Tragedi di Jepang Picu Perdebatan: Bolehkah Anjing Diajak Mendaki Gunung?
Baca dalam 60 detik
- Insiden maut di Ngarai Nishizawa, Yamanashi, menewaskan seorang pendaki yang berusaha menyelamatkan anjingnya yang jatuh ke air terjun, memicu evaluasi aturan hewan peliharaan di jalur pendakian.
- Jepang tidak memiliki larangan hukum untuk membawa anjing ke gunung, namun beberapa kawasan seperti taman nasional justru kesulitan menerapkan pembatasan karena kewenangan terbatas.
- Fenomena ini membuka diskusi tentang perlunya regulasi yang lebih jelas di Indonesia, mengingat tren mendaki dengan hewan peliharaan juga mulai meningkat di kawasan seperti Gunung Gede Pangrango.

Kematian seorang pendaki wanita di sebuah ngarai indah dekat Tokyo pada Mei lalu memicu kembali perdebatan tentang keamanan membawa hewan peliharaan ke jalur pendakian. Peristiwa tragis di Ngarai Nishizawa, Prefektur Yamanashi, ini menyoroti celah regulasi yang masih menganga di Jepang, di mana tidak ada undang-undang yang secara tegas melarang atau mengatur praktik tersebut.
Korban dilaporkan jatuh ke kolam air terjun saat mencoba menolong anjingnya yang terpeleset melewati rantai pengaman. Menurut kepolisian setempat, wanita itu memasuki ngarai pada 7 Mei bersama dua rekannya dan seekor anjing. Di dekat air terjun, anjing tersebut menerobos pembatas dan jatuh ke air, dan korban yang berusaha menyelamatkannya ikut terpeleset hingga akhirnya tewas.
Ngarai Nishizawa sendiri dikenal memiliki jalur yang sempit dengan beberapa bagian yang hanya bisa dilalui satu orang secara berurutan. Terdapat pula tanjakan curam yang mengharuskan pendaki berpegangan pada rel, sementara di beberapa titik, aliran sungai deras hanya berjarak beberapa meter di bawah rantai pengaman. Kondisi ini membuat kehadiran hewan peliharaan menjadi risiko tambahan, baik bagi pemiliknya maupun pendaki lain.
Asosiasi pemandu lokal sebenarnya telah lama mengimbau agar pengunjung tidak membawa hewan peliharaan ke ngarai tersebut. Setelah insiden, asosiasi pariwisata kota juga memasang peringatan di situs webnya tentang potensi bahaya yang tidak terduga, seperti hewan yang jatuh dari jalur atau mengganggu pendaki lain. Pemerintah prefektur bahkan telah memasang papan pengumuman di pintu masuk, namun mereka mengaku tidak bisa memberlakukan larangan penuh karena kawasan itu berada di dalam taman nasional.
โJalurnya sempit, dan anjing bisa mengejutkan pendaki lain,โ ujar seorang wanita berusia 70-an yang mengelola restoran di dekat lokasi. โSaya berharap prefektur dan kota memberlakukan aturan yang lebih ketat.โ Namun, hingga kini, upaya yang dilakukan baru sebatas imbauan, bukan sanksi.
Sementara itu, di tempat lain, anjing justru menjadi bagian dari pengalaman mendaki. Di Gunung Mitake setinggi 929 meter di Ome, Tokyo barat, Kuil Musashi-Mitake di puncak menawarkan pemberkatan untuk anjing, sambil mengingatkan pemiliknya untuk memperhatikan pengunjung lain yang mungkin tidak nyaman dengan hewan. Kereta gantung Mitake Tozan Railway bahkan mempromosikan gunung tersebut sebagai destinasi ramah hewan, dengan menyediakan area khusus untuk hewan peliharaan di dalam kabin dan mewajibkan anjing diikat.
โKami telah menerapkan semua langkah keselamatan yang memungkinkan,โ kata seorang perwakilan perusahaan kereta api. โKami juga meminta orang yang bepergian dengan hewan peliharaan untuk mematuhi aturan dan mempertimbangkan kenyamanan orang lain.โ Pendekatan ini menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik, konflik antara keselamatan dan keinginan untuk beraktivitas dengan hewan peliharaan sebenarnya bisa dijembatani.
Shunji Takekawa, ketua Asosiasi Pemandu Gunung Jepang, menekankan bahwa pendaki seharusnya menghormati permintaan otoritas setempat untuk tidak membawa hewan peliharaan, dan mempertimbangkan kondisi bahkan di tempat yang tidak memiliki pembatasan. โOrang tidak seharusnya membawa hewan peliharaan ke gunung yang pengunjungnya diminta untuk tidak membawanya,โ katanya. โBahkan jika tidak ada pembatasan khusus, sebaiknya jangan membawa mereka ke tempat yang sangat ramai sehingga keselamatan bisa menjadi masalah.โ
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana tren mendaki gunung dengan hewan peliharaan mulai menjamur, terutama di kawasan seperti Gunung Gede Pangrango atau Gunung Bromo. Namun, regulasi yang ada masih bersifat parsial dan seringkali tidak konsisten antara satu taman nasional dengan lainnya. Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango misalnya, aturan tentang hewan peliharaan masih abu-abu, sementara di beberapa gunung berapi seperti Rinjani, larangan membawa hewan peliharaan sudah diterapkan namun penegakannya lemah.
Ke depannya, Indonesia bisa belajar dari Jepang bahwa solusi terbaik bukanlah larangan total, melainkan manajemen risiko yang matang, seperti menyediakan jalur khusus, area istirahat untuk hewan, dan sosialisasi etika mendaki. Pertanyaannya, apakah pengelola taman nasional di Indonesia siap berinvestasi pada infrastruktur semacam itu, atau justru memilih jalan pintas dengan melarang total? Jawabannya akan menentukan apakah tren mendaki bersama hewan peliharaan bisa berjalan aman dan nyaman bagi semua pihak.



