Bernie Ecclestone Kembali Berurusan dengan Petugas Bandara: Senapan untuk Lomba Tembak Disita di Portugal
Baca dalam 60 detik
- Mantan bos F1 Bernie Ecclestone dicegat petugas di Bandara Tires, Portugal, karena membawa senapan tanpa dokumen impor yang sah.
- Ecclestone membantah ditangkap, menyebut pemeriksaan berlangsung sekitar satu jam dan senjatanya disita untuk kepentingan penyelidikan.
- Insiden ini merupakan kali kedua dalam tiga tahun terakhir Ecclestone menghadapi masalah hukum terkait kepemilikan senjata di bandara internasional.

Legenda Formula 1, Bernie Ecclestone, kembali menjadi sorotan setelah petugas kepolisian dan bea cukai Portugal mencegatnya di sebuah bandara kecil di Cascais, Senin (10/2/2025). Pria berusia 95 tahun itu kedapatan membawa senapan yang rencananya akan digunakan untuk mengikuti kompetisi menembak sasaran tanah liat. Meski sempat dikabarkan ditangkap, Ecclestone dengan tegas membantah dan menyebut kejadian itu sekadar pemeriksaan rutin terkait kelengkapan dokumen senjata api.
Ecclestone, yang memimpin ajang balap jet darat selama hampir empat dekade hingga 2017, tiba di Aerodrome Tires dari Swiss. Dalam keterangannya kepada Press Association, ia mengaku langsung mendatangi petugas dan menanyakan apa yang bisa ia bantu. "Mereka meminta informasi tentang senapan yang saya bawa," ujarnya. Pemeriksaan berlangsung sekitar satu jam, dan pada akhirnya senapan tersebut harus diserahkan karena Ecclestone tidak memiliki dokumen resmi untuk mengimpor senjata ke Portugal.
Kejadian ini menjadi yang kedua kalinya bagi Ecclestone dalam urusan senjata di bandara. Pada 2022, ia sempat ditangkap di Brasil karena membawa pistol secara ilegal saat hendak menaiki pesawat pribadi menuju Swiss. Saat itu, ia dijatuhi hukuman membayar denda sebesar 6.000 real Brasil atau setara Rp17 juta. Dua insiden serupa dalam kurun waktu tiga tahun menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana seorang tokoh sekaliber Ecclestone bisa berulang kali lalai dalam urusan administrasi kepemilikan senjata lintas negara.
Menurut analis hukum internasional, kasus Ecclestone menyoroti kompleksitas regulasi senjata api di Eropa. Meskipun Swiss dan Portugal sama-sama anggota Zona Schengen, aturan impor senjata untuk keperluan olahraga tetap memiliki ketentuan ketat yang sering kali berbeda antara satu negara dengan negara lain. "Banyak warga negara ketiga yang kerap salah kaprah menganggap dokumen kepemilikan senjata dari satu negara berlaku otomatis di negara lain," ujar seorang pengamat hukum yang enggan disebut namanya. Padahal, setiap perpindahan senjata melintasi perbatasan, bahkan di dalam kawasan Schengen, tetap memerlukan izin khusus.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi kepemilikan dan pengangkutan senjata api, terutama bagi warga negara asing yang kerap melintasi perbatasan. Indonesia sendiri memiliki aturan yang sangat ketat mengenai impor senjata, dan setiap pelanggaran dapat berujung pada proses hukum yang panjang. Meski kasus Ecclestone tidak berdampak langsung pada Tanah Air, publikasi luas mengenai insiden ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi para kolektor senjata atau atlet menembak Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri untuk bertanding.
Ecclestone sendiri mengaku tidak mengalami perlakuan kasar dari petugas Portugal. Ia bahkan menyebut mereka "sangat membantu" dan menegaskan bahwa dirinya tidak dalam keadaan ditahan. "Saya datang untuk berkompetisi, bukan untuk berbuat masalah," katanya. Namun, insiden ini tetap mencoreng reputasi pria yang pernah membangun imperium F1 dari nol. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah ini sekadar kelalaian administratif belaka, atau ada kelengahan yang lebih sistemik dari seorang tokoh yang terbiasa hidup dengan kebebasan penuh? Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Ecclestone akan lebih berhati-hati di masa mendatang atau justru kembali terjerat masalah serupa.



