan di zona rawan bencana? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah kebijakan energi dan penanggulangan bencana di Asia Selatan, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dalam merancang strategi mitigasi yang lebih adaptif.



