Abu Anak Krakatau Kian Meluas: Jakarta hingga Bengkulu Terpapar, Penerbangan Siaga
Baca dalam 60 detik
- BBMKG Wilayah II memantau dua lapisan sebaran abu dengan arah berbeda, mengancam kualitas udara dan jarak pandang di sebagian Jawa dan Sumatra.
- Lapisan abu hingga 15,24 km berpotensi mengganggu rute penerbangan, mendorong penerbitan SIGMET dan penutupan sementara sejumlah bandara.
- Masyarakat di wilayah terdampak diimbau memakai masker dan memantau informasi resmi karena pergerakan abu dapat berubah sewaktu-waktu.

Jakarta, 7 September 2026 – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meluas pada Senin pagi, memaksa otoritas meteorologi memperbarui peringatan dini untuk wilayah udara dan daratan di bagian barat Indonesia. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II mencatat material vulkanik itu bergerak dalam dua lapisan atmosfer dengan arah yang berbeda, membentang dari Lampung hingga Jawa Barat, bahkan menembus Samudra Hindia.
Pembaruan yang dirilis pukul 05.00 WIB menunjukkan abu pada lapisan rendah hingga 4,57 kilometer bergerak ke arah tenggara hingga barat laut, menyentuh sebagian Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Sementara itu, partikel yang terangkat lebih tinggi—mencapai 15,24 kilometer—terbawa angin ke barat daya hingga barat, melintasi Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten. Kondisi ini membuat wilayah terdampak membentang sangat luas, tidak hanya di daratan tetapi juga di perairan Selat Sunda.
Yang menjadi perhatian utama para ahli adalah dampak ganda dari sebaran ini. Di permukaan, abu halus berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, mengganggu aktivitas warga di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Di ketinggian, material vulkanik menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan. Partikel abu yang masuk ke mesin jet dapat meleleh akibat suhu tinggi, lalu menempel pada komponen dan mengganggu aliran udara—risiko yang tidak bisa disepelekan.
Menanggapi hal itu, BBMKG telah menerbitkan peringatan Significant Meteorological Information (SIGMET) untuk mendukung keselamatan penerbangan, khususnya di Flight Information Region (FIR) Jakarta. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa pembaruan SIGMET terbaru mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat. "Perbedaan arah ini wajar karena angin di setiap lapisan atmosfer tidak selalu sama," ujarnya, menekankan bahwa material vulkanik yang sama dapat mengikuti jalur berbeda tergantung pada ketinggiannya.
Pada 6 September, sejumlah bandara sempat ditutup sementara akibat kondisi ini, dan prakiraan untuk periode 03.30–06.30 WIB tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kecepatan angin yang membawa abu diperkirakan sekitar 5 knot atau 9 kilometer per jam, dengan wilayah potensi terdampak meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Selat Sunda, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten.
Fenomena ini mengingatkan kembali pada kompleksitas penanganan bencana geologi di Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, telah beberapa kali menunjukkan aktivitas erupsi yang berdampak luas. Yang membedakan kali ini adalah cakupan sebaran yang mencapai dua pulau besar secara bersamaan—Jawa dan Sumatra—akibat perbedaan arah angin di tiap lapisan atmosfer.
BMKG sendiri telah mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Lembaga itu juga mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Masyarakat di daerah yang terpapar abu diimbau untuk terus mengikuti pembaruan resmi dari BMKG dan Badan Geologi/PVMBG, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa lama aktivitas vulkanik ini akan berlangsung dan apakah pola sebaran abu akan berubah seiring dinamika angin musiman. Dengan musim pancaroba yang sedang berlangsung, arah angin bisa berubah cepat, membuat peta sebaran abu harus diperbarui hampir setiap jam. Bagi industri penerbangan dan warga di pesisir barat Sumatra serta utara Jawa, kewaspadaan tetap menjadi kata kunci.



