Eropa Percepat Peluncuran Roket Ariane 6: Saingi SpaceX demi Kedaulatan Antariksa
Baca dalam 60 detik
- ArianeGroup tengah mengkaji peningkatan frekuensi peluncuran roket berat Ariane 6 sebagai respons atas potensi kemacetan jadwal penempatan satelit global.
- Badan Antariksa Eropa (ESA) mempertimbangkan percepatan laju peluncuran tahunan untuk roket Ariane 6 dan Vega-C guna memperkuat kemandirian Eropa di sektor antariksa.
- Keputusan investasi untuk menaikkan kapasitas produksi propelan padat menjadi kunci dalam rencana akselerasi ini, yang akan dibahas dalam KTT antariksa Prancis pekan ini.

Eropa bergerak untuk memperkuat posisinya di industri antariksa global dengan mengkaji peningkatan frekuensi peluncuran roket berat Ariane 6. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan ketergantungan Eropa pada pihak ketiga, terutama SpaceX milik Elon Musk, untuk mengakses orbit.
Christophe Bruneau, Chief Executive Officer ArianeGroup, mengungkapkan bahwa perusahaannya tengah berdiskusi dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) dan rantai pasokan yang mencakup sekitar 600 perusahaan. Diskusi ini bertujuan untuk mengevaluasi kemungkinan peningkatan laju peluncuran Ariane 6, yang sejauh ini telah menjalani sembilan misi sejak debutnya pada 2024.
Langkah ini dipicu oleh pernyataan ESA pada pekan lalu yang mempertimbangkan percepatan laju peluncuran tahunan untuk roket Ariane 6 dan Vega-C dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini untuk mengantisipasi potensi kemacetan dalam jadwal penempatan satelit, seiring dengan meningkatnya permintaan layanan antariksa komersial dan institusional.
Arianespace, anak perusahaan ArianeGroup yang bertanggung jawab atas pemasaran dan operasional peluncuran dari Guyana Prancis, menargetkan laju stabil sembilan hingga sepuluh peluncuran Ariane 6 per tahun mulai 2027. Namun, untuk mencapai target yang lebih ambisius, ArianeGroup perlu memastikan pasokan propelan padat yang cukup, sebuah tantangan utama yang sedang dikaji.
Bruneau menjelaskan bahwa kendala utama terletak pada penentuan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan pasokan propelan padat bagi roket berat Eropa tersebut. Hal ini menjadi bahan diskusi intensif dengan ESA dan para mitra industri, mengingat investasi ini akan menentukan kapasitas produksi dan jadwal peluncuran di masa depan.
Kekhawatiran akan ketergantungan Eropa pada pihak ketiga semakin mengemuka setelah serangkaian kemunduran yang dialami Eropa. Sejak 2014, ketika negara-negara Eropa sepakat mengembangkan Ariane 6 untuk merespons persaingan yang semakin ketat, proyek ini mengalami penundaan berulang. Akibatnya, Eropa sempat bergantung pada SpaceX untuk beberapa peluncuran, sebuah situasi yang ingin diakhiri dengan percepatan ini.
David Cavailloles, CEO Arianespace, menegaskan bahwa semakin banyak pihak di Eropa yang menyadari bahwa antariksa merupakan sektor strategis yang tidak boleh bergantung pada pihak ketiga untuk memastikan akses ke orbit. Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma di kawasan tersebut, yang kini menempatkan kemandirian antariksa sebagai prioritas politik dan ekonomi.
Langkah ini juga sejalan dengan KTT antariksa yang diselenggarakan Prancis pada 9-10 September, yang bertujuan mempromosikan kemandirian Eropa di bidang antariksa. KTT ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen politik dan menggalang dukungan bagi industri antariksa Eropa.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi strategis. Sebagai negara yang tengah mengembangkan program antariksa, termasuk rencana peluncuran satelit dan penguatan kapasitas riset, Indonesia dapat belajar dari upaya Eropa dalam membangun kemandirian teknologi. Selain itu, meningkatnya jumlah peluncuran roket di dunia dapat membuka peluang kerja sama, baik dalam hal peluncuran satelit maupun transfer teknologi.
Ke depan, keputusan investasi yang diambil Eropa akan menjadi penentu utama dalam persaingan global di industri antariksa. Apakah Eropa mampu mengejar ketertinggalannya dari SpaceX dan memastikan akses orbit yang mandiri? Pertanyaan ini akan terjawab dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan realisasi rencana akselerasi yang tengah dikaji.



