Jejak Digital di Tablet Menguak Pembunuh Mozza: Kronologi Rayuan hingga Pembuangan Jasad di Jurang Tol
Baca dalam 60 detik
- Ayah korban menemukan percakapan mesra antara Mozza dan tersangka di akun media sosial yang masih tertaut di perangkat tablet.
- Tersangka berulang kali mengajak korban ke indekosnya, namun sempat ditolak karena korban fokus mempersiapkan ujian masuk universitas.
- Kasus ini menggarisbawahi pentingnya literasi digital dan pengawasan orang tua terhadap aktivitas daring remaja di Indonesia.

Singgih Gunarsa, ayah dari Mozza Axillia Gunarsa (17), akhirnya menemukan titik terang dalam kasus hilangnya putrinya yang berujung pada pengungkapan pembunuhan. Berawal dari keingintahuan untuk membuka tablet milik Mozza, Singgih berhasil mengakses akun media sosial korban dan menemukan percakapan yang memberatkan tersangka, Mahendra Very Dwi Anggara (22). Temuan ini menjadi kunci polisi dalam mengungkap peristiwa tragis yang terjadi pada 25 Juni 2025 lalu.
Singgih menuturkan, ia sempat kesulitan membuka aplikasi media sosial di tablet karena akunnya sudah tidak tertaut. Namun, setelah mereset kata sandi email yang digunakan Mozza, ia berhasil mengakses Instagram dan TikTok korban. "Saya ubah semua password emailnya untuk kepentingan pribadi, lalu install aplikasinya dan bisa melihat isi DM serta chat dengan teman-teman Mozza, termasuk dengan tersangka," ujarnya saat ditemui di kediamannya, Senin (7/9/2026).
Dari percakapan tersebut, terungkap bahwa Very kerap merayu Mozza untuk datang ke indekosnya di Candisari, Kota Semarang. Awalnya, Mozza sempat memenuhi ajakan itu satu kali, namun kemudian komunikasi berlanjut melalui WhatsApp. "Dia berulang kali disuruh main ke kos, tapi Mozza menolak karena sedang mempersiapkan ujian masuk Undip," jelas Singgih. Penolakan itu terjadi hampir dua hingga tiga kali sebelum akhirnya Mozza luluh setelah ujiannya selesai.
Pada 25 Juni 2025, Mozza akhirnya menyetujui ajakan Very untuk bertemu di kos tersebut. Namun, pertemuan itu berakhir nahas. Berdasarkan pengakuan Very, ia membekap Mozza hingga tewas setelah terlibat cekcok karena cemburu. Jenazah korban kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dibuang di jurang Jalan Tol Jangli, Kota Semarang. Pelaku juga menjual sepeda motor korban dan membuang ponsel serta kartu identitas korban di lokasi terpisah untuk menghilangkan jejak.
Singgih mengaku tidak pernah mengenal pelaku sebelumnya. Ia hanya mengetahui keberadaan Very setelah polisi menunjukkan foto tersangka. "Saya tidak pernah bertemu, hanya lihat fotonya. Informasi yang saya dapat, mereka baru berkenalan sekitar satu bulan sebelum kejadian," tuturnya. Penemuan kerangka Mozza di jurang pada Jumat (4/9) menjadi awal terbongkarnya kasus ini, setelah Very ditangkap di Blora pada Kamis (3/9).
Kasus ini menyoroti pentingnya pendampingan orang tua terhadap aktivitas digital anak. Singgih mengaku baru mengetahui keberadaan akun media sosial Mozza setelah menggali perangkatnya. "Saya tidak menyangka ada percakapan seperti itu," katanya. Di era di mana interaksi sosial banyak berpindah ke ruang digital, pengawasan tanpa mengurangi privasi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di Indonesia.
Polisi masih mendalami motif di balik pembunuhan ini, termasuk dugaan cemburu yang disebut sebagai pemicu. Sementara itu, keluarga korban berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku menerima hukuman setimpal. Pertanyaan yang menggantung: apakah kasus ini akan mendorong evaluasi lebih ketat terhadap keamanan pertemuan daring yang berujung pada pertemuan fisik, khususnya bagi remaja?



