Lawes Desak Inggris Buka Seleksi untuk Pemain di Luar Negeri
Baca dalam 60 detik
- Mantan kapten Inggris, Courtney Lawes, menyerukan perubahan kebijakan seleksi yang selama ini membatasi pemain yang bermain di klub domestik.
- Kritik ini muncul di tengah banyaknya talenta Inggris yang berkarier di Prancis, seperti Jack Willis, yang dinilai layak memperkuat Timnas.
- Perdebatan ini berpotensi mengubah arah kebijakan rugby Inggris dan bisa menjadi contoh bagi negara lain, termasuk Indonesia.

Courtney Lawes, mantan kapten tim nasional rugby Inggris dengan 105 caps, secara terbuka mendesak federasi untuk mengubah kebijakan seleksi yang selama ini hanya memprioritaskan pemain yang bermain di klub domestik. Menurutnya, pembatasan tersebut justru menghambat perkembangan tim dan membuat Inggris kehilangan talenta terbaiknya yang berkarier di luar negeri.
Lawes, yang kini berusia 37 tahun dan baru saja menandatangani kontrak satu tahun dengan Sale Sharks setelah dua musim membela Brive di liga kedua Prancis, kembali masuk dalam radar seleksi. Namun, pelatih Steve Borthwick memintanya untuk membuktikan diri di Premiership terlebih dahulu. Hal yang sama juga berlaku untuk Joe Marchant, rekan setimnya di Sale yang sebelumnya bermain di Stade Francais.
Kebijakan yang membatasi pemain di luar negeri memang telah lama menjadi perdebatan di Inggris. Di satu sisi, kebijakan ini memudahkan federasi dalam mengontrol pemain dan menjaga kualitas liga domestik. Namun, di sisi lain, banyak pemain Inggris yang justru bersinar di liga asing, seperti Jack Willis yang menjadi pemain terbaik di Prancis musim lalu. Selain Willis, ada juga nama-nama seperti Kyle Sinckler, Manu Tuilagi, dan Billy Vunipola yang berkarier di Prancis.
Lawes menilai bahwa untuk memajukan rugby Inggris, federasi harus berani mengambil langkah berbeda. "Saya paham alasan mereka membatasi pemain di luar negeri, tapi saya tidak yakin itu akan berhasil," ujarnya. "Yang penting adalah pemain terbaik tersedia untuk dipilih. Jika kita ingin permainan ini berkembang dan ditonton lebih banyak orang, kita harus berubah. Saya tidak melihat alasan untuk membatasi diri."
Perbandingan dengan negara lain menunjukkan variasi kebijakan. Selandia Baru, Prancis, dan Irlandia cenderung memilih pemain yang bermain di liga domestik. Sementara Afrika Selatan, Australia, dan Skotlandia justru banyak mengandalkan pemain yang bermain di luar negeri. Inggris tampaknya berada di persimpangan, dan Lawes berharap federasi berani mengambil langkah maju.
Bagi Indonesia, perdebatan ini memberikan pelajaran berharga. Meskipun rugby belum menjadi olahraga populer di tanah air, kebijakan seleksi yang inklusif dan berbasis pada kualitas pemain dapat menjadi kunci untuk mengembangkan bakat-bakat muda Indonesia yang mungkin bermain di liga luar negeri. Dengan semakin banyaknya pemain diaspora yang berkarier di Eropa atau Asia, federasi rugby Indonesia perlu mempertimbangkan untuk membuka peluang seleksi tanpa memandang lokasi klub.
Lawes sendiri mengaku tidak menyangka akan kembali membela Inggris setelah memutuskan pensiun pada 2023. "Saya pikir semua opsi terbuka saat itu: bertahan di Brive, kembali ke Inggris, atau pensiun. Tapi saya masih bisa bergerak cepat, jadi mengapa tidak?" ujarnya. Ia juga menilai Inggris memiliki skuad yang berbakat dan seharusnya bisa tampil lebih konsisten, meski mengakui ada masalah internal yang perlu dibenahi.
Dengan kembalinya Lawes ke pentas domestik, sorotan kini tertuju pada Borthwick dan federasi. Apakah mereka akan mempertimbangkan kembali kebijakan seleksi yang selama ini dipertahankan? Atau justru Lawes harus puas hanya bermain di klub dan tidak lagi mengenakan jersey Inggris? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Lawes, tetapi juga arah rugby Inggris dalam menghadapi turnamen-turnamen mendatang.



