Dari Kanazawa ke Jakarta: Fenomena Es Kristal Jepang yang Mengubah Standar Koktail Premium
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan es Jepang Kuramoto Ice mengekspor es bening premium ke bar-bar dunia, dengan penjualan dua kali lipat sejak 2019.
- Teknik pembekuan lambat 48-72 jam menghasilkan es yang lebih padat dan lambat mencair, meningkatkan kualitas koktail.
- Fenomena ini mendorong bar-bar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mengadopsi standar es premium demi pengalaman minum yang lebih baik.

Di tengah hiruk-pikuk industri koktail global, sebuah komoditas tak terduga tengah naik daun: es batu kristal dari Jepang. Kuramoto Ice, perusahaan berusia seabad di Kanazawa, telah mengubah cara bar-bar mewah di dunia menyajikan minuman, dengan mengekspor sekitar 900 kilogram es setiap tahunnya ke Singapura saja. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan pergeseran standar kualitas yang mulai terasa hingga ke Indonesia.
Es yang diproduksi Kuramoto Ice bukanlah es batu biasa. Melalui proses pembekuan lambat yang memakan waktu 48 hingga 72 jam, air dibekukan secara bertahap sambil terus diaduk untuk menghilangkan gelembung udara. Hasilnya adalah es yang sepenuhnya transparan, dijuluki 'junpyo' dalam bahasa Jepang, yang diyakini lebih padat dan mencair lebih lambat dibandingkan es konvensional. Teknik ini, yang sebenarnya berasal dari Amerika Serikat, nyaris punah di negara asalnya karena dianggap tidak efisien, namun justru dilestarikan dan disempurnakan di Jepang.
Kazuhiko Kuramoto, generasi kelima yang memimpin perusahaan, menuturkan bahwa kunci dari es berkualitas adalah kesabaran. "Kami meluangkan waktu untuk membekukan air secara perlahan, menjaganya tetap bergerak... Itulah cara kami mendapatkan es yang baik," ujarnya. Dedikasi ini berbuah manis: sejak memulai ekspor pada 2019, total penjualan Kuramoto Ice meningkat lebih dari dua kali lipat. Setiap kubus es premium ini dihargai hingga 200 yen (sekitar Rp20.000), dan diminati bar-bar dari Amerika Serikat hingga Australia.
Fenomena es premium ini tidak hanya soal estetika. Para bartender profesional menilai bahwa kualitas es secara langsung memengaruhi rasa koktail. Shingo Miyachi, bartender di bar Hilton dekat Tokyo, menjelaskan bahwa es yang mencair terlalu cepat akan mengencerkan minuman dan merusak aftertaste. "Es sangat berdampak besar pada rasa koktail," katanya. "Jika mencair, itu terutama mempengaruhi sisa rasa setelah Anda menyesapnya." Karena itu, keterampilan menangani es dianggap esensial bagi bartender Jepang, yang kerap memulai pelatihan dengan belajar memecahkan es secara presisi.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Meskipun belum ada bar yang tercatat mengimpor es langsung dari Jepang, sejumlah bar premium di Jakarta dan Bali mulai melirik teknik pembuatan es jernih sebagai pembeda. Konsultan minuman di Jakarta, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa adopsi es berkualitas tinggi dapat meningkatkan standar industri koktail lokal. "Konsumen Indonesia semakin cerdas dan menghargai detail kecil seperti bentuk dan kejernihan es," ujarnya. Namun, biaya impor yang tinggi dan keterbatasan pasokan menjadi kendala utama.
Kuramoto sendiri menyadari dampak lingkungan dari mengirim es melintasi ribuan kilometer, namun ia bersikukuh bahwa produk kecil seperti es memiliki jejak karbon yang relatif rendah. Ia bermimpi menembus pasar Amerika sejak mengunjungi Las Vegas lebih dari satu dekade lalu, saat menyaksikan koktail mahal disajikan dengan es berkualitas rendah yang cepat mencair. Kini, mimpinya mulai terwujud, dan pengaruhnya menjalar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah es premium akan menjadi standar baru, melainkan bagaimana industri lokal dapat beradaptasi. Apakah bar-bar Indonesia akan mulai memproduksi es jernih sendiri dengan teknik serupa, atau justru menjadi pasar potensial bagi eksportir seperti Kuramoto? Yang jelas, es yang dulu dianggap sepele kini menjelma menjadi simbol kemewahan dan presisi dalam dunia koktail.



