Jepang Ubah Inspeksi Tiang Listrik Jadi Game Smartphone, Warga Dibayar untuk Foto
Baca dalam 60 detik
- Game PicTree membayar pemain untuk memotret tiang listrik di Jepang timur, membantu NTT mendeteksi kerusakan infrastruktur.
- Lebih dari 470.000 tiang telah difoto sejak Juni, namun wilayah pegunungan dan pesisir masih minim partisipasi.
- Insentif dinaikkan hingga 300 yen di delapan prefektur untuk mendorong cakupan area yang sulit dijangkau.

Di tengah upaya modernisasi infrastruktur, Jepang meluncurkan pendekatan tak lazim: mengubah inspeksi tiang listrik menjadi permainan ponsel yang memberi imbalan uang kepada warga. Inisiatif bernama PicTree ini tidak hanya membantu perusahaan telekomunikasi memantau tiang-tiang yang menua, tetapi juga merangkul partisipasi publik dalam pemeliharaan jaringan.
PicTree, yang dikembangkan oleh Digital Entertainment Asset Inc. (DEA) bersama sejumlah perusahaan, beroperasi di wilayah Tohoku dan area lain di Jepang timur. Pemain diminta memotret tiang listrik yang ditandai pada peta, lalu mengirimkan gambar tersebut ke NTT ME Inc., anak perusahaan NTT East yang bertanggung jawab atas perawatan tiang. Foto-foto itu digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan sejak dini, sehingga inspeksi manual yang selama ini memakan banyak tenaga dapat dikurangi.
Menurut NTT ME, terdapat sekitar 5,65 juta tiang listrik yang dikelola di Jepang timur. Setiap tiang harus diperiksa secara berkala, dan proses ini membutuhkan sumber daya manusia yang besar. Dengan melibatkan warga, perusahaan berharap dapat menekan biaya operasional sekaligus mempercepat identifikasi masalah. Atsushi Obokata dari departemen manajemen fasilitas NTT ME menyatakan, "Memeriksa tiang listrik memerlukan jumlah sumber daya manusia yang sangat besar. Kami berharap dapat membangun inisiatif baru ini dengan bantuan warga dalam memelihara dan mengelola infrastruktur komunikasi."
Mekanisme permainannya cukup sederhana: pemain mengunduh aplikasi, memilih salah satu dari tiga tim, lalu memotret tiang yang ditentukan. Setiap foto yang valid—termasuk tampak keseluruhan tiang dan nomor identifikasinya—memberikan hadiah senilai 15 yen (sekitar Rp1.600). Hadiah tersebut bisa ditukar dengan voucher Amazon atau barang lainnya. Musim reguler dimulai pada 6 Juni, dan hingga akhir Agustus, 470.000 dari 810.000 tiang yang menjadi target telah berhasil difoto.
Namun, partisipasi tidak merata. Wilayah metropolitan Tokyo dan sekitar stasiun kereta menunjukkan tingkat penyelesaian tinggi, sementara area pegunungan dan pesisir masih tertinggal. Untuk mengatasi kesenjangan ini, panitia menaikkan insentif di delapan prefektur—Akita, Aomori, Fukushima, Iwate, Miyagi, Yamagata, Nagano, dan Niigata—menjadi 50 hingga 300 yen (sekitar Rp5.300 hingga Rp32.000) per tiang. Kebijakan ini berlaku mulai 29 Agustus hingga 15 November.
Hideaki Kurihara, pejabat DEA yang terlibat dalam pengembangan PicTree, menambahkan, "Dengan menggabungkan fotografi tiang listrik dengan proyek lain, kami berharap dapat menghubungkannya dengan promosi pariwisata dan revitalisasi komunitas lokal." Pendekatan ini memang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga menciptakan keterlibatan sosial. Pemain yang berpartisipasi di daerah terpencil secara tidak langsung membantu memetakan wilayah yang jarang dikunjungi, yang bisa menjadi data berharga bagi pengembangan pariwisata.
Bagi Indonesia, model partisipasi publik semacam ini menawarkan pelajaran menarik. Negara dengan ribuan pulau dan infrastruktur telekomunikasi yang tersebar sering kali kesulitan melakukan inspeksi rutin, terutama di daerah terpencil. Jika Jepang mampu memanfaatkan "crowdsourcing" untuk pemeliharaan tiang listrik, bukan tidak mungkin konsep serupa dapat diadaptasi untuk memantau menara BTS atau jaringan listrik di Indonesia. Namun, tantangan seperti literasi digital, insentif yang menarik, dan kepercayaan publik harus menjadi pertimbangan utama.
Ke depan, keberhasilan PicTree akan diukur dari sejauh mana model ini mampu menekan biaya inspeksi tanpa mengorbankan akurasi. Pertanyaan yang muncul: apakah insentif finansial cukup untuk mendorong partisipasi berkelanjutan, atau justru menciptakan ketergantungan? Jepang tampaknya tengah menguji batas antara permainan, tanggung jawab sosial, dan efisiensi industri—sebuah eksperimen yang layak diawasi oleh negara-negara berkembang yang menghadapi masalah serupa.



