Bandara Soekarno-Hatta Kembali Beroperasi, Ribuan Penumpang Masih Menanti Kepastian Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Setelah tiga hari lumpuh akibat abu vulkanik Anak Krakatau, bandara utama Jakarta dan empat bandara lain di Jawa resmi beroperasi kembali Selasa pagi.
- Krisis penerbangan ini telah mengganggu hampir 3.000 jadwal dan membuat lebih dari 340.000 penumpang terlantar, memaksa maskapai memutar otak untuk memulihkan jadwal.
- Ancaman abu vulkanik masih membayangi, dengan dua bandara lain belum dibuka dan potensi gangguan cuaca yang bisa kembali melumpuhkan konektivitas udara.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang serta empat bandara lain di Jawa resmi membuka kembali operasionalnya pada Selasa (8/9) pagi, setelah nyaris tiga hari lumpuh akibat hujan abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau. Kementerian Perhubungan mengonfirmasi pemulihan ini melalui unggahan resmi di Instagram, menandakan berakhirnya fase darurat yang sempat melumpuhkan ribuan jadwal penerbangan dan membuat ratusan ribu calon penumpang terlantar di sejumlah bandara.
Letusan Anak Krakatau yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Jakarta itu terjadi pada Sabtu (5/9), memuntahkan lava pijar dan kolom abu setinggi ribuan meter. Material vulkanik tersebut terbawa angin hingga memasuki ruang udara sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatera, memaksa delapan bandara menghentikan operasi sejak akhir pekan. Data Kementerian Perhubungan mencatat hampir 3.000 penerbangan domestik dan internasional terpaksa dibatalkan atau ditunda, memengaruhi lebih dari 340.000 penumpang di puncak kekacauan.
Keputusan membuka kembali bandara diambil setelah evaluasi terhadap sebaran abu vulkanik menunjukkan tren membaik. Selain Soekarno-Hatta, bandara yang kembali beroperasi adalah Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur yang melayani penerbangan sipil dan militer, serta Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat. Satu bandara kecil di Sumatra Selatan telah lebih dulu beroperasi pada Senin pagi, sementara dua dari delapan bandara yang sempat ditutup masih belum dibuka hingga Selasa.
Meski operasional mulai pulih, tantangan besar masih menanti maskapai dan otoritas bandara. Ribuan penumpang yang telah menunggu berhari-hari kini harus diakomodasi ulang ke jadwal penerbangan yang tersedia. Pada Senin pagi saja, lebih dari 240 penerbangan di Soekarno-Hatta terpaksa dibatalkan atau ditunda, memengaruhi hampir 30.000 penumpang. Singapore Airlines, misalnya, telah membatalkan 18 penerbangan pada Senin dan satu penerbangan lain pada Selasa pagi, sementara enam penerbangan lainnya dijadwalkan ulang ke sore hari.
Kementerian Perhubungan telah menyiapkan enam bandara alternatif sebagai lokasi pengalihan bagi pesawat yang semula dijadwalkan mendarat di Jakarta. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi penumpukan penumpang dan mempercepat distribusi logistik selama masa krisis. Namun, para pengamat penerbangan menilai pemulihan penuh masih membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga hari mengingat kompleksitas penjadwalan ulang dan keterbatasan slot penerbangan.
Anak Krakatau, yang berarti "Anak dari Krakatau", berada di Selat Sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatra. Gunung ini muncul dari laut pada awal abad lalu di kaldera yang terbentuk setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Aktivitas vulkaniknya yang sporadis kerap menjadi ancaman serius bagi penerbangan dan wilayah pesisir. Pada 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menewaskan 429 orang dan mengungsikan ribuan lainnya.
Bagi Indonesia, negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbesar di dunia, kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur transportasi terhadap bencana geologi. Otoritas penerbangan sipil perlu mempertimbangkan sistem peringatan dini yang lebih terintegrasi dan prosedur evakuasi yang lebih efisien untuk meminimalkan dampak di masa mendatang. Pertanyaannya, apakah pemulihan kali ini akan berjalan mulus atau justru kembali terganggu oleh aktivitas vulkanik yang belum sepenuhnya mereda?



